Pertanyaan:
Apakah tidak menjawab salam termasuk dalam hajr (memboikot) terhadap ahlul bid’ah semisal orang hizbiyyin dan orang sufi, dan bagaimana hukum menjawab salam mereka?

Syaikh Muhammad Al Imam hafizhahullah menjawab :
Yang diboikot dengan tidak berbicara, tidak menyalami, dan tidak menemui mereka adalah tokoh-tokoh da’i sufi, syiah rafidhah dan hizbiyyah. Adapun masyarakat awam justru mereka itu membutuhkan dakwah ilallah, membutuhkan dakwah kepada Qur’an dan Sunnah, membutuhkan penjelasan tentang dakwah ahlussunnah. Karena umumnya masyarakat itu akan menerima dakwah ahlussunnah jika kita menyampaikannya sebagai nasehat dan cara yang hikmah. Alhamdulillah di negeri kami ini di Yaman, kami perhatikan banyak sekali orang yang terpengaruh pemahaman tasawuf dan syi’ah rafidhah. Namun ketika mereka mendengar dakwah sunnah, Allah membukakan pintu hati mereka dan meninggalkan ajaran menyimpang tadi. Demikian juga pada orang-orang yang terpengaruh pada bid’ah dan penyimpangan lain.

Intinya, hajr (pemboikotan) yang dilakukan ahlussunnah itu terhadap tokoh-tokoh da’i ahlul bid’ah dan hizbiyyah.

Dan hajr itu banyak pembahasannya, sehingga bagaimana bentuk penerapannya perlu kembali melihat rincian dari masalah hajr ini. Karena keadaan ahlussunnah itu berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat yang lain, juga berbeda keadaannya antara orang yang satu dengan orang yang lain. Oleh karena itu, bagaimana bentuk penerapannya hendaknya merujuk pada rincian dari masalahnya. Wallahul musta’an.

Sumber: http://www.sh-emam.com/show_fatawa.php?id=688