Berikut ini kami ringkaskan beberapa bahasan mengenai i’tikaf yang diambil dari kitab Fiqhul I’tikaf karya Syaikh Dr. Khalid Ali Al Musyaiqih –hafizhahullah– . Semua referensi dan tarjih (pemilihan pendapat yang terkuat) dari masalah khilafiyyah adalah dari beliau, Syaikh Dr. Khalid Ali Al Musyaiqih.

Apa hukum i’tikaf?

I’tikaf hukumnya sunnah (dianjurkan). Diantara dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

وَعَهِدْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud” (QS. Al Baqarah: 125)

Dalil dari Sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعتكف العشر الأواخر من رمضان حتى توفاه الله ، ثم اعتكف أزواجه من بعده

Nabi Shallallahu’alahi Wasallam biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau wafat. Sepeninggal beliau, istri-istri beliau pun beri’tikaf” (HR. Bukhari no.2026, Muslim no.1172)

Dalil dari ijma’ para ulama. Ibnul Mundzir dalam Al Ijma’ mengatakan:

وأجمعوا على أن الاعتكاف سنة لا يجب على الناس فرضا إلا أن يوجبه المرء على نفسه فيجب عليه

Para ulama sepakat bahwa i’tikaf itu hukumnya sunnah, tidak diwajibkan bagi manusia. Kecuali bagi orang yang mewajibkan bagi dirinya sendiri, maka wajib

Ijma’ ulama bahwa i’tikaf hukumnya sunnah juga dinukil oleh Syaikhul Islam dalam Syarh ‘Umdatul Fiqh (2/711), Ibnu Hazm dalam Maratibul Ijma’ (41), An Nawawi dalam Al Majmu’ (6/407), dan beberapa ulama lain.

Bolehkah wanita beri’tikaf?

Ada dua pendapat diantara ulama mengenai hal ini:

  • Hukumya sunnah. Ini merupakan pendapat jumhur.
  • Hukumnya makruh bagi wanita muda. Ini merupakan pendapat sebagian Hanabilah semisal Al Qadhi ‘Iyadh.

Yang rajih, hukumnya sunnah berdasarkan keumuman dalil tentang keutamaan i’tikaf dan banyaknya dalil yang menyatakan para shahabiyyah beri’tikaf, diantaranya hadits:

عنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ذَكَرَ أَنْ يَعْتَكِفَ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ ، فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ فَأَذِنَ لَهَا

Dari Aisyah Radhiallahu’anha, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Lalu Aisyah meminta izin untuk ikut beri’tikaf lalu Nabi mengizinkannya” (HR. Bukhari no.2045)

Namun kebolehan i’tikaf bagi wanita selama dipenuhi syarat:

  1. Aman dari fitnah. Sebagaimana syarat ini berlaku secara umum bagi wanita ketika keluar untuk keperluan tertentu.
  2. Suci dari haid dan nifas
  3. Mendapat izin dari suami, atau dari majikan bagi budak wanita

Berapa lama minimal ber-i’tikaf?

Ada empat pendapat diantara ulama mengenai hal ini:

  • Satu hari atau satu malam. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah, sebagian Malikiyyah, salah satu pendapat Syafi’iyyah
  • Sehari semalam. Ini merupakan pendapat Malikiyyah.
  • Sepuluh hari. Ini merupakan pendapat Imam Malik.
  • Beberapa saat (sebentar). Ini merupakan pendapat jumhur ulama.

Yang benar adalah pendapat pertama, batas minimal i’tikaf adalah sehari atau semalam. Berdasarkan hadits:

أن عمر قال : يا رسول الله ، إني نذرت في الجاهلية أن أعتكف ليلة في المسجد الحرام ، قال : ( أوف بنذرك )

Umar berkata: ‘Wahai Rasulullah, di masa Jahiliyyah aku pernah bernadzar untuk beri’tikaf satu malam di masjidil haram’. Rasulullah bersabda: ‘Penuhi nadzarmu’” (HR. Bukhari, no. 6697)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengizinkan Umar untuk beri’tikaf hanya semalam saja, dan itu sudah cukup untuk memenuhi nadzarnya. Ini adalah batas minimal i’tikaf syar’an, baik i’tikaf sunnah maupun i’tikaf wajib karena tidak ada dalil yang membedakan keduanya dalam masalah batas minimal.

Selain itu, tidak ada dalil yang menyatakan bahwa Nabi atau para sahabat pernah beri’tikaf atau menganggap diterimanya i’tikaf sebentar saja.

Bagaimana masjid yang sah dijadikan tempat i’tikaf?

Ada empat pendapat diantara ulama mengenai hal ini:

  • Harus di masjid jama’ah. Ini merupakan pendapat jumhur tabi’in, Hanabilah dan Hanafiyyah.
  • Boleh di setiap masjid, walau tidak pernah dipakai shalat berjama’ah. Ini merupakan pendapat Syafi’iyyah dan Malikiyyah.
  • Harus di masjid jami’, yang diselenggarakan shalat Jum’at di dalamnya. Ini merupakan pendapat Hammad, Ash Shan’ani, Abu Ja’far, Al Hakim. Juga merupakan pendapat Syafi’iyyah dan Malikiyyah, jika masa i’tikaf bertemu dengan shalat Jum’at.
  • Harus di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi atau Masjidil Aqsha. Ini merupakan pendapat Sa’id bin Musayyab dan Atha’.

Yang tepat adalah pendapat pertama. I’tikaf sah disetiap masjid yang diadakan shalat wajib berjama’ah di dalamnya. Dalilnya adalah beberapa fatwa para sahabat, diantaranya

  • Ali Radhiallahu’anhu berkata:

من اعتكف فلا يرفث في الحديث ولا يساب و يشهد الجمعة و الجنازة وليوصل اهله اذا كانت له حاجة و هو قائم لايجلس عندهم

Orang yang beri’tikaf tidak boleh berkata kotor, tidak boleh mencela, harus mendatangi shalat Jum’at dan shalat jenazah, keluarganya boleh mengunjunginya jika memang ada kebutuhan, dan ia dalam keadaan berdiri bukan duduk” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf, 4/356; Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf, 2/334. Sanadnya shahih).

Perkataan Ali يشهد الجمعة (mendatangi shalat jum’at) menunjukkan yang beliau maksud adalah orang yang i’tikaf tidak di masjid Jami’. Dikuatkan dengan riwayat dari beliau yang lain, dari Ali Radhiallahu’anhu ia berkata:

لا اعتكاف الا في مسجد جماعة

Tidak ada i’tikaf kecuali di masjid jama’ah” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf, 4/346. Sanadnya terdapat kelemahan)

  • Ibnu Abbas Radhiallahu’anhuma berkata:

لا اعتكاف الا في مسجد تجمع فيه الصلوات

Tidak ada i’tikaf kecuali di masjid tempat manusia berkumpul melaksanakan shalat” (Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad bin Hambal dalam Al Masa’il, 2/673. Sanadnya shahih)

Apakah keluar sebagian badan dari masjid dapat membatalkan i’tikaf?

Keluar sebagian badan tidak membatalkan i’tikaf berdasarkan ijma’. Diantara dalilnya adalah hadits:

عن عائشة رضي الله عنها : أنها كانت ترجل النبي صلى الله عليه وسلم وهي حائض ، وهو معتكف في المسجد ، وهي في حجرتها ، يناولها رأسه

Dari Aisyah Radhiallahu’anha: Pernah suatu ketika ‘Aisyah menyisiri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pada saat ‘Aisyah sedang haid. Nabi sedang i’tikaf di dalam masjid, sedangkan ‘Aisyah dari dalam kamarnya. Nabi menjulurkan kepala beliau kepada Aisyah” (HR. Bukhari, no. 2046)

Apakah keluar seluruh badan tanpa udzur dari masjid dapat membatalkan i’tikaf?

Keluar seluruh badan tanpa udzur membatalkan i’tikaf berdasarkan ijma’. Diantara dalilnya adalah hadits:

وَكَانَ لاَ يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلاَّ لِحَاجَةٍ إِذَا كَانَ مُعْتَكِفًا

Rasulullah tidak masuk ke rumah kecuali untuk suatu kebutuhan ketika beliau sedang ber-i’tikaf” (HR. Bukhari no.2029, Muslim no.711)

Ulama Hanafiyyah memberi batasan tambahan yaitu keluar tanpa udzur lebih dari 1 jam baru dikatakan batal.

Apa batasan ‘keluar dari masjid’?

Dalam masalah ini perlu dirinci bagian-bagian masjid mana yang sah untuk tempat beri’tikaf:

  • Tempat shalat. Para ulama sepakat sahnya beri’tikaf di bagian masjid yang dijadikan tempat untuk shalat.
  • Teras masjid. Jumhur ulama berpendapat sahnya beri’tikaf di bagian masjid, Malikiyyah berpendapat tidak sah.
  • Halaman masjid. Dalam hal ini ada tiga pendapat berkaitan dengan apakah halaman masjid termasuk masjid?
    • Jika bersambung dengan masjid dan dilingkupi oleh sesuatu seperti pagar, maka termasuk masjid dan i’tikaf tetap sah. Jika tidak bersambung atau tidak ada pagar, maka halaman masjid tidak termasuk masjid, dan dianggap keluar masjid jika berada di sana. Ini merupakan pendapat Syafi’iyyah, Imam Ahmad, sebagian Hanabilah.
    • Halaman masjid secara mutlak tidak termasuk masjid. Ini merupakan pendapat Malikiyyah dan pendapat pegangan mazhab Hanabilah.
    • Sah beri’tikaf di halaman masjid jika membangun tenda di tempat itu. Ini merupakan pendapat Imam Malik. Yang rajih, halaman masjid adalah termasuk masjid jika bersambung dan dilingkupi pagar, berdasarkan kemutlakan kata masjid.
  • Menara masjid yang digunakan untuk adzan. Ada tiga keadaan:
    • Jika berada di dalam masjid, i’tikaf tetap sah di sana sebagaimana pendapat jumhur ulama. Namun Malikiyyah menyatakan tidak sah.
    • Jika berada di luar masjid, ada tiga pendapat:
      • Tidak membatalkan i’tikaf bagi muadzin tetap. Ini pendapat sebagian Hanafiyyah, pendapat pegangan mazhab Syafi’iyyah, sebagian Hanabilah dan Ibnu Hazm.
      • Dianggap keluar masjid dan membatalkan i’tikaf. Ini pendapat pegangan mazhab Hanafiyyah, dan sebagian Syafi’iyyah.
      • Tidak dianggap keluar masjid dan tidak membatalkan i’tikaf. Ini pendapat sebagian Syafi’iyyah, pendapat pegangan madzhab Malikiyyah dan Hanabilah. Pendapat pertama yang lebih rajih, karena menara dibangun untuk kemaslahatan adzan masjid.
    • Jika berada di halaman masjid, hukumnya sebagaimana hukum halaman masjid.

Apa saja pembatal i’tikaf?

Secara ringkas, pembatal i’tikaf adalah:

  1. Keluar masjid, sebagaimana sudah dijelaskan
  2. Jima’
  3. Bermesraan sampai keluar mani
  4. Memandang sesuatu yang menimbulkan syahwat sampai keluar mani
  5. Keluarnya darah haid atau nifas
  6. Hilang akal
  7. Mabuk
  8. Melakukan dosa besar, semisal ghibah dan namimah
  9. Murtad
  10. Berniat membatalkan i’tikaf

Jika pembatal-pembatal ini dilakukan dalam keadaan tidak tahu, tidak sengaja atau lupa maka tidak membatalkan i’tikaf

Bolehkah keluar masjid untuk makan atau minum?

Dalam hal ini ada dua pendapat:

  • Tidak boleh kecuali tidak ada orang yang mengantarkan makanan. Ini adalah pendapat jumhur ulama.
  • Boleh jika masjidnya sering didatangi orang, sehingga malu jika makan di sana. Jika masjidnya jarang dikunjungi orang, tidak boleh. Ini adalah pendapat Syafi’iyyah

Dalil yang digunakan jumhur adalah hadits:

وَكَانَ لاَ يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلاَّ لِحَاجَةٍ إِذَا كَانَ مُعْتَكِفًا

Rasulullah tidak masuk ke rumah kecuali untuk suatu kebutuhan ketika beliau sedang ber-i’tikaf” (HR. Bukhari no.2029, Muslim no.711)

Dalam hal ini bisa diambil simpul dari 2 pendapat, yaitu jika memang tidak ada orang yang mengantarkan makanan atau jika malu makan di masjid, boleh keluar masjid untuk makan atau minum.

Bolehkah mengadakan pengajian di waktu i’tikaf?

Ada dua pendapat dalam hal ini:

  • Hal tersebut disyariatkan. Ini adalah pendapat Syafi’iyyah dan Hanafiyyah.
  • Makruh. Ini adalah pendapat Hanabilah dan Malikiyah.

Yang rajih, hal tersebut disyariatkan, salah satu dalilnya adalah hadits berikut, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

فقيل لي : إنها في العشر الأواخر . فمن أحب منكم أن يعتكف فليعتكف ” فاعتكف الناس معه . قال : ” وإني أريتها ليلة وتر ، وأني أسجد صبيحتها في طين وماء ” فأصبح من ليلة إحدى وعشرين

“’Diwahyukan kepadaku bahwa lailatul qadar itu ada di sepuluh malam terakhir. Barangsiapa yang ingin beri’tikaf, maka lakukanlah’. Lalu orang-orang pun beri’tikaf. Nabi bersabda: ‘Aku melihatnya ada di malam ganjil, dan di pagi hari aku sujud di atas air dan tanah’. Itu terjadi di malam kedua puluh satu..” (HR. Muslim no.1167 )

Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berbicara kepada para sahabat, dan pembicaraan beliau berupa pengajaran tentang lailatul qadar. Menunjukkan disyariatkannya memberi pengajaran ketika i’tikaf.

Selain itu, dalam hadits Aisyah yang menyisir rambut Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga dijadikan dalil oleh jumhur, karena tentu memberi pengajaran ilmu lebih penting daripada menyisir rambut. Jika Rasulullah masih sempat meluangkan waktu untuk disisiri rambutnya, tentu pengajaran ilmu lebih pantas untuk disempatkan.

Sedangkan pendapat kedua beralasan dengan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa i’tikaf itu selayaknya menyibukkan diri secara individual ber-tabattul kepada Allah.

Sehingga yang rajih, mengadakan pengajian di waktu i’tikaf itu masyru’ namun selayaknya tidak terlalu menghabiskan banyak waktu sehingga mayoritas waktu i’tikaf dapat digunakan untuk beribadah secara individual.

Apa yang dianjurkan untuk dilakukan orang yang beri’tikaf?

Secara ringkas, hal-hal yang dianjurkan untuk dilakukan adalah:

  • Memperbanyak ibadah mahdhah, yaitu aktifitas yang murni ibadah, seperti shalat wajib, shalat sunnah, membaca Al Qur’an, berdzikir, bershalawat, berdoa, dan semacamnya
  • Melakukan ibadah muta’addiyah, semisal bersedekah, membayar zakat, menebar salam, memberi pengajaran, mendengar pengajian, mencegah kemungkaran, dan semacamnya, namun dianjurkan tidak terlalu menghabiskan waktu dalam hal ini, agar bisa lebih mencurahkan waktu dengan ibadah mahdhah.
  • Menyiapkan pakaian dan perbekalan, sebagaimana para sahabat juga menyiapkannya
  • Membuat pojokan, tenda, atau semacamnya untuk tempat i’tikaf.
  • Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat
  • Mendatangi shalat Jum’at
  • Dianjurkan menginap di masjid di malam hari raya, sebagaimana dilakukan oleh Ibnu Umar, Abu Qilabah, Abu Bakr bin Abdurrahman, dll. Sehingga mengakhiri i’tikaf dengan keluar menuju shalat ‘Ied.

Bolehkah tidur ketika i’tikaf?

Orang yang beri’tikaf dibolehkan tidur di masjid dalam masa i’tikaf, dan ini merupakan ijma ulama. Diantara dalilnya adalah hadits:

وَكَانَ لاَ يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلاَّ لِحَاجَةٍ إِذَا كَانَ مُعْتَكِفًا

Rasulullah tidak masuk ke rumah kecuali untuk suatu kebutuhan ketika beliau sedang ber-i’tikaf” (HR. Bukhari no.2029, Muslim no.711)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam beri’tikaf selama 10 hari, maka dari hadits di atas dapat diambil mafhum bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidur di masjid. Sebagian Hanabilah berpendapat bahwa sebaiknya tidak tidur kecuali bila ketiduran.

Ringkasnya, tidur hukumnya boleh selama beri’tikaf namun jangan sampai terlalu banyak tidur karena hakikat i’tikaf adalah menyibukkan diri dengan beribadah dan ‘berduaan’ dengan Allah Ta’ala.