Jika seorang diberi rezeki oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’ala yang cukup untuk berangkat haji, sementara ia belum memiliki rumah untuk tempat tinggal ia dan keluarganya, mana yang diutamakan? Haji dulu atau beli rumah?

Pada artikel sebelumnya, sudah dijelaskan bahwa yang diwajibkan bagi seorang suami adalah memberi nafkah dalam bentuk menyediakan tempat tinggal, tidak harus membeli. Bisa jadi tempat tinggal itu milik sendiri dengan cara membeli, atau dari warisan, atau hibah atau semacamnya, atau bisa jadi juga dengan menyewa, mengontrak, atau bahkan sekedar rumah yang gratis dipakai, asalkan layak bagi istri dan anak-anaknya, itu sudah memenuhi kewajiban suami memberi nafkah berupa tempat tinggal.

Selain itu hukum asal memiliki rumah adalah mubah (boleh), bukan wajib, karena memiliki rumah adalah perkara non-ibadah. Seseorang tidak berdosa jika seumur hidup tidak memiliki rumah. Memang tidak bisa disangkal lagi bahwa rumah adalah kebutuhan primer. Tapi untuk memenuhinya tidak harus dengan cara membeli.

Haji adalah maslahah, dan memiliki rumah juga maslahah. Sehingga dalam hal ini berlaku kaidah :

إذا تزاحمت المصالح قدم الأعلى منها فيقدم الواجب على المستحب والراجح من الأمرين على المرجوح

“jika ada beberapa maslahah saling bertabrakan, maka diutamakan yang paling besar maslahahnya. maka yang wajib didahulukan dari yang mustahab (sunnah), yang rajih (lebih kuat) dari dua perkara didahulukan dari yang marjuh (lebih lemah)”

Haji maslahah-nya lebih besar karena terkait maslahah akhirat. Allah berfirman:

وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

Dan sungguh balasan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mereka bertaqwa” (QS. Yusuf: 57).

Bagaimana tidak? Balasan bagi ibadah haji adalah surga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

Haji mabrur itu tidak memiliki balasan kecuali surga” (HR. Al Bukhari 1773, Muslim 1349).

Selain itu haji hukumnya wajib jika mampu, sedangkan membeli rumah hukumnya tidak wajib walaupun mampu, maka hendaknya haji didahulukan dari membeli rumah, selama masih bisa menyediakan tempat tinggal dengan cara lain seperti mengontrak.

Maka orang yang memiliki dana yang cukup untuk berhaji hendaknya segera berangkat haji, walaupun belum memiliki rumah. Semoga dengan ia mengurungkan maksudnya untuk membeli rumah demi berangkat haji, akan jadi sebab digantinya rezeki lain yang lebih baik oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا للهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

Sungguh, tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘Azza Wa Jalla, kecuali Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik dari sesuatu itu bagimu” (HR Ahmad 23074, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 2/734).

Lebih lagi dalam ibadah haji, ada kesempatan besar untuk memperoleh ijabah doa, maka dapat digunakan untuk minta dimudahkan dalam hal memiliki rumah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الغازي في سبيلِ اللَّهِ، والحاجُّ والمعتمِرُ، وفْدُ اللَّهِ، دعاهُم، فأجابوهُ، وسألوهُ، فأعطاهُم

Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji serta berumrah, mereka adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, dan mereka pun ternyata memenuhi panggilan Allah itu. Jika mereka meminta kepada Allah pasti akan Allah kabulkan” (HR. Ibnu Majah 2357. dihasankan Al Albani dalam Shahih Ibni Maajah).

Oleh karena itu, ketika kami tanyakan kepada Syaikh ‘Ali Ridha Al Madini hafizhahullah mengenai hal ini, “ya syaikh, ada seseorang yang memiliki harta yang cukup untuk berangkat haji. Namun ia belum memiliki rumah, ia tinggal bersama keluarganya dengan mengontrak rumah. Apakah ia wajib haji? Harta yang ia miliki banyak, cukup untuk membeli rumah, adapun mengontrak rumah baginya mudah saja. Dengan harta yang ia miliki ini apakah seharusnya ia membeli rumah atau pergi haji?”. Syaikh menjawab :

“Hendaknya ia pergi haji, kemudian setelah itu semua Allah memudahkan urusannya”

Wallahu Ta’ala A’lam.