Ini tulisan ringan. Anda masih ingat pelajaran Biologi? Klasifikasi hewan? Hewan berdasarkan makanannya dibagi menjadi 3: herbivora, karnivora dan omnivora. Tentu tidak ada informasi dari langit atau tulisan prasasti atau manuskrip kuno yang mendasari pembagian ini. Pembagian ini muncul dari penelitian atas fakta yang ada pada hewan.

Lalu bagaimana jika ada orang yang tidak setuju pembagian tersebut? Jika ia mengingkari salah satu jenis klasifikasi tersebut, maka pendapatnya tidak sesuai fakta. Misalnya ia mengatakan hewan itu hanya herbivora dan karnivora saja. Tidak faktuil. Karena faktanya hewan omnivora juga ada. Atau ia berpendapat hewan itu hanya herbivora saja. Ini lebih ngawur. Atau, mungkin ia mengingkari semuanya. Jadi hewan itu ya hewan, tidak usah dibagi 3. Silakan saja jika ingin mengatakan demikian, tapi fakta tidak berubah, bahwa hewan itu ada yang makan tumbuhan saja, ada yang makan daging, dan ada yang makan segala walau tidak mau dinamakan herbivora, karnivora dan omnivora.

Cobalah renungkan hal tersebut…

Nah, sekarang kita bandingkan dengan orang-orang yang mengingkari pembagian tauhid menjadi 3: rububiyyah, uluhiyyah dan asma wa sifat. Tidak ada ayat atau hadits yang bunyinya “tauhid itu ada 3 : rububiyyahuluhiyyah dan asma wa sifat” atau semacam itu, tapi pembagian ini dari penelitian atas fakta yang ada pada dalil-dalil bahwa tauhid dapat diklasifikasikan demikian. Sekali lagi, klasifikasi. Katakanlah, mereka menginginkan tauhid itu dalam rububiyyah saja, maka jelas ini mengingkari fakta bahwa Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk mentauhidkan-Nya dalam hal ibadah dan juga dalam hal penamaan serta penyifatan-Nya. Jika dikatakan bahwa tidak ada tauhid dalam hal ibadah, berarti boleh beribadah kepada selain Allah? Jika dikatakan bahwa tidak ada tauhid dalam hal penamaan serta penyifatan Allah, berarti boleh kita memberi nama anak kita Al Khaliq, Al Jabbar, Ar Razzaq?

Katakanlah, mereka menginginkan tauhid itu tidak usah dibagi 3, tauhid ya tauhid saja. Silakan saja jika ingin mengatakan demikian, tapi fakta tidak berubah, bahwa seorang muslim harus mentauhidkan Allah dalam masalah kedigjayaan-Nya sebagai penguasa alam semesta, dalam masalah ibadah dan dalam masalah penamaan serta penyifatan-Nya. Lalu taruhlah tauhid itu tidak dibagi 3, tauhid saja, bukankah makna tauhid itu:

إفراد الله سبحانه وتعالى بما يختص به

“menjadikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai satu-satunya dalam semua kekhususan bagi-Nya”

bukankah semua jenis ibadah itu khusus bagi Allah? bukankah Allah memiliki kekhususan dalam al asma al husna bagi-Nya? Jadi, andai tidak mau mengakui pembagian tauhid menjadi 3, pun pada kenyataannya mau-tidak-mau tetap harus mengamalkan konten dari pembagian tersebut dalam rangka menerapkan tauhid itu seutuhnya.

Jadi, haruskah membagi tauhid menjadi 3? Jawabnya ya, karena itu fakta yang ada, andai tidak mau membagi jadi 3 pun tetap harus meyakini konten dari pembagian tersebut.

Sekali lagi, ini tulisan ringan, sekedar mengajak berpikir ringan. Jika ingin yang berat, coba baca ini.

Iklan