عن الوليد بن مسلم قال: حدثنا أبو داود سليمان بن موسى الكوفي: حدثنا دلهم بن صالح عن أبي إسحاق عن مسروق أنه دخل على عائشة يوم عرفة، فقال: اسقوني. فقالت عائشة: يا غلام! اسقه عسلاً. ثم قالت: وما أنت يا مسروق! بصائم؟! قال: لا؛ إني أخاف أن يكون يوم الأضحى. فقالت عائشة: ليس ذاك، إنما يوم عرفة يوم يعرف الإمام، ويوم النحر يوم ينحر الإمام، أو ما سمعت يا مسروق! أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – كان يعدل صومه بصوم ألف يوم، يعني: يوم عرفة

Dari Walid bin Muslim, ia berkata: Abu Daud Sulaiman bin Musa Al Kufi menuturkan kepadaku: Dalham bin Shalih menuturkan kepadaku: dari Abu Ishaq: dari Masruq, ia pernah datang kepada ‘Aisyah di hari Arafah lalu berkata: ‘berilah aku minum’. Aisyah lalu berkata kepada seseorang: ‘wahai pemuda, beri dia madu’. Lalu Aisyah berkata: ‘Ada apa wahai Masruq? Apa kamu sedang puasa?’. Masruq menjawab: ‘tidak, aku khawatir ini adalah hari Idul Adha’. Aisyah lalu berkata: ‘Bukan demikian, hari Arafah adalah hari ketika imam menetapkan itu hari Arafah. Dan hari Idul Adha adalah hari ketika imam menetapkan itu Idul Adha. Atau mungkin kamu belum dengan wahai Masruq, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menyamakan puasa hari ini dengan puasa seribu hari (yaitu puasa Arafah)‘”

Hadits ini dikeluarkan oleh Al ‘Uqaili dalam Adh Dhu’afa (164), Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Ausath (6802).

Penyebab dhaif-nya hadits ini adalah:

  1. ‘An’anah Abu Ishaq, yaitu ‘Amr bin Abdillah As Sabi’i. Ia seorang mudallis, dan juga mukhtalith.
  2. Dalham bin Shalih, statusnya dhaif.
  3. Sulaiman bin Musa Al Kufi. Al ‘Uqaili berkata: “Haditsnya tidak bisa dijadikan mutaba’ah, dan tidak diketahui jalan lain selain darinya”. Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: “fihi layyin (terdapat kelemahan)”.
  4. ‘An’anah Al Walid bin Muslim, ia seorang mudallis walaupun memang terkadang tadlis yang dilakukan adalah tadlis taswiyah.

Maka, sanad hadits ini dhaif (lemah). Selain itu, matan hadits ini menyelisihi hadits-hadits lain yang sanadnya maqbul yang menyatakan bahwa pahala puasa Arafah adalah seperti puasa dua tahun. Sehingga hadits ini menjadi hadits yang munkar.

Hadits dimaksudkan adalah:

حَدَّثَنا أَحْمَدُ بْنُ بُشَيْرٍ ، قَالَ : نا يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ ، قَالَ : نا مُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ ، قَالَ : قَرَأْتُ عَلَى الْفَضْيلِ بْنِ مَيْسَرَةَ ، قَالَ : حَدَّثَنِي أَبُو حَرِيزٍ ، أَنَّهُ سَمِعَ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ ، يَقُولُ : سَأَلَ رَجُلٌ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ ؟ فَقَالَ : ” كُنا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعْدِلُهُ بِصَوْمِ سَنَتَيْنِ “

Ahmad bin Busyair menuturkan kepadaku, ia berkata: Yahya bin Ma’in menuturkan kepadaku, ia berkata: Mu’tamir bin Sulaiman menuturkan kepadaku, ia berkata: aku membaca dari Al Fadhl bin Maisarah, ia berkata: Abu Hariz menuturkan kepadaku bahwa ia mendengar Sa’id bin Jubair berkata: ‘Seorang lelaki bertanya kepada Abdullah bin Umar tentang puasa Arafah’. Beliau lalu berkata: ‘Ketika kami dahulu bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, kami menganggap puasa Arafah itu sama seperti puasa dua tahun‘” (HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath, 768)

Semua perawi hadits ini tsiqah kecuali Abu Hariz (Abdullah bin Husain Al Azdi), Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Ia shaduq yukhti‘”. Adz Dzahabi berkata: “ia diperselisihkan, sebagian men-tsiqah-kannya”. Oleh karena itu sanad hadits ini minimalnya hasan li ghairihi dengan adanya syawahid.

Diantaranya hadits:

صوم يوم عرفة يعدل سنتين: سنة مقبلة، وسنة متأخرة

Puasa Arafah sebanding dengan puasa dua tahun, yaitu setahun yang akan datang dan setahun yang telah berlalu

Dikeluarkan oleh  Tamam Ar Razi dalam Al Fawaid (241/2) dari jalan: Qutbah bin ‘Ala Al Ghanawi, ia berkata, Umar bin Dzar menuturkan kepadaku, dari Mujahid, dari Abdullah bin Umar secara marfu’.

Qutbah bin ‘Ala Al Ghanawi statusnya dhaif, sehingga sanad hadits ini lemah. Namun hadits ini memiliki syawahid diantaranya hadits:

صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ كَفَّارَةُ السَّنَةِ الْمَاضِيَةِ وَالسُّنَّةِ الْمُسْتَقْبَلَةِ

Puasa Arafah menghapuskan dosa tahun lalu dan tahun yang akan datang” (HR. Thabrani dalam Al Ausath 2109, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ 3805)

dan hadits-hadits lain yang masyhur, yang semakna dengan hadits ini.

Kesimpulan

Tidak benar bahwa pahala puasa ‘Arafah sebanding dengan puasa 1000 hari. Yang benar adalah sebanding dengan puasa 2 tahun.

[Diringkas dari Silsilah Al Ahadits Adh Dha’ifah 5191, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah ]