وأما القراءة بالألحان فقد قال الشافعي رحمه الله في موضع أكرهها قال أصحابنا ليست على قولين بل فيه تفصيل إن أفرط في التمطيط فجاوز الحد فهو الذي كرهه وإن لم يجاوز فهو الذي لم يكرهه وقال أقضى القضاة الماوردي في كتابه الحاوي القراءة بالألحان الموضوعة إن أخرجت لفظ القرآن عن صيغته بإدخال حركات فيه أو إخراج حركات منه أو قصر ممدود أو مد مقصور أو تمطيط يخفي به بعض اللفظ ويتلبس المعنى فهو حرام يفسق به القارئ

Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An Nawawi –rahimahullah– berkata:
“Adapun membaca Al Qur’an dengan lahn*, Imam Asy Syafi’i berpendapat hukumnya makruh.

Namun para ulama Syafi’iyyah berkata: ‘Tentang masalah ini bukanlah ada dua pendapat, melainkan dirinci. Bila seseorang membaca Al Qur’an dengan berlebihan dalam mendayu-dayu hingga melewati batas, hukumnya makruh. Jika belum sampai melewati batas, tidak makruh’.

Dalam kitab Al Hawi milik Imam Al Mawardi, beliau berkata: ‘Membaca Qur’an dengan lahn yang dibuat-buat, jika sampai mengeluarkan lafadz Qur’an dari bentuknya, dengan menambahkan harakat atau mengurangi harakat, atau memendekkan yang panjang serta memanjangkan yang pendek, atau berlebihan dalam mendayu-dayu sehingga sebagian lafadz menjadi samar dan makna ayat menjadi rancu, yang seperti ini hukumnya haram, pelakunya menjadi orang fasiq karena perbuatannya itu ‘ ”.
(At Tibyan Fii Adabi Hamalatil Qur’an, 111)

*) Lahn:
اللَّحْن: من الأَصوات المصوغة الموضوع
Lahn adalah suara yang dibuat-buat agar terdengar indah” (Lisaanul-Arab)