Dikeluarkan Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra (4784), Ibnu Majah dalam Sunan-nya (995), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (2199),

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ ، حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ هِشَامٍ ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ ، عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عُرْوَةَ ، عَنْ عُرْوَةَ ، عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى مَيَامِنِ الصُّفُوفِ “

Utsman bin Abi Syaibah menuturkan kepadaku, Mu’awiyah bin Hisyam menuturkan kepadaku, Sufyan Ats Tsauri menuturkan kepadaku, dari Usamah bin Zaid, dari Utsman bin Urwah, dari Urwah bin Zubair, dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha ia berkata, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Allah dan para Malaikatnya bershalawat pada orang-orang yang berada di shaf sebelah kanan

Derajat Hadits

Mu’awiyah bin Hisyam, Ad Daruquthni berkata tentangnya: “laysa bi qawiyy“. Imam Ahmad berkata: “ia banyak salahnya”. Abu Daud As Sijistani men-tsiqah-kannya. Yang tepat insya Allah, sebagaimana dikatakan oleh Adz Dzahabi dalam Al Mizan : “ia shaduq, Ibnu Ma’in berkata: ‘shalihul hadits namun tidak pandai'”, demikian juga Ibnu Hajar: ‘ia shaduq, sering ragu’.

Usamah bin Zaid Al Laitsi dikatakan oleh An Nasa-i: “laysa bi qawiy“, Abu Hatim: “Ditulis haditsnya tapi bukan hujjah”. Namun Al Baihaqi berkata: “ia tsiqah dan terpercaya”, Ali Al Madini berkata: “bagi saya ia tsiqah“. Ia ditsiqahkan juga oleh Ibnu Ma’in. Ibnu Hajar berkata: “ia diperselisihkan, Al Bukhari meriwayatkan darinya secara muallaq“. Dari keterangan-keterangan tadi, yang tepat insya Allah ia berstatus tsiqah. Adz Dzahabi mengatakan: ‘shaduq haditsnya hasan, menurutku ia tsiqah’. Namun demikian, sanad ini lemah kecuali Mu’awiyah bin Hisyam memiliki mutaba’ah.

Dikeluarkan oleh Ibnu Adi dalam Al Kamil (7/89),

حَدَّثَنَا رَوْحُ بْنُ عَبْدِ الْمُجِيبِ ، ثنا عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ الْخَوَّاصُ ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْغَفَّارِيُّ ، عَنْ عِصْمَةَ بْنِ مُحَمَّدٍ السَّالِمِيِّ ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ ، عَنْ كُرَيبٍ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى مَيَامِنِ الصُّفُوفِ “

Rauh bin Abdil Mujib menuturkan kepadaku, Ali bin Al Husain Al Khawwash menuturkan kepadaku, Abdullah bin Ibrahim Al Ghaffari menuturkan kepadaku, dari Ishmah bin Muhammad As Salimi, dari Musa bin Uqbah, dari Kuraib, dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Allah dan para Malaikatnya bershalawat pada orang-orang yang berada di shaf sebelah kanan

Rauh bin Abdil Mujib statusnya majhul hal, demikian juga Ali bin Al Husain Al Khawwash. Abdullah bin Ibrahim Al Ghaffari dikatakan oleh Ibnu Hajar: “matrukul hadits“. Ishmah bin Muhammad As Salimi dikatakan oleh Abu Hatim: “laysa bi qawiy“, Ad Daruquthni berkata: “ia matruk“. Sehingga sanad ini sangat-sangat lemah dan tidak bisa menjadi penguat.

Di sisi lain, terdapat mukhalafah dari riwayat ini, yaitu riwayat dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha dengan lafadz yang berbeda. Dikeluarkan dalam Musnad Imam Ahmad (24026),

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ ، قَالَ : حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ عَلَيْهِمْ السَّلَام ، يُصَلُّونَ عَلَى الَّذِينَ يَصِلُونَ الصُّفُوفَ ، وَمَنْ سَدَّ فُرْجَةً ، رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً “

Abul Yaman menuturkan kepada kami, Ismail bin Ayyash menuturkan kepada kami, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, ia berkata Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Allah dan para Malaikatnya ‘alaihimussalam bershalawat pada orang-orang yang menyambung shaf dan barangsiapa yang menutup celah akan diangkat derajatnya oleh Allah“.

Ismail bin Ayyash Asy Syami ia dha’if karena mukhtalith jika meriwayatkan selain dari perawi Syam, Ibnu Hajar berkata: “ia shaduq jika meriwayatkan dari penduduk Syam, mukhtalith jika dari selain mereka”. Adapun perawi lainnya tsiqah. Namun Ismail bin Ayyash memiliki mutaba’ah yaitu Usamah bin Zaid Al Laitsi dalam riwayat yang dikeluarkan dalam Musnad Imam Ahmad (23825),

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ الْوَلِيدِ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أُسَامَةَ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ، يُصَلُّونَ عَلَى الَّذِينَ يَصِلُونَ الصُّفُوفَ “

Abdullah bin Walid menuturkan kepadaku, Sufyan Ats Tsauri menuturkan kepadaku, dari Usamah, dari Abdullah bin Urwah, dari Urwah, dari ‘Aisyah, ia berkata, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Allah dan para Malaikatnya ‘alaihimussalam bershalawat pada orang-orang yang menyambung shaf“.

Abdullah bin Walid Al Qurasyi dikatakan oleh Ibnu Hajar: “shaduq dan terkadang salah”. Usamah bin Zaid Al Laitsi tsiqah sebagaimana sudah disebutkan.

Juga dikeluarkan dengan jalan dalam Shahih Ibni Khuzaimah (1465),

نا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْمُرَادِيُّ ، نا ابْنُ وَهْبٍ ، أَخْبَرَنِي أُسَامَةُ ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ عَائِشَةَ ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الَّذِينَ يَصِلُونَ الصُّفُوفَ “

Ar Rabi’ bin Sulaiman Al Muradi menuturkan kepadaku, Ibnu Wahb menuturkan kepadaku, Usamah mengabarkan kepadaku, dari Utsman bin Urwah bin Zubair, dari ayahnya, dari ‘Aisyah, ia berkata, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Allah dan para Malaikatnya ‘alaihimussalam bershalawat pada orang-orang yang menyambung shaf“.

Sanad ini shahih, semua perawinya tsiqah.

Kesimpulannya, hadits keutamaan shaf kanan adalah hadits munkar karena sanadnya lemah dan mukhalafah terhadap riwayat lain yang shahih. Dan riwayat yang mahfuzh adalah dengan lafal

عَلَى الَّذِينَ يَصِلُونَ الصُّفُوفَ

“…pada orang-orang yang menyambung shaf

Sebagaimana dinyatakan Ibnu Adi dalam Al Kamil (7/89), Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra (3/103), Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah (5/274). Sebagian ulama memang menshahihkan hadits ini, bisa jadi karena mereka memandang Mu’awiyah bin Hisyam sebagai perawi tsiqah dan belum sampai kepada mereka riwayat lain yang menjadi mukhalafah.

Wallahu’alam.