Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud Ath Thayalisi dalam Musnad-nya:

حَدَّثَنَا الْمَسْعُودِيُّ ، عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ ، عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ، لَمْ يُنْزِلْ دَاءً إِلا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً إِلا الْهَرَمَ ، فَعَلَيْكُمْ بِأَلْبَانِ الْبَقَرِ ، فَإِنَّهَا تَرُمُّ مِنْ كُلِّ الشَّجَرِ

Al Mas’udi menuturkan kepadaku, dari Qais bin Muslim, dari Thariq bin Syihab, dari Abdullah (bin Mas’ud), dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda: Sesungguhnya Allah ‘Azza Wajalla ketika menurunkan penyakit pasti juga menurunkan obatnya, kecuali penyakit tua. Lalu hendaklah kalian meminum susu sapi, karena ia terkumpul dari berbagai macam tumbuhan” Derajat Hadits Seluruh perawi hadits ini tsiqah kecuali Al Mas’udi (Abdurrahman bin Abdillah bin ‘Utbah bin Mas’ud Al Kufi), ia mengalami ikhtilath di masa tuanya. Namun ia memiliki mutaba’ah. Diantaranya adalah Imam Abu Hanifah sebagaimana yang ada dalam Musnad beliau (433). Mutaba’ah yang lain, Sufyan Ats Tsauri, sebagaimana yang dicatat oleh Imam An Nasa-i dalam Sunan Al Kubra:

أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ فَضَالَةَ ، قَالَ : أنا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ ، عَنْ سُفْيَانَ ، عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ ، عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ…

“‘Ubaidullah bin Fudhalah mengabarkan kepadaku, ia berkata, Muhammad bin Yusuf menuturkan kepadaku, dari Sufyan (Ats Tsauri), dari Qais bin Muslim, dari Thariq bin Syihab dari Abdullah (bin Mas’ud), dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda ..” Seluruh perawinya tsiqah. Sehingga sanad hadits ini shahih secara musnad. Hadits ini juga pada sebagian jalannya diriwayatkan secara mursal, sebagaimana yang tercatat dalam Musnad Imam Ahmad bin Hambal (18450)

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ ، عَنْ يَزِيدَ أَبِي خَالِدٍ ، عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ ، عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : …

“ِAbdurrahman bin Mahdi menuturkan kepadaku, Sufyan menuturkan kepadaku, dari Yazid bin Abi Khalid, dari Qais bin Muslim, dari Thariq bin Syihab, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda …” Yazid bin Abi Khalid lemah, Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: صدوق يخطىء كثيرا وكان يدلس “shaduq, sering salah dan kadang melakukan tadlis”. Namun ia memiliki mutaba’ah, yaitu Ayyub Ath Tha’i dalam riwayat yang dikeluarkan An Nasa-i dalam Sunan Al Kubra (7276):

أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ، قَالَ : أنا جَرِيرٌ ، عَنْ أَيُّوبَ الطَّائِيِّ ، عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ ، عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Ishaq bin Rahawaih mengabarkan kepadaku, ia berkata, Jarir dari Ayyub Ath Tha’i, dari Qais bin Muslim, dari Thariq bin Syihab, ia berkata, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda … ” Seluruh perawinya tsiqah. Sehingga kesimpulannya hadits ini shahih secara musnad dan juga mursal. (diringkas dari Silsilah Ahadits Shahihah, 2/45-47) Faidah Hadits

  1. Setiap penyakit pasti ada obatnya. Karena penyakit merupakan cobaan dari Allah bagi manusia dan tidaklah Allah memberi cobaan yang melebihi batas. Allah Ta’ala berfirman:

    لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

    Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupan” (QS. Al Baqarah: 286)

  2. Jika di zaman ini ada penyakit yang diklaim belum ada obatnya, sejatinya itu karena belum diketahui obatnya. Atau yang mengklaim demikian adalah orang yang tidak tahu obatnya sementara ada orang lain yang sudah tahu obatnya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يُنْزِلْ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ، وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ

    Sesungguhnya Allah ‘Azza Wa Jalla tidak menurunkan penyakit kecuali pasti menurunkan obatnya. Orang tahu akan tahu, orang yang belum tahu tidak mengetahuinya” (HR. Ahmad 4236, 4267, 18456. Dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 1650 )

  3. Mengapa dalam hadits ini tua disebut Nabi sebagai penyakit. Al Mulla Ali Al Qari menjelaskan dengan bagus: “Yang dimaksud dengan الْهَرَمَ adalah usia tua. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menyebutnya sebagai penyakit sebagai penyerupaan tua dengan dengan penyakit. Karena usia yang tua renta mengakibatkan seseorang meninggal, sebagaimana penyakit bisa membuat orang meninggal. Demikian yang dikatakan oleh Ath Thibi. Namun menurutku, Nabi menyebut demikian karena usia tua adalah masa terkumpulnya berbagai penyakit.

    Oleh karena itu ketika ada seorang tua renta berkata kepada salah satu dokter: ‘pendengaranku lemah’. Dokter akan berkata: ‘itu karena usia anda yang sudah tua’. Orang tua: ‘saya tidak bisa berjalan dengan tegak, punggung saya bengkok’. Dokter akan berkata: ‘itu karena usia anda yang sudah tua’. Orang tua: ‘Paru-paru saja juga sesak, dan masalah kesehatan lain’ Dokter akan berkata pada setiap hal tersebut: ‘itu karena usia anda yang sudah tua’ Orang tua itu pun menjadi buruk akhlaknya, lalu berkata: ‘anda ini setiap anda tidak tahu sebab dari gangguan-gangguan tersebut, anda bilang itu karena usia tua’ Dokter pun berkata: ‘sikap anda ini juga karena usia anda yang sudah tua’.

    Dan banyak para dokter yang berkata: ‘barangsiapa yang diberi cobaan dengan usia tua, akan diberi cobaan dengan 1000 penyakit'”. (Mirqatul Mafatih, 7/2871)

  4. Susu memiliki fadhilah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    ثلاث لا ترد: الوسائد والدهن واللبن

    Tiga hal yang tidak boleh ditolak jika diberi: bantal, minyak wangi dan susu” (HR. At Tirmidzi 2734, dihasankan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 619)
    Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu beliau berkata:

    أُتِيَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِهِ بِإِيلِيَاءَ بِقَدَحَيْنِ مِنْ خَمْرٍ وَلَبَنٍ، فَنَظَرَ إِلَيْهِمَا، ثُمَّ أَخَذَ اللَّبَنَ، فَقَالَ جِبْرِيلُ: الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَاكَ لِلْفِطْرَةِ، وَلَوْ أَخَذْتَ الخَمْرَ غَوَتْ أُمَّتُكَ

    Dihidangkan kepada Nabi pada malam ketika beliau di-isra’-kan, di Iliyya, dua gelas terdiri dari khamr dan susu. Beliau memandang keduanya lalu mengambil susu. Maka Jibril berkata kepada beliau, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkanmu kepada fitrah. Seandainya engkau mengambil khamr, niscaya umatmu akan tersesat” (HR. Bukhari 5202, Muslim 3758)

  5. Nabi suka dan biasa minum susu. Dalam sebuah hadits dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhuma beliau berkata:

    «أَهْدَتْ خَالَتِي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضِبَابًا وَأَقِطًا وَلَبَنًا، فَوُضِعَ الضَّبُّ عَلَى مَائِدَتِهِ، فَلَوْ كَانَ حَرَامًا لَمْ يُوضَعْ، وَشَرِبَ اللَّبَنَ، وَأَكَلَ الأَقِطَ»

    Bibiku pernah memberi hadiah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berupa daging biawak, keju dan susu. Kemudian daging biawak itu diletakkan di atas hidangan beliau. Sekiranya biawak itu haram, niscaya ia tidak akan diletakkan di situ. Lalu beliau meminum susu dan memakan keju” (HR. Bukhari 5402)

  6. Susu itu berkah. Diantara dalilnya, susu disebutkan oleh Allah dalam kitab-Nya sebagai sebuah karunia yang harus disyukuri. Allah Ta’ala berfirman:

    وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ

    Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya” (QS. An Nahl: 66)Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

    مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ طَعَامًا فَلْيَقُلْ : اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ , وَارْزُقْنَا خَيْرًا مِنْهُ , وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا , فَلْيَقُلْ : اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ , وَزِدْنَا مِنْهُ , فَإِنِّي لَا أَعْلَمُ مَا يُجْزِئُ مِنَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ إِلَّا اللَّبَنُ

    Barangsiapa yang memakan suatu makanan yang dikaruniai oleh Allah, hendaknya ia berdoa: ‘Allahumma baarik lana fiihi (ya Allah, limpahkan keberkahan pada kami dalam makanan ini). Dan barangsiapa yang minum susu yang dikaruniai oleh Allah, hendaknya ia berdoa: Allahumma baarik lana fiihi, wa zidna minhu (ya Allah berilah keberkahan kepada kami dalam susu ini dan karunikan kami lebih banyak dari susu ini) karena aku tidak tahu satupun yang bisa menggantikan makanan dan minuman melebihi susu” (HR. Abu Daud 3245, Ibnu Majah 3321, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah) Diantara bukti keberkahan susu itu juga diceritakan oleh Abu Hurairah Radhiallahu’anhu dalam sebuah hadits yang panjang:

    أَللَّهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ، إِنْ كُنْتُ لَأَعْتَمِدُ بِكَبِدِي عَلَى الأَرْضِ مِنَ الجُوعِ، وَإِنْ كُنْتُ لَأَشُدُّ الحَجَرَ عَلَى بَطْنِي مِنَ الجُوعِ، وَلَقَدْ قَعَدْتُ يَوْمًا عَلَى طَرِيقِهِمُ الَّذِي يَخْرُجُونَ مِنْهُ، فَمَرَّ أَبُو بَكْرٍ، فَسَأَلْتُهُ عَنْ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ، مَا سَأَلْتُهُ إِلَّا لِيُشْبِعَنِي، فَمَرَّ وَلَمْ يَفْعَلْ، ثُمَّ مَرَّ بِي عُمَرُ، فَسَأَلْتُهُ عَنْ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ، مَا سَأَلْتُهُ إِلَّا لِيُشْبِعَنِي، فَمَرَّ فَلَمْ يَفْعَلْ، ثُمَّ مَرَّ بِي أَبُو القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَتَبَسَّمَ حِينَ رَآنِي، وَعَرَفَ مَا فِي نَفْسِي وَمَا فِي وَجْهِي، ثُمَّ قَالَ: «يَا أَبَا هِرٍّ» قُلْتُ: لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «الحَقْ» وَمَضَى فَتَبِعْتُهُ، فَدَخَلَ، فَاسْتَأْذَنَ، فَأَذِنَ لِي، فَدَخَلَ، فَوَجَدَ لَبَنًا فِي قَدَحٍ، فَقَالَ: «مِنْ أَيْنَ هَذَا اللَّبَنُ؟» قَالُوا: أَهْدَاهُ لَكَ فُلاَنٌ أَوْ فُلاَنَةُ، قَالَ: «أَبَا هِرٍّ» قُلْتُ: لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «الحَقْ إِلَى أَهْلِ الصُّفَّةِ فَادْعُهُمْ لِي» قَالَ: وَأَهْلُ الصُّفَّةِ أَضْيَافُ الإِسْلاَمِ، لاَ يَأْوُونَ إِلَى أَهْلٍ وَلاَ مَالٍ وَلاَ عَلَى أَحَدٍ، إِذَا أَتَتْهُ صَدَقَةٌ بَعَثَ بِهَا إِلَيْهِمْ وَلَمْ يَتَنَاوَلْ مِنْهَا شَيْئًا، وَإِذَا أَتَتْهُ هَدِيَّةٌ أَرْسَلَ إِلَيْهِمْ وَأَصَابَ مِنْهَا وَأَشْرَكَهُمْ فِيهَا، فَسَاءَنِي ذَلِكَ، فَقُلْتُ: وَمَا هَذَا اللَّبَنُ فِي أَهْلِ الصُّفَّةِ، كُنْتُ أَحَقُّ أَنَا أَنْ أُصِيبَ مِنْ هَذَا اللَّبَنِ شَرْبَةً أَتَقَوَّى بِهَا، فَإِذَا جَاءَ أَمَرَنِي، فَكُنْتُ أَنَا أُعْطِيهِمْ، وَمَا عَسَى أَنْ يَبْلُغَنِي مِنْ هَذَا اللَّبَنِ، وَلَمْ يَكُنْ مِنْ طَاعَةِ اللَّهِ وَطَاعَةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُدٌّ، فَأَتَيْتُهُمْ فَدَعَوْتُهُمْ فَأَقْبَلُوا، فَاسْتَأْذَنُوا فَأَذِنَ لَهُمْ، وَأَخَذُوا مَجَالِسَهُمْ مِنَ البَيْتِ، قَالَ: «يَا أَبَا هِرٍّ» قُلْتُ: لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «خُذْ فَأَعْطِهِمْ» قَالَ: فَأَخَذْتُ القَدَحَ، فَجَعَلْتُ أُعْطِيهِ الرَّجُلَ فَيَشْرَبُ حَتَّى يَرْوَى، ثُمَّ يَرُدُّ عَلَيَّ القَدَحَ، فَأُعْطِيهِ الرَّجُلَ فَيَشْرَبُ حَتَّى يَرْوَى، ثُمَّ يَرُدُّ عَلَيَّ القَدَحَ فَيَشْرَبُ حَتَّى يَرْوَى، ثُمَّ يَرُدُّ عَلَيَّ القَدَحَ، حَتَّى انْتَهَيْتُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ رَوِيَ القَوْمُ كُلُّهُمْ، فَأَخَذَ القَدَحَ فَوَضَعَهُ عَلَى يَدِهِ، فَنَظَرَ إِلَيَّ فَتَبَسَّمَ، فَقَالَ: «أَبَا هِرٍّ» قُلْتُ: لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «بَقِيتُ أَنَا وَأَنْتَ» قُلْتُ: صَدَقْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «اقْعُدْ فَاشْرَبْ» فَقَعَدْتُ فَشَرِبْتُ، فَقَالَ: «اشْرَبْ» فَشَرِبْتُ، فَمَا زَالَ يَقُولُ: «اشْرَبْ» حَتَّى قُلْتُ: لاَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالحَقِّ، مَا أَجِدُ لَهُ مَسْلَكًا، قَالَ: «فَأَرِنِي» فَأَعْطَيْتُهُ القَدَحَ، فَحَمِدَ اللَّهَ وَسَمَّى وَشَرِبَ الفَضْلَةَ

    “Demi Allah. Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Dia. Sungguh aku tempelkan perutku ke tanah karena lapar dan aku ganjal perutku dengan batu karena menahan lapar. Pada suatu hari aku duduk di jalan yang biasanya di sana mereka lewat (sepulang menemui Rasulullah). Kemudian Abu Bakar lewat. Aku pun bertanya kepadanya tentang satu ayat Al Qur’an. Dan tidaklah aku menanyakannya, kecuali agar Abu Bakar menjamuku. Namun beliau berlalu begitu saja dan tidak memahami maksudku. Lalu Umar bin Al Khaththab lewat. Aku pun bertanya kepadanya satu ayat Qur’an. Tidaklah kutanyakan hal itu kecuali agar beliau menjamuku. Namun beliau juga berlalu dan tidak memahami maksudku. Kemudian setelah itu Abul Qasim (Rasulullah) Shallallahu’alaihi Wasallam lewat sambil tersenyum ketika memandangku. Beliau mengetahui yang sedang bergejolak dalam hatiku dan yang tersirat dari wajahku. Kemudian Beliau memanggilku,”Wahai, Abu Hirr”. Aku pun menjawabnya, ”Aku penuhi panggilanmu, wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, ”ikuti aku”. Beliau beranjak meninggalkanku dan aku pun mengiringi di belakang Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau masuk rumah, aku pun meminta izin dan diizinkan. Ketika Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam memasuki rumah, beliau mendapati susu dalam bejana. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bertanya kepada para istrinya, “darimana susu ini?” Mereka menjawab, ”Itu hadiah dari fulan atau fulanah”. Beliau pun lalu memanggilku,”Wahai, Abu Hirr”. Aku pun menjawabnya,”Kupenuhi panggilanmu, wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, ”Pergilah pada para Ahlus Shuffah dan undanglah mereka kesini”. Kata Abu Hurairah, Ahlus Shuffah adalah tamu Islam. Mereka tidak menetap kepada rumah dari keluarga tertentu,  tidak memiliki harta dan kerabat seorang pun juga. Jika ada sedekah makanan yang datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, Beliau kirimkan makanan tersebut kepada mereka dan sama sekali tidak ikut mencicipi makanan tersebut. Jika datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berupa hadiah, Beliau pun mengirimkannya kepada Ahlus Shuffah dan ikut bersama menikmatinya. Hal itu kurang berkenan bagiku (karena khawatir tidak cukup untuk semua Ahlus Shuffah, pent.), maka aku berkata (dalam hati), ”Apakah susu ini cukup untuk Ahlus Shuffah? Menurutku, aku lebih berhak pertama kali meminumnya agar aku menjadi kuat dengannya”. Lalu ketika Nabi datang, Beliau menyuruhku untuk membagikannya kepada Ahlus Shuffah. Padahal, mungkin saja susu itu tidak akan sampai kepadaku. Namun, mentaati Allah dan RasulNya merupakan kewajiban. Maka aku pun mendatangi dan mengundang mereka. Lalu mereka datang dan mohon izin masuk. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pun mengizinkannya. Lalu mereka mengambil posisi masing-masing di tempat yang ada di rumah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau memanggilku, ”Wahai, Abu Hirr”. Aku pun menjawabnya, “Kupenuhi panggilanmu, wahai Rasulullah”. Beliau berkata, “Ambil susu itu dan bagikan kepada mereka”. Aku pun mengambil gelas dan memberikannya kepada salah seorang diantara mereka. Ia meminumnya sampai puas dan kenyang, lalu ia kembalikan gelas itu dan aku berikan kepada orang lain. Lalu ia meminumnya sampai puas dan kenyang. Begitu seterusnya hingga berakhir kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam keadaan seluruh Ahlus Shuffah kenyang. Lalu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengambil gelas tadi dan meletakkannya di atas tangan Beliau seraya memandangku sambil tersenyum dan bersabda, “Wahai, Abu Hirr. Duduk dan minumlah”. Aku pun duduk dan meminumnya. Lalu Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda lagi, “Minumlah”, lalu aku minum. Beliau terus menyuruhku untuk minum, sampai aku berkata, ”Cukup. Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, tidak lagi aku dapati tempat untuk minuman dalam tubuhku”. Beliau bersabda, ”Berikanlah kepadaku”. Aku pun menyerahkan gelas tadi, kemudian Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memuji Allah dan meminum susu yang tersisa“ (HR. Bukhari 6000, An Nasa-i 11314, Al Baihaqi 12491)

  7. Yang dimaksud dengan susu dalam hadits-hadits tersebut adalah susu yang berasal dari perahan binatang. Karena hadits menggunakan kata اللبن (al laban), dalam Lisanul ‘Arab dijelaskan:

    اللَّبَنُ خُلاصُ الجَسَدِ ومُسْتَخْلَصُه من بين الفرث والدم، وهو كالعَرق يجري في العُروق

    Al Laban adalah hasil ekstraksi dari tubuh dan diesktraksi dari bagian diantara kotoran dan darah, dan sifatnya seperti keringat, mengalir di pembuluh” Maka tercakup di dalamnya susu sapi, susu unta, susu kambing dan tidak termasuk di dalamnya susu nabati semisal susu kedelai.