Pertanyaan:

Ketika kita mendengar kata مولى رسول الله  صلى الله عليه وسلم /Maula Rasulillah Shallallahu’alahi Wasallam/ bagaimana kita maknai kata maula di sini?

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah menjawab:

Kata maula memiliki banyak makna. Terkadang maknanya adalah al malik (raja, tuan, pemilik budak), terkadang an nashir (penolong), terkadang al qarib (sahabat dekat), terkadang al mu’taq (budak yang dibebaskan), terkadang al ‘atiiq (orang yang membeaskan budak). Untuk makna an nashir, maka Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam adalah maula bagi kita. Atau bisa juga kita katakan fulan adalah maula Rasulillah. Lalu, jika seseorang mengatakan bahwa seorang sayyid (pemilik budak) adalah maula-nya, maka makna maula adalah al malik. Karena maula seorang budak adalah pemiliknya. Namun jika yang dimaksudkan sebagai maula di sini adalah Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam atau yang lain, maka makna maula adalah pemimpin tertinggi, pimpinan besar, atau semacam itu.

Namun, hendaknya seseorang mengetahui bahwa tidak sepantasnya seseorang menyebut orang lain sebagai maulana (maula kami), karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melarang hal tersebut, beliau bersabda:

لا يقولن أحدكم مولاي فإن مولاكم الله

Jangan sekali-kali memanggil seseorang di antara kalian dengan sebutan maulayya (maula-ku) karena maula kalian adalah Allah

Yang diizinkan untuk mengatakan maula-ku atau sayyid-ku adalah budak. Adapun orang yang merdeka, tidak diperbolehkan. Hendaknya ia mengatakan ‘wahai Abu Fulan‘ atau ‘wahai Fulan‘ atau semacam itu. Inilah yang semestinya. Dan juga janganlah terpedaya oleh kelakukan orang-orang sekarang. Hendaknya seseorang memanggil saudaranya  dengan ‘wahai Abu Fulan‘ atau ‘wahai Fulan‘ atau semacam itu yang mudah dikenali. Sedangkan memanggil dengan ‘wahai maula-ku‘ atau ‘wahai sayyid-ku‘ ini bukanlah yang semestinya.

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/21147