Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

احْضرُوا الذكرَ، وادْنُوا من الإمَام، فإن الرجل لا يَزالُ يَتَبَاعَدُ حتى يُؤَخرُ في الجنة، وإن دَخَلَهَا

Hadirilah khutbah jum’at dan mendekatlah kepada imam. Karena seorang yang selalu jauh dari imam, menyebabkan ia terbelakang dalam memasuki surga, andai ia memasukinya kelak” (HR. Abu Daud 1198, Al Hakim 1/289, Ahmad 5/11)

Dalam riwayat lain digunakan lafadz

احضروا الجمعة

Hadirilah (khutbah) jum’at..” (HR. As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir, 261)

Derajat Hadits

Al Hakim berkata: “Hadits ini shahih sesuai syarat Imam Muslim”. Penilaian tersebut disetujui oleh Adz Dzahabi. Al Albani berkata: “Shahih, sebagaimana yang mereka berdua katakan”.

Faidah hadits

  • Para ulama berbeda pendapat dalam memaknai الذكرَ dalam hadits ini. Sebelum menyebutkan hadits ini, Al ‘Aini berkata: “Bab ini menjelaskan tentang anjuran mendekatnya seseorang kepada imam ketika khutbah jum’at. Sebagian naskah menyebutkan, ketika ceramah. Namun tafsiran yang pertama (ketika khubat jum’at) itu lebih shahih” (Syarh Sunan Abi Daud, 4/448).
  • Hadits ini merupakan dalil dianjurkannya bersegera mendatangi shalat jum’at.
  • Jauh-dekatnya posisi duduk kita dengan imam ketika khutbah, bisa menentukan cepat-lambatnya kita masuk surga, jika masuk.
  • Ali Al Qari menjelaskan isi hadits ini: “احْضرُوا الذكرَ maksudnya hadirilah khutbah yang dipenuhi dengan dzikir kepada Allah dan nasehat kepada manusia. وَادْنُوا maksudnya mendekatlah sedekat mungkin. مِنَ الْإِمَامِ, kepada imam, yaitu selama bukan dengan cara yang haram. فَإِنَّ الرَّجُلَ لَا يَزَالُ يَتَبَاعَدُ karena seorang lelaki yang selalu jauh, yaitu menjauh dari tempat-tempat kebaikan tanpa udzur. حَتَّى يُؤَخَّرَ فِي الْجَنَّةِ menyebabkan ia terbelakang, yaitu terbelakang dalam memasuki surga atau terbelakang dalam mencapai tingkatan surganya, jika memasukinya”.
    Ali Al Qari menukil perkataan Ath Thibbi, bahwa ia mengatakan: “Maksud hadits ini, seorang lelaki yang selalu mengambil tempat yang jauh ketika mendengarkan khutbah atau menjauh dari shaf pertama yang merupakan tempatnya orang-orang muqarrabin, menyebabkan ia tersingkir ke dalam barisannya orang-orang mutasaffilin (para pencari hal yang rendah-rendah)”.
    Ali Al Qari melanjutkan: “Dalam hadits ini terdapat celaan terhadap perilaku orang yang berlambat-lambat dan hinanya cara berpikir mereka, karena mereka lebih memilih hal yang lebih rendahan daripada yang tinggi derajatnya. Lalu, kalimat إن دَخَلَهَا menunjukkan bahwa orang tersebut akan merasa puas sekedar bisa masuk surga walau tidak mendapat derajat yang tinggi dan tempat yang paling mulia” (Mirqatul Mafatih, 3/1036).
  • Al Munawi menambahkan, “Jika demikian keadaan orang yang berlambat-lambat, maka bagaimana lagi keadaan orang yang malah tidak hadir” (Faidhul Qadhir, 1/194).
  • Ketika menjelaskan hadits ini, Al Munawi menukil sebuah syair:

    حاول جسيمات الأمور ولا تقل. . . إن المحامد والعلى أرزاق

    وارغب لنفسك أن تكون مقصرا. . . عن غاية فيها الطلاب سباق

    “Berusahalah mendapatkan hal-hal yang besar, jangan kurang dari itu
    Karena hal yang terpuji dan tinggi itu lebih nikmat
    Menjadi orang yang bercita-cita rendah, bencilah dirimu terhadapnya
    Dalam sebuah tujuan, orang-orang yang berusaha mencapainya lebih dahulu mendapatkannya” (Faidhul Qadhir, 1/194)