Ini sejatinya hanya tulisan ringan, makanya saya tempatkan dalam kategori ‘Ceritaku‘. Yaitu tentang kasus di sebagian pengajian sunnah, dimana ketika ada peserta pengajian yang baru pertama kali mengikuti kajian atau baru mengenal manhaj yang haq, dia merasa terasing, merasa terpinggirkan karena peserta kajian yang notabene banyak mas-mas berjenggot atau mbak-mbak yang berjilbab besar atau bercadar terkesan mengambil jarak dan batas terhadapnya.

Kebanyakan orang yang mendengar kasus demikian serta-merta menyalahkan para ikhwah peserta kajian kemudian divonis akhlaknya kurang bagus, kaku, eksklusif, invidualis, dll. Saya kira ini adalah kesimpulan yang terburu-buru dan terlalu prematur. Karena sebetulnya dalam hal ini banyak sisi yang harus kita lihat. Bahkan saya katakan, saking luasnya cakupan masalah ini, sepertinya sangat menarik jika dibuat karya tulis ilmiah untuk bidang sosial atau psikologi. Tapi sayangnya saya bukan ahli ilmu sosial atau psikologi,

Baik, jadi menurut saya masalah ini perlu ditinjau dari 3 sisi:

  1. Sisi peserta pengajian yang sudah lama (PL)
  2. Sisi peserta pengajian yang baru (PB)
  3. Sisi budaya

Dari Sisi Peserta Pengajian Lama

Masalah Akhlak

Kita asumsikan PL ini adalah peserta aktif pengajian sunnah yang sudah mengenal sunnah cukup lama. Sudah paham dasar-dasar aqidah dan akhlak. Tentu saja sebagai seorang Muslim, terlebih lagi orang yang berpegang pada sunnah Nabi, akhlak mulia itu sebenarnya cerminan dari aqidah dan manhaj seseorang. Setidaknya berikut ini akhlak yang semestinya dipraktekkan oleh PL terhadap sesama peserta pengajian:

  1. Menebar salam
  2. Memasang wajah cerah
  3. Banyak tersenyum
  4. Berlapang-lapang dalam majelis
  5. Membantu kesulitan saudaranya
  6. dll

Insya Allah PL sudah sedikit-banyak menerima dan memahami materi-materi seputar akhlak dalam berbagai pengajian. Namun, yang jadi pertanyaan, sejauh mana PL ini menerapkan materi tersebut? Bagi sebagian orang, ini mungkin pertanyaan krusial, karena poin inilah yang kerap jadi faktor utama penyebab terasingnya PB dalam pengajian. Mengenai jawabannya, saya serahkan pada anda saja. Namun kalau saya boleh mengungkapkan pendapat, alhamdulillah setelah menjadi PL di beberapa pengajian di daerah Yogyakarta dan Jabotabek, saya melihat secara overall PL sudah menerapkan akhlak-akhlak tersebut. Sepanjang yang saya temu, mereka adalah orang yang ringan menebar salam, murah senyum, tidak pasang tampang garang, sederhana, tidak belagu. Walaupun tentunya kita mesti senantiasa introspeksi diri dalam masalah akhlak ini, terutama al faqir yang menulis tulisan ini.

Jika akhlak PL sudah baik secara overall, lalu apa yang menyebabkan PB terasing?

Masalah Psikologis

Kita perlu melihat PL sebagai manusia. Mereka berbeda-beda secara psikologis. Tidak semua orang punya kecerdasan interpersonal yang bagus. jadi kita perlu sadari, bahwa diantara PL itu ada yang sifatnya mudah akrab, ada yang periang, ada yang hangat, tapi ada pula yang pendiam, ada yang malu-malu, ada yang introvert, ada yang kurang PD, dll. Tidak bisa kita tuntut semuanya jadi orang periang atau hangat, karena ini pembawaan psikologis. Jadi poinnya di sini, jika PL sudah salam, sudah senyum, sudah pasang wajah cerah, tapi kebetulan dia pemalu dan pendiam sehingga minim interaksinya dengan PB, apakah PL salah? saya kira tidak.

Saya yakin dalam setiap sesi pengajian pasti ada PL yang kecerdasan interpersonal yang bagus, mudah akrab, dan hangat. Namun berapa persen probabilitasnya dia menyambangi si PB ini ditengah peserta yang lain?

Memahami Kondisi

Terkadang PB berharap untuk disapa dan diakrabi oleh PL, padahal ia datang ketika pengajian sudah mulai. PB yang tidak biasa mengikuti pengajian mungkin menganggap wajar jika mengobrol atau bicara ketika pengajian. Padahal PL yang sudah paham, memang sengaja tidak berakrab-akrab, hanya sekedar salam dan senyum saja, kemudian diam, dalam rangka menerapkan adab majelis ilmu. Padahal PB selama jangka waktu misalnya 1 jam pengajian, karena tidak ada yang mengajak bicara, dia merasa dicuekin. Nah, repot khan!

Atau kondisi pengajian yang penuh sesak sebagaimana umumnya pengajian di Jabotabek. Sehingga sebelum pengajian peserta sibuk berlomba mencari tempat, dan setelah pengajian mereka sibuk mencari jalan keluar (!?). Dalam keadaan demikian mereka membawa anak dan istri, akibatnya, sangat sedikit waktu beramah-tamah.

Sebagian PB muslimah, yang terkadang belum berhijab syar’i, mengeluhkan mengapa PL muslimah banyak yang tidak membuka cadarnya di area akhwat, sehingga menyulitkan mereka untuk interaksi dan membuat PB merasa sungkan dan seram (?!). Yah, ini mungkin manusiawi, karena berada di suasana dan model orang yang tidak biasa ditemui setiap hari, ia jadi merasa beda sendiri, takut dan sungkan. Namun ini juga perlu kita pahami kondisinya bahwa terkadang ada beberapa alasan PL tidak membuka cadar di area akhwat. Bisa jadi area akhwat tidak tertutup rapat dan masih ada celah terlihat oleh peserta laki-laki, atau alasan lainnya yang perlu kita toleransi. Tidak semestinya su’uzhan bahwa mereka eksklusif, tidak mau menyapa ‘orang baru’, tidak mau bergaul dengan yang belum bercadar, atau sangkaan lainnya. Karena tidak ada dalil yang mewajibkan membuka cadar jika di hadapan para wanita. Ini perkara yang mubah-mubah saja.

Sisi Peserta Pengajian Yang Baru

Masalah Psikologis

PB pun harus ditinjau secara psikologis. Tentu sangat manusiawi jika seseorang baru hadir di tengah-tengah orang ramai, lalu muncul rasa sungkan, minder, takut. Sebagaimana karyawan baru di hari pertama kerjanya.

Lalu si PB ini, apakah dia orang yang periang, mudah akrab, berani, mudah berkenalan, ataukah dia itu pendiam, introvert, pemalu, tidak PD, kurang pandai bicara? Jika ternyata pendiam, introvert, pemalu maka sudah jelaslah mengapa dia terasing di komunitas pengajian. Tidak hanya di komunitas pengajian, bahkan hampir mungkin di komunitas manapun ia mudah terasing.

Kemudian perlu dipertanyakan juga apakah ia cukup proaktif untuk menjalin keakraban dalam komunitas pengajian? Rasanya kurang adil kalau PB menuntut PL menciptakan suasana akrab dan hangat sementara PB sendiri bersikap pasif.

Masalah Tekad

Memang kita perlu sadari bahwa PB datang ke pengajian dengan intensi yang bermacam-macam. Ada yang hanya sekedar diajak teman, ada yang sekedar ingin tahu, ada yang iseng, ada pula yang benar-benar bertekad ingin mendapat ilmu, ingin mendapat teman yang shalih, ingin berubah jadi lebih baik, dll. Nah, PB yang memiliki tekad ini lah biasanya lebih cepat membaur dan akrab dengan komunitas pengajian. Mungkin ia akan merasa terasing pada pertemuan pertama, namun karena tekadnya yang kuat, ia tidak putus asa. Pertemuan kedua, ketiga, dan seterusnya ia jalani hingga akhirnya pun mendapatkan keakraban dan kehangatan di tengah komunitas.

Sisi Budaya

Mengobrol Ketika Pengajian

Masyarakat kita sudah sangat terbiasa dengan pengajian-pengajian tradisional yang biasanya ‘halal’ untuk mengobrol di tengah pengajian. Adapun bagi PL, mereka memahami hal tersebut adalah hal yang tercela.

Lalu mengapa PL tidak mengajak ngobrol PB sebelum atau sesudah pengajian? Ya idealnya begitu. Namun terkadang PL memiliki cara pandang sendiri. Pengajian adalah saat yang tepat untuk men-charge ruhiyah dengan bertemu teman-teman yang shalih, bercengkrama dengan sesama mereka, ketika pada hari-hari kerja kita jarang menemui orang-orang yang istiqamah dalam beragama. Karena PL pun bukan orang-orang hebat yang suci yang tidak butuh nasehat dan teguran. Jadi saat-saat senggang ketika pengajian mereka ingin bercengkerama dengan sesama PL dengan harapan mungkin ada nasehat dan teguran yang masuk. Sehingga dalam kondisi ini PL nampak ‘bergerombol’ dan menyisihkan PB.

Adapun, jika ada PL yang di waktu senggang sengaja mencari-cari siapa PB yang datang hari ini, lalu menyambanginya, menyapanya lalu mengajak ngobrol, masya Allah mumtaz sekali ikhwah yang satu ini.

Pengajian Yang Tidak Heboh

Masyarakat kita sudah sangat terbiasa dengan pengajian-pengajian umum yang biasanya ‘heboh’, ustadz-nya melucu, ada nyanyi-nyanyi, pakai dumplak dung-dung, peserta wanita bisa bebas memandang peserta laki-laki dan juga sang ustadz. Adapun di pengajian sunnah, semua itu tidak ada, PB pun jadi merasa aneh. Ketika ada satu saja peserta pengajian yang tidak berakhlak baik, langsung PB mengeluarkan statement ketidak-nyaman terhadap komunitas pengajian sunnah. Padahal mungkin peserta yang lain baik-baik saja sikapnya. Statement-nya tadi hanya limpahan atas rasa ‘tidak biasa’, aneh dan canggung terhadap pengajian sunnah.

Pengajian Yang terpusat

Saya ambil daerah Jabotabek sebagai sampel, dimana pengajian-pengajian diselenggarakan secara terpusat. Biasanya di satu daerah yang luas hanya ada beberapa pengajian dan itu pun di masjid-masjid besar. Imbasnya, setiap acara pengajian menjadi penuh sesak. Ratusan atau ribuan orang datang. Walhasil, setiap kali datang ke pengajian, kita akan menemui orang yang hampir selalu berbeda. Si Fulan yang kita kenal di pertemuan kemarin, entah berada dimana di tengah kerumunan peserta. Tidak ada waktu untuk bercengkrama, sebelum pengajian peserta sibuk berlomba mencari tempat duduk, dan setelah pengajian mereka sibuk mencari jalan keluar (!?). Suara anak kecil menangis bersahutan, para istri kebingungan mendeteksi posisi suaminya. Tidak sempat berakrab-akrab, begitu ustadz mengucap salam, peserta langsung bergegas bubar. Begitu realitanya.

Berbeda dengan pengalaman di kota Yogyakarta dimana majelis ilmu tersebar menjadi clustercluster kecil, mudah dicari. Sehingga peserta kajian pun tidak terlalu banyak. Sebelum pengajian kita masih bisa mengobrol sampai mana materi kajian kemarin, menanyakan kabar dan bentuk ramah-tamah lainnya. Demikian juga selepas kajian, tidak ada ketergesaan. Bahkan kadang sang ustadz bisa beramah-tamah dengan peserta pengajian, menyapa peserta yang baru ikut, menanyakan peserta yang membolos kajian.

Kita lihat juga pada beberapa harokah Islam, mereka memiliki sistem liqo yang jumlah pesertanya sedikit untuk masing-masing kelompok liqo. Walaupun metode liqo ini sarat akan pelanggaran syar’i, namun ternyata ini efektif sekali menjalin keakraban para pesertanya, baik sesama anggota kelompok liqo maupun dengan kelompok liqo yang lain.

Kesimpulan

Bagi PL. Mengenal Islam yang sesuai sunnah adalah nikmat terbesar setelah nikmat Islam itu sendiri. Maka, orang-orang yang alhamdulillah sudah mengenal manhaj yang haq memiliki beban untuk mengajak saudaranya seiman untuk memahami Islam yang hakiki ini. Maka tentunya, jika mereka sudah sudi mampir di pengajian-pengajian sunnah, apapun intensi mereka, maka PL hendaknya merangkul mereka. Hadirnya mereka di sana setidaknya merupakan indikasi bahwa mereka sedang mencari hidayah. Bukankah Allah menegur Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam surat ‘Abasa karena mengabaikan seorang buta yang sedang mencari hidayah? Dan bukankah kita tahu bersama betapa besarnya pahala bagi orang yang menjadi sebab hidayah bagi orang lain? Maka PL punya beban untuk terus meningkatkan akhlak mulia dan memperbaiki cara berdakwahnya dan lebih proaktif merangkul orang sehingga tidak menjadi orang yang justru merusak dakwah sunnah dan membuat orang-orang lari dari manhaj yang haq.

Bagi PB. Sebenarnya kita tidak bisa berharap banyak pada PB. Namun kita tidak bisa pungkiri bahwa adanya kasus ‘terasing di pengajian’ sehingga ia menjadi antipati terhadap pengajian itu juga ada andil dari si PB sendiri. Ia mungkin pendiam, kurang kuat tekadnya, kurang pro-aktif mencari teman, terlalu mudah men-judge akhlak orang, terlalu mudah suuzhan, tidak terbiasa dengan suasana pengajian sunnah, dan kurangnya pemahaman tentang adab majelis ilmu. PB tentu tidak bisa menganggap PL layaknya customer service yang wajib memberi layanan padanya, sehingga kalau layanannya tidak menyenangkan maka PB layak kecewa.

Bagi pengamat. Dalam memahami masalah ini, perlu melihat berbagai sisi, tidak tepat 100% menyalahkan akhlak PL.

Ini sekedar curhatan pribadi saja, menurut anda bagaimana?

Iklan