Pada sebuah kesempatan, Syaikh Abdul Aziz Bin Baz ditanya:

Saya seorang mu’min, alhamdulillah. Saya telah menunaikan umroh dan haji, namun walau demikian saya belum merasakan manisnya iman. Apa nasehat anda?

Beliau menjawab:

Nasehatku untuk anda, hendaknya anda bersemangat melaksanakan segala ketaatan yang disyariatkan oleh Allah Jalla Wa’Ala, juga memperbanyak membaca Al Qur’an Karim, serta dzikir kepada Allah. Hal-hal ini merupakan sebab-sebab timbulnya rasa cinta serta manisnya iman, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان، أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد أن أنقذه منه كما يكره أن يقذف في النار

Ada tiga hal, jika seseorang memilikinya ia akan merasakan manisnya Iman, yaitu ia menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, dan ia mencintai seseorang dikarenakan cinta pada Allah, dan ia membenci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak ingin dilemparkan pada neraka

Maka dari hadits ini, cinta sejati kepada Allah dan Rasul-Nya, mencintai saudara anda sesama muslim karena Allah, serta membenci kekufuran karena kecintaan kepada Allah, tiga hal ini merupakan sebab-sebab timbulnya kelezatan iman.

Selain itu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

ذاق طعم الإيمان من رضي بالله رباً وبالإسلام ديناً، وبمحمد رسول

Orang yang merasakan kelezatan iman adalah orang yang ridha untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan baginya, dan Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai Rasul-Nya

Sabda beliau ذاق طعم الإيمان maksudnya ialah, bahwa memperbanyak dzikir, membaca Al Qur’an, konsisten dalam melakukan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, mencintai Allah dan Rasul-Nya, mencintai saudara anda karena Allah, membenci kekufuran dan maksiat, semua ini adalah sebab-sebab untuk mendapatkan kelezatan iman, merasakan manisnya iman, rasa senang dalam melakukan ketaata hingga sangat menikmatinya.

Semua ini dikarenakan kesungguhan dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah dan kecintaan yang sejati kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sumber: http://www.ibnbaz.org.sa/mat/17210