Fitnah yaitu semua hal yang merusak agama seseorang, merusak imannya, merusak taqwanya. Ketika fitnah datang dan mendekat, hendaknya ia segera berusaha menyelamatkan agamanya. Sekalipun mengorbankan kesenangan duniawi, yang penting agama kita selamat, demi nasib kita di akhirat.

Kita dihadapkan pada pilihan yang berat ketika fitnah melanda dan mengepung: tetap tegar berjuang melawan hal-hal yang dapat merusak agama kita atau, jika tidak sanggup menghadapi semua itu, lari darinya. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

خَيْرُ الناسِ في الفِتَنِ رجلٌ آخِذٌ بِعِنانِ فَرَسِه أوْ قال بِرَسَنِ فَرَسِه خلفَ أَعْدَاءِ اللهِ يُخِيفُهُمْ و يُخِيفُونَهُ ، أوْ رجلٌ مُعْتَزِلٌ في بادِيَتِه ، يُؤَدِّي حقَّ اللهِ تَعالَى الذي عليهِ

Sebaik-baik manusia ketika berhadapan dengan fitnah adalah orang yang memegang tali kekang kudanya menghadapi musuh-musuh Allah. Ia menakuti-nakuti mereka, dan merekapun menakut-nakutinya. Atau seseorang yang mengasingkan diri ke lereng-lereng gunung, demi menunaikan apa yang menjadi hak Allah” (HR. Al Hakim 4/446, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 2/311)

Bahkan andai satu-satu jalan supaya selamat dari fitnah adalah dengan mengasingkan diri ke lembah-lembah dan puncak-puncak gunung, maka itu lebih baik daripada agama kita terancam hancur. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

يُوشِكَ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الرَّجُلِ غَنَمٌ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنْ الْفِتَنِ

Hampir-hampir harta seseorang yang paling baik adalah kambing yang ia pelihara di puncak gunung dan lembah, karena ia lari mengasingkan diri demi menyelamatkan agamanya dari fitnah” (HR. Al Bukhari 3300)

Yaa Rabb, jaga dan selamatkan kami dari fitnah…

Tetapkan hati-hati pada jalan-Mu yang lurus…

 

[Faidah berharga dari kajian kitab Silsilah Ahadits Ash Shahihah, Ahad lalu, bersama Ustadz Badrusalam, Lc. hafizhahullah ]