Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ما نهيتكم عنه فاجتنبوه، وما أمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم ، فإنما أهلك الذين من قبلكم كثرة مسائلهم واختلافهم على أنبيائهم

Apa yang aku larang, tinggalkanlah. Apa yang aku perintahkan, kerjakanlah semampu kalian. Karena umat sebelum kalian telah binasa karena banyak bertanya dan banyak melanggar ajaran Nabi mereka” (Muttafaqun ‘Alaih)

Dari hadits ini para ulama melarang berlebihan dalam bertanya. Syaikh Ibnu Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata: “Hendaknya seseorang tidak suka banyak bertanya. Terlebih lagi di masa ketika wahyu masih turun, karena dengan banyak bertanya dalam mengharamkan yang tidak haram dan mewajibkan yang tidak wajib. Sebaiknya seseorang itu tidak terlalu sering bertanya dan hanya bertanya pada hal yang dibutuhkan saja

Syaikh Shalih Alu Syaikh hafizhahullah berkata: “Dahulu para sahabat –ridhwanullah ‘alaihim– jarang bertanya kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, semuanya terjawab dalam Al Qur’an. Oleh karena itu mereka senang jika ada orang Badwi datang bertanya kepada Nabi, mereka mengambil faedah dari pertanyaan itu. Ini adalah adab yang penting. Karena orang yang banyak bertanya menunjukkan kurang agamanya, kurang wara’ dan menunjukkan ia bukan seorang penuntut ilmu. Sebaiknya, seorang penuntut ilmu, pencari kebenaran dan kebaikan itu mempersedikit pertanyaan sebisa mungkin”

(Kutipan ini dari Syarh Arba’in Nawawi, penjelasan hadits ke 9, cetakan Darul Mustaqbal)

Adab seorang penuntut ilmu itu adalah memperbanyak muraja’ah (mengulang pelajaran), jika menemukan permasalahan maka mencoba muthala’ah (mengkaji), jika sudah dicoba masih belum menemukan jawaban, baru bertanya. Sehingga pertanyaannya sedikit.

Semoga Allah Ta’ala menambahkan kepada saya dan anda sekalian, ilmu yang bermanfaat.

Advertisements