Dicatat oleh Ibnu Majah (1847), Al Hakim (2/160), Al Baihaqi (7/76), Ath Thabrani (3/1/107),

عَنْ مُحَمَّدُ بْنُ مُسْلِمٍ الطَّائِفِيُّ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مَيْسَرَةَ، عَنْ طَاوُسٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَمْ يُرَ لِلْمُتَحَابِّينِ مِثْلُ التَّزَوُّجِ

“Dari Muhammad bin Muslim Ath Thaifi, dari Ibrahim bin Maisarah, dari Thawus, dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘tidak pernah terlihat dua orang yang saling mencintai yang semisal dengan kecintaan dalam pernikahan’

Derajat Hadits

Sanad tersebut lemah karena terdapat Muhammad bin Muslim Ath Thaifi, walaupun ia adalah perawi Muslim, namun Ibnu Hajar menilainya dalam At Taqrib: “shaduq yukhti’ min hifdzihi‘”. Di-tsiqah-kan oleh Ibnu Ma’in dan Adz Dzahabi (Dzikru Asma Lidz Dzahabi, 315) namun Imam Ahmad menilainya dhaif jiddan (Mausu’ah Aqwal Imam Ahmad, 3019). Dari data ini, kita kedepankan penilaian Ibnu Hajar yang lebih rinci. Sehingga hadits ini bisa terangkat menjadi hasan jika terdapat mutaba’ah bagi Muhammad bin Muslim Ath Thaifi.

Hadits ini memiliki jalan lain yang maushul. Dikeluarkan oleh Ibnu Syadzan dalam Al Masyikhah Ash Shughra (60),

حدثني أبو الفوارس أحمد بن علي بن عبد الله – محتسب المصيصة من حفظه – أنبأنا أبو بشر حيان بن بشر – قاضي المصيصة – أنبأنا أحمد بن حرب الطائي أنبأنا سفيان ابن عيينة أنبأنا عمرو بن دينار عن طاووس عن ابن عباس

Abul Fawaris Ahmad bin Ali bin Abdillah (pengawas petugas keuangan di Mashishah/Mamistra) mengabarkan kepadaku, Abu Bisyr Hayyan bin Bisyr (hakim di Mamistra) mengabarkan kepadaku, Ahmad bin Harb Ath Tha-i mengabarkan kepadaku, Sufyan bin Uyainah mengabarkan kepadaku, ‘Amr bin Dinar mengabarkan kepadaku, dari Thawus, dari Ibnu Abbas…”

Namun Abul Fawaris majhul ‘ain, tidak ditemukan pembicaraan mengenai beliau dalam kitab-kitab jarh wa ta’dil. Abu Bisyr Hayyan pun disebut oleh Ibnu Abi Hatim dalam kitab Al Jarh Wat Ta’dil (1/2/248) namun tidak disebutkan jarh maupun ta’dil terhadap beliau, sehingga paling maksimal ia berstatus majhul haal. Sedangkan semua perawi mulai dari Ahmad bin Harb Ath Tha-i sampai akhir adalah perawi yang dikenal ke-tsiqah-annya. Jadi sanad pun terdapat kelemahan.

Jalan lain yang maushul, dikeluarkan oleh Ibnu Mandah dalam Al Amali (1/46), dan Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir (1/3/102) :

عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ يَزِيدَ، عَنْ سُلَيْمَانَ الْأَحْوَلِ، أَوْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، عَنْ طَاوُسٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَمْ يُرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلُ النِّكَاحِ»

“dari Ibrahim bin Yazid, dari Sulaiman Al Ahwal atau ‘Amr bin Dinar, dari Thawus, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘tidak pernah terlihat dua orang yang saling mencintai yang semisal dengan kecintaan dalam pernikahan’

Namun Ibrahim di sini adalah Ibrahim bin Yazid Al Khuzi yang berstatus matruk, Ibnu ‘Adi pun berkata: “ia majhul” (Al Lisan, 1/125). Sehingga sanad ini pun memiliki kelemahan.

Jalan lainnya, dikeluarkan oleh Abul Qasim Al Mahrawani dalam Al Fawaid Al Muntakhabah (1/55) :

عَنْ عَبْدِ الصَمَدِ بْنِ حَسَانٍ حَدَثَنَا سُفْيَانُ الثَوْرِي عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مَيْسَرَةَ، عَنْ طَاوُسٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَمْ يُرَ لِلْمُتَحَابِّينِ مِثْلُ التَّزَوُّجِ

“Dari Abdus Shamad bin Hasan, Sufyan Ats Tsauri menuturkan kepadaku, dari Ibrahim bin Maisarah, dari Thawus, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘tidak pernah terlihat dua orang yang saling mencintai yang semisal dengan kecintaan dalam pernikahan’“.

Abdus Shamad bin Hasan dikatakan oleh Al Bukhari: “Aku menulis hadits darinya, ia statusnya muqarib” (Al Lisan, 2/620). Istilah muqarib dari Imam Al Bukhari adalah bentuk ta’dil yang setara dengan qaawi. Kemudian Sufyan Ats Tsauri adalah seorang mudallis dan di sini beliau meriwayatkan dengan lafadz ‘an. Sehingga sanad ini pun memiliki kelemahan. Namun di sini Sufyan Ats Tsauri menjadi mutaba’ah bagi Muhammad bin Muslim Ath Thaifi pada sanad yang pertama.

Kemudian, terdapat mukhalafah untuk sanad-sanad yang maushul ini. Karena pada sebagian riwayat yang lain, Thawus me-mursal-kan sanad. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (15915) :

عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مَيْسَرَةَ، عَنْ طَاوُسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ»

“dari Ibnu Juraij, dari Ibrahim bin Maisarah, dari Thawus, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘tidak pernah kami melihat dua orang yang saling mencintai yang semisal dengan kecintaan dalam pernikahan’“.

Semua perawinya tsiqah tanpa keraguan.

Diriwayatkan oleh Abdurrazaq Ash Shan’ani dalam Mushannaf-nya (10377)  juga Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra (13452 ) :

أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، وَمَعْمَرٌ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مَيْسَرَةَ، أَنَّهُ سَمِعَ طَاوُسًا يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَمْ أَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ»

Ibnu Juraij dan Ma’mar mengabarkan kepadaku, dari Ibrahim bin Maisarah, ia mendengar dari Thawus, ia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘tidak pernah terlihat dua orang yang saling mencintai yang semisal dengan kecintaan dalam pernikahan’“.

Semua perawinya juga tsiqah tanpa keraguan.

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dalam Sunan-nya (492) juga Abu Ya’la Al Mushili dalam Musnad-nya (2747) :

نا سُفْيَانُ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مَيْسَرَةَ، عَنْ طَاوُسٍ، يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَمْ يُرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلُ النِّكَاحِ»

Sufyan (bin ‘Uyainah) mengabarkan kepadaku, dari Ibrahim bin Maisarah, dari Thawus, sampai kepadanya dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda: ‘tidak pernah terlihat dua orang yang saling mencintai yang semisal dengan kecintaan dalam pernikahan’“.

Semua perawinya juga tsiqah tanpa keraguan. Sufyan bin ‘Uyainah walaupun mudallis, para ulama sepakat menerima ‘an’anah-nya.

Dari data-data di atas, kita ketahui bahwa ternyata hadits ini diriwayatkan dari jalan Thawus secara maushul dan terdapat mukhalafah karena juga diriwayatkan dari Thawus secara mursal. Syaikh Al Albani memandang bahwa jalan-jalan yang maushul, walau semuanya tidak lepas dari kelemahan, jika digabungkan maka dapat mengangkat derajat hadits ini hingga derajat shahih li ghairihi. Sehingga beliau men-shahih-kan hadits ini.

Namun jika kita amati, jalan-jalan yang mursal ternyata jauh lebih bagus kualitas sanadnya dengan jumlah jalan yang banyak pula. Dan kebanyakan para ulama hadits memandang adanya mukhalafah yang demikian adalah sebuah illah qadhihah. Namun nampaknya Syaikh Al Albani tidak memandangnya sebagai illah qadhihah.

Kesimpulannya, yang rajih insya Allah, hadits ini dhaif. Hadits ini di-dhaif-kan Al Uqaili (Adh Dhu’afa Al Kabir, 4/134), As Suyuthi (Al Jami’ Ash Shaghir, 7361), Syaikh Muqbin bin Hadi Al Wadi’i (Ahadits Al Mu’allah, 217). Wallahu’alam.

[Sebagian besar tulisan ini hanya meringkas dari kitab Silsilah Ahadits Ash Shahihah, 2/196-198]