Pertanyaan:

Dalam sebuah hadits shahih dikatakan,

الشُّؤْمُ فِي ثَلاَثَةٍ: فِي الْمَرْأَةِ وَالْفَرَسِ وَالدَّارِ

anggapan sial itu ada pada tiga hal: wanita, kuda dan rumah” (HR. Muslim 2225, At Tirmidzi 2824, Ahmad 2/152, dari sahabat Ibnu Umar radhiallahu’anhuma)

dalam riwayat lain dengan lafadz yang lebih ringkas,

إِنَّمَا الشُّؤْمُ فِي ثَلاَثَةٍ

anggapan sial itu ada pada tiga hal” (HR. Al Bukhari 2/53, Muslim 2225)

namun terdapat hadits-hadits lain yang secara mutlak menafikan thiyarah (anggapan sial) dan syu’um (anggapan sial), yaitu dalam sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam,

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ

tidak ada penyakit menular, tidak ada thiyarah, dan tidak ada hammah” (HR. Al Bukhari 3/156, Muslim 2220)

apakah mungkin jika dikatakan bahwa hadits-hadits yang mutlak itu boleh di-taqyid dengan tiga hal tadi. yaitu mengamalkan kaidah membawa makna mutlaq kepada muqayyad jika hukum dan sebabnya sama. Sehingga thiyarah dan syu’um itu dinafikan secara mutlak kecuali tiga hal yang disebut dalam hadits? Atau mungkin bukan demikian masalahnya? Bagaimana kita mengkompromikan hal ini? baarakallahu fiikum

Syaikh Muhammad Ali Farkus menjawab:

الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاةُ والسلامُ على مَنْ أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصَحْبِهِ وإخوانِه إلى يوم الدِّين، أمّا بعد:

Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu diperhatikan dua hal penting:

  1. Masalah mutlaq dan muqayyad itu terkadang terjadi pada ‘amr (perintah) dan terkadang terjadi pada khabar (kabar). Namun, salah satu syarat dari kaidah “membawa makna mutlaq kepada muqayyad” adalah hal ini tidak diterapkan pada an nahyu (larangan) dan an nafyu (penafian). Jika ada mutlaq-muqayyad dalam hal larangan dan penafian, maka ini masuk dalam pembahasan al ‘umum, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnul Qayyim (Badai’ul Fawaid, 3/249), Al Ba’li (Al Qawa’id Wal Fawaid Al Ushuliyyah, 283), Asy Syaukani (Irsyadul Fuhul, 166) dan para ulama yang lain
  2. Pertentangan makna zhahir dalam nash-nash syar’i dicari solusinya dengan menggunakan metode: jama’, nasakh, atau tarjih.

Dan dalam pembahasan ini nash-nash syar’i  yang sudah disebutkan penanya, menafikan syu’um secara mutlak, semisal dalam sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ

tidak ada penyakit menular, tidak ada thiyarah

dengan demikian ini bukan tempatnya kaidah “membawa makna mutlaq kepada muqayyad“,  sebagaimana sudah kami jelaskan.

Di sisi lain, sejatinya tidak ada pertentangan antara hadits-hadits yang dibawakan kecuali dalam benak penanya saja. Karena masih memungkinkan untuk mengkompromikan nash-nash tersebut dan mencocokkan maknanya. Komprominya adalah, bahwa orang Jahiliyah dahulu memandang bolehnya thiyarah dalam tiga hal tersebut. Sebagaimana hal ini telah shahih dalam hadits ‘Aisyah radhiallahu’anha, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ: الطِّيَرَةُ مِنَ الدَّارِ وَالْمَرْأَةِ وَالْفَرَسِ

“Dahulu orang Jahiliyah berkata: ‘thiyarah itu ada padawanita, kuda dan rumah ‘” (HR. Ahmad 6/246, Al Hakim 2/521, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 2/689)

kemudian Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menjelaskan penafian atas keyakinan tersebut dalam hadits Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhuma:

إِنْ يَكُ مِنَ الشُّؤْمِ شَيْءٌ حَقٌّ فَفِي الْمَرْأَةِ وَالْفَرَسِ وَالدَّارِ

“jika syu’um itu terjadi pada sesuatu, maka akan terjadi pada wanita, kuda dan rumah” (HR. Muslim 2225, Ahmad 2/85)

maknanya, andaikan syu’um itu benar ada, maka akan terjadi pada tiga hal tersebut. Mafhum hadits ini artinya syu-um itu tidak ada dalam tiga hal itu dan tidak ada sama sekali dalam sesuatu apapun. Mafhum hadits ini juga dikuatkan dengan mantuq hadits-hadits yang menafikan syu’um dan thiyarah (dua hal ini sama maknanya), sebagaimana sudah disampaikan, yaitu dalam hadits marfu’:

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ

tidak ada penyakit menular, tidak ada thiyarah, dan tidak ada hammah

makna ini dikuatkan lagi dengan hadits Mikhmar bin Mu’awiyah An Namiri radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لاَ شُؤْمَ، وَقَدْ يَكُونُ الْيُمْنُ فِي ثَلاَثَةٍ: فِي الْمَرْأَةِ وَالْفَرَسِ وَالدَّارِ

syu’um itu tidak ada, dan terkadang al yumnu itu ada pada tiga hal: wanita, kuda dan rumah” (HR. At Tirmidzi 2824, Ibnu Majah 1993, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 4/564)

Di sini Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menafikan syu’um secara mutlak dan menjadikan tiga hal, yaitu wanita, kuda, dan rumah sebagai hal-hal yang menjadi sumber al yumnu yang artinya keberkahan, lawan dari syu’um.

Adapun hadits yang lafadznya singkat,

إِنَّمَا الشُّؤْمُ فِي ثَلاَثَةٍ

anggapan sial itu ada pada tiga hal

ini merupakan peringkasan hadits yang dilakukan oleh para perawi hadits, sebagaimana diterangkan oleh para ulama pakar hadits (lihat Fathul Baari 6/61, ‘Aunul Ma’bud 10/419, Silsilah Ash Shahihah 1/4/183).

والعلمُ عند اللهِ تعالى، وآخرُ دعوانا أنِ الحمدُ للهِ ربِّ العالمين، وصَلَّى اللهُ على نبيِّنا محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، وسَلَّم تسليمًا.

 

Sumber: http://ferkous.com/site/rep/Bq126.php