Kita semua tentu masih ingat ayahanda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, namanya Abdullah. Abdullah adalah putra dari Abdul Muthallib yang merupakan orang terhormat di Bani Hasyim dan orang terhormat di suku Quraisy.

Dan perlu diketahui, ayahanda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tersebut tidak pernah berjumpa dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, karena ia wafat sebelum beliau Shallallahu’alaihi Wasallam lahir. Maka, tentu ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam belum sampai kepada Abdullah. Abdullah pun bukan merupakan pengikut syariat Islam yang berlaku ketika itu, yaitu syariat Nabi Isa ‘alaihissalam. Abdullah sebagaimana sebagian besar suku Quraisy adalah penyembah berhala. Maka meskipun ia adalah ayah dari seorang Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, ia termasuk kalangan orang kafir musyrik.

Hal ini juga dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sendiri, dalam sebuah hadits shahih:
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلا قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَيْنَ أَبِي ؟ قَالَ : فِي النَّارِ . فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ ، فَقَالَ : إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّار
Dari Anas Radhiallahu’anhu, ada seorang laki-laki bertanya: ‘Wahai Rasulullah, dimana ayahku? (di akhirat kelak). ’ Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab: ‘Di neraka’. Ketika orang itu hendak pergi, beliau memanggilnya lalu berkata: ‘Ayahku dan ayahmu di neraka’ ” (HR. Muslim)

Dalam Syarh Shahih Muslim, Imam An Nawawi menjelaskan hadits ini: “Setiap orang yang mati dalam keadaan kafir, kekal di neraka. Kekerabatan tidak dapat menolongnya. Hadits ini juga dalil bahwa orang yang mati pada masa belum utusnya Rasullah, semisal orang-orang arab yang menyembah berhala, mereka kekal di neraka. Bukan berarti belum ada yang menyampaikan ajaran Islam kepada mereka. Karena da’wah Nabi Ibrahim dan para Nabi yang lain telah sampai kepada mereka”

Terdapat juga hadits lain yang menegaskan hal ini, yaitu bahwa kedua orang tua Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam kafir:
اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لأُمِّي فَلَمْ يَأْذَنْ لِي ، وَاسْتَأْذَنْتُهُ أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأَذِنَ لِي
Aku meminta izin kepada Allah agar aku boleh memintakan ampunan untuk ibuku kepada-Nya, namun aku tidak diberi izin. Lalu aku meminta izin agar aku boleh mengunjungi kuburnya, aku diizinkan” [HR. Muslim]
Dalam Syarh Sunan Abi Daud dijelaskan: “Karena ibunda beliau tergolong orang kafir dan tidak boleh memintakan ampunan untuk orang kafir”

Nah, lalu apa fakta menariknya? Kita telah ketahui bahwa ayahanda Rasullah Shallallahu’alaihi Wasallam adalah orang kafir, penyembah berhala, belum pernah bertemu Rasullah Shallallahu’alaihi Wasallam, bukan Muslim dan termasuk golongan orang yang kekal di neraka. Namun perhatikan nama beliau, ABDULLAH, yang artinya HAMBA ALLAH. Di sinilah sisi menariknya, yaitu kita bisa mengetahui bahwa orang-orang kafir Quraisy di zaman Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam yang menyembah berhala, yang memusuhi beliau, tidak mau menerima ajaran Islam yang beliau bawa, TERNYATA MEREKA MENYEMBAH ALLAH JUGA.

Dari sini jelaslah bahwa ajaran Islam yang sebenarnya adalah bukan sekedar mengajak untuk menyembah Allah, karena kaum kafir Quraisy pun telah menyembah Allah bersamaan dengan penyembahan mereka kepada berhala, pohon, kuburan, batu, dan lainnya. Namun, ajaran Islam yang sebenarnya adalah MENGAJAK UNTUK MENYEMBAH ALLAH SAJA. Dan inilah inti ajaran Islam yang sesungguhnya.