Pertanyaan:

Jika memang madzhab ahlussunnah dalam menyikap masalah fitnah yang terjadi di antara para sahabat Nabi adalah diam dan tidak mengungkit-ungkitnya, lalu mengapa Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah menyebutnya dalam kitab Al Bidayah Wan Nihayah?

Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Ar Rajihi hafizhahullah menjawab:

Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan peristiwa yang terjadi antara para sahabat Nabi itu dalam rangka tadwin at taarikh (membukukan sejarah). Dan di sana beliau menyebutkan para sahabat berselisih itu atas dasar ijtihad mereka. Dan diantara mereka itu ada yang ijtiihadnya benar ada juga yang salah. Bagi yang ijtihadnya benar mereka mendapat dua pahala, bagi yang ijtihadnya salah mendapat satu pahala. Nash yang menunjukkan adanya perselisihan diantara para sahabat Nabi adalah firman Allah Ta’ala:

وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِن فَاءتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya.  Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat bughat (pemberontakan) terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat bughat itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al Hujurat: 9)

Mayoritas sahabat Nabi berpihak pada ‘Ali radhiallahu’anhu. Mereka berdalil dengan ayat yang mulia ini bahwa Ali adalah khalifah ar rasyid yang telah dibai’at, sedangkan penduduk Syam bersama Mu’awiyah telah berbuat bughat (pemberontakan). Hal ini juga ditunjukkan oleh hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tentang ‘Ammar (yang terbunuh dalam peristiwa ini, pent.) :

تقتله الفئة الباغية

ia akan terbunuh oleh segolongan orang yang melakukan bughat” (HR. Al Bukhari 447, Muslim 2915)

ini menunjukkan bahwa dalam hal ini ‘Ali lebih dekat kepada kebenaran daripada Mu’awiyah radhiallahu’anhu.

Namun Mu’awiyah radhiallahu’anhu dan para penduduk Syam mereka demikian karena berijtihad, yaitu mereka menuntut (segera) ditebusnya darah ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu’anhu (maksudnya dicari dan dieksekusi pembunuhnya, pent.)*. Maka mereka mendapatkan pahala ijtihad, namun tidak mendapatkan pahala ijtihad yang benar. Sedangkan ‘Ali radhiallahu’anhu mereka mendapatkan pahala ijtihad dan pahala ijtihad yang benar.

Dan dalam peristiwa tragis yang terjadi di tengah umat tersebut, ada sebagian sahabat yang mengganggap ini sebagai perkara yang musykil, mereka tidak tahu pihak mana yang ijtihadnya benar dan pihak mana yang ijtihadnya salah, sehingga membuat mereka tidak ikut campur dalam musibah ini. Diantara para sahabat yang tidak berpihak pada kedua belah pihak ini adalah Abdullah bin Umar dan Salamah bin Akwa’. Mereka menyingkir ke daerah gurun pinggiran meninggalkan kedua pihak yang berselisih. Bahkan Salamah bin Akwa’ menikah di sana dan berkata:

أذن لي النبي صلي الله عليه وسلم  في البدو

“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengizinkan saya untuk menikah dengan wanita badwi (daerah gurun pinggiran)”.

Diantaranya juga Usamah bin Zaid dan segolongan para sahabat yang lain, mereka merasa musykil terhadap peristiwa tersebut. Namun jumhur sahabat Nabi yang telah jelas mana yang benar bagi mereka, hingga mereka pun berpihak pada ‘Ali radhiallahu’anhu.

Dengan semua kenyataan ini, bagaimana pun juga, wajib bagi kita untuk menundukkan pandangan kita terhadap perselisihan yang terjadi diantara para sahabat Nabi radhiallahu’anhum. Demikian juga, wajib bagi setiap Muslim untuk ridha kepada semua sahabat Nabi. Karena mereka adalah generasi terbaik umat ini. Mereka merupakan orang-orang yang dipilih oleh Allah utuk mendampingi Nabi-Nya dan kekasih-Nya, Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Mereka juga orang-orang yang telah memikul agama ini di leher-leher mereka. Mereka telah mencurahkan seluruh apa yang mereka miliki, bahkan jiwa mereka yang suci, mereka serahkan demi membela agama Allah Ta’ala. Mereka juga yang telah menyebarkan Islam di dunia dari timur hingga barat.

Ya Allah semoga ridha-Mu senantiasa tercurah kepada para sahabat Nabi semuanya dan kumpulkanlah kami bersama mereka di dalam rahmat-Mu.

Sumber: http://shrajhi.com/Fatawa/ID/948

* adapun ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu berpandangan menunda hal tersebut dan lebih mengutamakan untuk menstabilkan kondisi umat yang sedang kacau karena merajalelanya kaum munafikin, khawarij dan musuh-musuh Islam.