Pertanyaan: 
Apa saya kategori dusta yang berbuah dosa? Bagaimana jika tidak bermaksud untuk dusta?
Syaikh Muhammad Ali Farkus menjawab:

الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على من أرسله الله رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمّا بعد

Hukum asal berdusta adalah haram, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

إياكم والكذب فإنّه يهدي إلى الفجور وإنّ الفجور يهدي إلى النّار، وما يزال الرجل يكذب ويتحرى الكذب حتى يكتب عند الله كذابا

Jauhilah dusta karena dusta itu menyeret pada kefajiran dan kefajiran itu menyeret ke neraka. Dan tidaklah seserang berdusta dan biasa berdusta hingga ia dicap sebagai pendusta” (HR. Muslim 6803, At Tirmidzi 2099)
Dusta diharamkan karena di dalamnya terdapat bahaya bagi lawan bicara atau juga bagi selainnya. Namun jika berdusta terkait sebuah maslahah syar’iyyah, hukumnya boleh. Misalnya ketika sedang perang dan tidak tercapai tujuannya kecuali dengan dusta, atau ketika mendamaikan dua orang yang berselisih untuk mengambil hati salah satunya, atau ketika suami-istri terancam kerukunannya kecuali dengan dusta. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

لاَ يَحِلُّ الكَذِبُ إِلاَّ فِي ثَلاَثٍ: يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا، وَالكَذِبُ فِي الحرْبِ والكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ الناسِ”

Tidak halal berdusta kecuali pada 3 hal: seorang suami berbicara kepada istrinya supaya ia ridha, atau berdusta ketika perang, atau untuk mendamaikan orang yang berselisih” (HR. At Tirmidzi 1939, Ahmad 27050, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ 7723)
Karena pembolehkan dusta ini sebatas pada hal yang darurat, maka tidak boleh bermudah-mudah dalam hal yang sebenarnya tidak perlu berdusta. Tsauban maula Rasulullah berkata:

الكذب كله إثم إلا ما نفع به مسلما أو دفع عنه ضررا

“Dusta itu semuanya dosa kecuali yang bermanfaat bagi (agama) seorang muslim atau yang menjauhkannya dari bahaya” (HR. Ar Ruyani 24/126/2, Al Bazzar 2061, secara marfu’. Didha’ifkan oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 5/192, dan yang benar hadits ini mauquf[1])
Oleh karena itu, jika memungkinkan, seseorang mencapai sebuah manfaat atau mencegah sebuah bahaya dengan mu’aridh[2]. Sebagaimana perkataan:

إنّ في المعاريض مندوحة عن الكذب

Mu’aridh adalah alternatif dari dusta
Perkataan ini dikatakan oleh para salaf.
[1] Artinya perkataan ini hanya perkataan Tsauban, bukan sabda Nabi Shallallahu’alahi Wasallam.
[2] Mu’aridh artinya mengatakan sesuatu yang multitafsir, dengan mengatakannya tidak secara lugas dan tegas. Misalnya ketika ditanya pemalak “Kamu punya duit engga?”, kita jawab “Didompet saya tidak ada uang”. Padahal di tas kita ada uang.