Dicatat oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Ausath (1/1/162),

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُوسَى، نَا مُحَمَّدُ بْنُ سَهْلِ بْنِ مَخْلَدٍ الْإِصْطَخْرِيُّ، نَا عِصْمَةُ بْنُ الْمُتَوَكِّلِ، نَا زَافِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ إِسْرَائِيلَ بْنِ يُونُسَ، عَنْ جَابِرٍ، عَنْ يَزِيدَ الرَّقَاشِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الْإِيمَانِ، فَلْيَتَّقِ اللَّهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي»

Muhammad bin Musa menuturkan kepadaku, Muhammad bin Sahl bin Makhlad Al Isthakhri menuturkan kepadaku, Ishmah bin Mutawakkil menuturkan kepadaku, Zafir bin Muslim menuturkan kepadaku, dari Israil bin Yunus, dari Jabir, dari Yazid Ar Raqqasyi, dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘barangsiapa menikah, ia telah menyempurnakan setengah agamanya. maka hendaknya ia bertaqwa kepada Allah untuk setengah sisanya‘”

Derajat Hadits

Sanad ini dhaif, karena dua orang perawinya dhaif. Pertama, Jabir (yaitu Ibnu Zaid Al Ju’fi), dikatakan oleh Ibnu Hajar: “dha’if rafidhi“, ia juga seorang mudallis dan meriwayatkan dengan lafadz ‘an dalam sanad tersebut. Kedua, Yazid bin Aban Ar Raqqasyi, dikatakan oleh Ibnu Hajar: “dha’if zaahid“.

Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Ausath juga mengeluarkan jalan lain dari hadits ini:

حَدَّثَنَا مُطَّلِبُ بْنُ شُعَيْبٍ، نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنِي الْحَسَنُ بْنُ الْخَلِيلِ بْنِ مُرَّةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ يَزِيدَ الرَّقَاشِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الْإِيمَانِ، فَلْيَتَّقِ اللَّهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي»

Muthallib nin Syu’aib menuturkan kepadaku, Abdullah bin Shalih menuturkan kepadaku, Al Hasan bin Al Khalil bin Murrah menuturkan kepadaku, dari ayahnya, dari Yazid Ar Raqqasyi, dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘barangsiapa menikah, ia telah menyempurnakan setengah imannya. maka hendaknya ia bertaqwa kepada Allah untuk setengah sisanya‘”

namun kualitas sanadnya tidak lebih baik dari sanad yang pertama, karena ada empat perawi dhaif di sini:

  1. Abdullah bin Shalih, Ibnu Hajar berkata: “shaduq katsirul ghalath
  2. Al Hasan bin Khalil, tidak terdapat pembicaraannya dalam kitab tarajim, sehingga ia majhul ‘ain.
  3. Al Khalil bin Murrah, Al Bukhari berkata: “munkarul hadits
  4. Yazid bin Aban Ar Raqqasyi, sudah dijelaskan sebelumnya.

Jalan lain diriwayatkan oleh Al Khatib Al Baghdadi dalam Al Muwadhih (2/84),

عن يعقوب بن إسحاق الحضرمي حدثنا الخليل بن مرة عن يزيد الرقاشي عن أنس بن مالك قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Dari Ya’qub bin Ishaq Al Hadhrami, Al Khalil bin Murrah mengabarkan kepadaku, dari Yazid Ar Raqqasyi, dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: … ”

Ya’qub bin Ishaq statusnya shaduq, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Hajar. Sehingga kelemahannya hanya pada Al Khalil bin Murrah dan Yazid bin Aban Ar Raqqasyi. Nah, mengenai mereka berdua, Syaikh Al Albani berkata: “Al Khalil, walau ia dhaif, namun dhaifnya bukanlah karena ia diragukan kejujurannya, namun sebatas karena kelemahan dalam hafalannya, demikian juga gurunya, Yazid bin Aban Ar Raqqasyi”. Ini diperkuat oleh pernyataan Ibnu ‘Adi tentang mereka bedua. Sehingga, walaupun sanad ini lemah, namun bisa menjadi syahid (penguat).

Jalan yang lain dikeluarkan oleh Ath Thabrani dalam Al Ausath (1/3/161), Al Hakim (2/161),

عن عمرو بن أبي سلمة التنيسي حدثنا زهير بن محمد: أخبرني عبد الرحمن – زاد الحاكم: ابن زيد – عن أنس بن مالك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:

“Dari Amr’ bin Abi Salamah At Tunisi, Zuhair bin Muhammad menuturkan kepadaku, Abdurrahman bin Zaid mengabarkan kepadaku, dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: … ”

Amr bin Abi Salamah statusnya shaduq sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Hajar, bahkan Adz Dzahabi men-tsiqah-kannya. Abdurrahman bin Zaid bin Uqbah Al Azraq statusnya tsiqah. Masalah terdapat pada Zuhair bin Muhammad. Walaupun ia tsiqah, namun Ibnu Hajar berkata: “Periwayatan para perawi negeri Syam dari Zuhair itu bermasalah, dan itu membuat riwayatnya menjadi dhaif . Al Bukhari menukil perkataan Imam Ahmad: ‘seakan-akan Zuhair yang diambil riwayatnya oleh penduduk Syam adalah Zuhair yang lain’. Abu Hatim berkata: ‘Zuhair meriwayatkan hadits kepada penduduk Syam dengan hafalannya, dan banyak terjadi kesalahan'”.

Sehingga sanad ini pun terdapat kelemahan, namun ringan. Sehingga jika kita kumpulkan dengan sanad sebelumnya, bisa mengangkat  hadits ini kepada derajat hasan. Terlebih masih ada beberapa penguat lain yang disebutkan Syaikh Al Albani (diringkas dari Silsilah Ahadits Ash Shahihah, 199-202)

Faidah Hadits

  1. Anjuran Islam kepada umatnya untuk menikah, dan tidak melakukan tabattul, yaitu mengharamkan diri dari kelezatan dunia (salah satunya menikah) demi mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana juga dalam kisah sahabat Utsman bin Mazh’un yang ahli ibadah beliau meminta izin kepada Nabi untuk melakukan tabattul dan hampir-hampir para sahabat yang lain mengikuti langkah beliau, namun Sa’ad bin Abi Waqqash mengatakan,

    ردَّ رسولُ اللهِ صلىَّ اللهُ عليهِ وسلمَ على عثمانَ بنِ مظْعَونٍ التَّبَتُّلَ ، ولو أَذِنَ لهُ لاخْتَصَيْنَا

    Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melarang Utsman bin Mazh’un melakukan tabattul. Padahal andai itu diizinkan, niscaya kami akan mengebiri diri kami” (Muttafaq ‘alaihi)

  2. Al Munawi menjelaskan: “Orang yang menikah ia telah menyempurnakan setengah imannya dalam riwayat lain setengah agamanya, maka hendaknya ia bertaqwa kepada Allah untuk setengah sisanya. Di sini Allah menjadikan taqwa itu menjadi dua, setengah pada nikah dan setengah pada yang lainnya.Abu Hatim berkata: ”Agama seseorang bisa tegak secara umum yang perlu diperhatikan ada 2 aspek, yaitu kemaluan dan perut. Dengan menikah, itu telah mencukupi salah satu dari dua aspek itu’.Ath Thibbi berkata: ‘فقد استكمل adalah al jawab sedangkan asy syarth-nya adalah فليتق الله yang di-athaf-kan (dengan تَزَوَّجَ). Atau bisa juga,  فليتق الله itu sebagai al jawab ats tsani. Untuk kemungkinan pertama,  فليتق الله yang di-athaf-kan dengan asy syarth (yaitu تَزَوَّجَ), sehingga as sabab nya murakkab sedangkan musabbabnya mufrad. Faidahnya, sudah ma’lum bahwa menikah itu setengah agama. Barangsiapa sudah menikah, maka ia wajib mengejar yang setengahnya. Dan untuk kemungkinan kedua, makna berupa pemberitahuan bahwa menikah itu menyempurnakan setengah agama, sehingga tidak perlu ada تَزَوَّجَ dalam bentuk muqaddar. Sehingga as sabab nya mufrad, musabbab-nya murakkab‘.

    Faidah hadits ini, sebagaimana diceritakan oleh Al Ghazzali dari seseorang yang ia kenal:
    ‘suatu ketika syahwatku mulai menguasai keinginanku sampai aku merasa tidak kuasa menahannya, maka aku pun memperbanyak dzikir kepada Allah (sampai tertidur). Kemudian aku melihat seseorang dalam mimpiku. Ia berkata, kalau engkau ingin apa yang sedang kau alami itu hilang biarkan aku menebas lehermu. Aku berkata, baiklah. Ia berkata, kalau begitu julurkan lehermu. Lalu aku julurkan leherku. Kemudian ia mengeluarkan sebuah pedang dari cahaya, dan menebas leherku. Seketika itu aku langsung terbangun, dan apa yang kualami itu pun hilang. Aku pun merasa sehat selama setahun. Namun ternyata gangguan itu pun kambuh lagi, lalu dalam mimpiku aku melihat orang yang bicara kepadaku dari samping, ia berkata, celakalah kamu, bagaimana Anda meminta Allah menghilangkan sesuatu yang bisa dihilangkan dengan menikah? Setelah kejadian itu aku pun menikah. Dan benar lah, apa yang aku alami tidak kambuh lagi, kemudian aku pun memiliki anak'” (Faidhul Qadir, 6/103)

  3. Al Mulla Ali Al Qari juga menukil perkataan Al Ghazzali : “Yang paling banyak merusak agama seseorang itu adalah perut dan kemaluan, dan dengan menikah akan mengatasi salah satunya. Karena dalam pernikahan terdapat perisai dari setan, memutus keinginan yang buruk, mencegah lonjakan-lonjakan syahwat, menjaga pandangan dan menjaga kemaluan” (Mirqatul Mafatih, 5/2049)
  4. Hadits ini juga dalil bahwa iman itu naik dan turun dan iman juga mencakup perbuatan badan, dalam hal ini menikah.