<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kang Aswad</title>
	<atom:link href="http://kangaswad.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kangaswad.wordpress.com</link>
	<description>Seorang Muslim, Seorang Ayah dan Kuli IT</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Jan 2012 06:45:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='kangaswad.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Kang Aswad</title>
		<link>http://kangaswad.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kangaswad.wordpress.com/osd.xml" title="Kang Aswad" />
	<atom:link rel='hub' href='http://kangaswad.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Mendekati Imam, Mendekati Surga</title>
		<link>http://kangaswad.wordpress.com/2011/12/30/mendekati-imam-mendekati-surga/</link>
		<comments>http://kangaswad.wordpress.com/2011/12/30/mendekati-imam-mendekati-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 01:35:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kang Aswad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangaswad.wordpress.com/?p=857</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: "Hadirilah khutbah jum'at dan mendekatlah kepada imam. Karena seorang lelaki yang selalu jauh dari imam, menyebabkan ia terbelakang dalam memasuki surga, andai ia memasukinya kelak"<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangaswad.wordpress.com&amp;blog=8489070&amp;post=857&amp;subd=kangaswad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">احْضرُوا الذكرَ، وادْنُوا من الإمَام، فإن الرجل لا يَزالُ يَتَبَاعَدُ حتى يُؤَخرُ في الجنة، وإن دَخَلَهَا</p>
<p>&#8220;<em>Hadirilah khutbah jum&#8217;at dan mendekatlah kepada imam. Karena seorang yang selalu jauh dari imam, menyebabkan ia terbelakang dalam memasuki surga, andai ia memasukinya kelak</em>&#8221; (HR. Abu Daud 1198, Al Hakim 1/289, Ahmad 5/11)</p>
<p>Dalam riwayat lain digunakan lafadz</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">احضروا الجمعة</p>
<p>&#8220;<em>Hadirilah (khutbah) jum&#8217;at..</em>&#8221; (HR. As Suyuthi dalam <em>Jami&#8217; Ash Shaghir</em>, 261)</p>
<p><strong>Derajat Hadits</strong></p>
<p>Al Hakim berkata: &#8220;Hadits ini shahih sesuai syarat Imam Muslim&#8221;. Penilaian tersebut disetujui oleh Adz Dzahabi. Al Albani berkata: &#8220;Shahih, sebagaimana yang mereka berdua katakan&#8221;.</p>
<p><strong>Faidah hadits</strong></p>
<ul>
<li>Para ulama berbeda pendapat dalam memaknai الذكرَ dalam hadits ini. Sebelum menyebutkan hadits ini, Al &#8216;Aini berkata: &#8220;Bab ini menjelaskan tentang anjuran mendekatnya seseorang kepada imam ketika khutbah jum&#8217;at. Sebagian naskah menyebutkan, ketika ceramah. Namun tafsiran yang pertama (ketika khubat jum&#8217;at) itu lebih shahih&#8221; (<em>Syarh Sunan Abi Daud</em>, 4/448).</li>
<li>Hadits ini merupakan dalil dianjurkannya bersegera mendatangi shalat jum&#8217;at.</li>
<li>Jauh-dekatnya posisi duduk kita dengan imam ketika khutbah, bisa menentukan cepat-lambatnya kita masuk surga, jika masuk.</li>
<li>Ali Al Qari menjelaskan isi hadits ini: &#8220;احْضرُوا الذكرَ maksudnya hadirilah khutbah yang dipenuhi dengan dzikir kepada Allah dan nasehat kepada manusia. وَادْنُوا maksudnya mendekatlah sedekat mungkin. مِنَ الْإِمَامِ, kepada imam, yaitu selama bukan dengan cara yang haram. فَإِنَّ الرَّجُلَ لَا يَزَالُ يَتَبَاعَدُ karena seorang lelaki yang selalu jauh, yaitu menjauh dari tempat-tempat kebaikan tanpa udzur. حَتَّى يُؤَخَّرَ فِي الْجَنَّةِ menyebabkan ia terbelakang, yaitu terbelakang dalam memasuki surga atau terbelakang dalam mencapai tingkatan surganya, jika memasukinya&#8221;.<br />
Ali Al Qari menukil perkataan Ath Thibbi, bahwa ia mengatakan: &#8220;Maksud hadits ini, seorang lelaki yang selalu mengambil tempat yang jauh ketika mendengarkan khutbah atau menjauh dari shaf pertama yang merupakan tempatnya orang-orang <em>muqarrabin</em>, menyebabkan ia tersingkir ke dalam barisannya orang-orang <em>mutasaffilin</em> (para pencari hal yang rendah-rendah)&#8221;.<br />
Ali Al Qari melanjutkan: &#8220;Dalam hadits ini terdapat celaan terhadap perilaku orang yang berlambat-lambat dan hinanya cara berpikir mereka, karena mereka lebih memilih hal yang lebih rendahan daripada yang tinggi derajatnya. Lalu, kalimat إن دَخَلَهَا menunjukkan bahwa orang tersebut akan merasa puas sekedar bisa masuk surga walau tidak mendapat derajat yang tinggi dan tempat yang paling mulia&#8221; (<em>Mirqatul Mafatih</em>, 3/1036).</li>
<li>Al Munawi menambahkan, &#8220;Jika demikian keadaan orang yang berlambat-lambat, maka bagaimana lagi keadaan orang yang malah tidak hadir&#8221; (<em>Faidhul Qadhir</em>, 1/194).</li>
<li>Ketika menjelaskan hadits ini, Al Munawi menukil sebuah syair:
<p style="font-size:18px;text-align:right;">حاول جسيمات الأمور ولا تقل. . . إن المحامد والعلى أرزاق</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">وارغب لنفسك أن تكون مقصرا. . . عن غاية فيها الطلاب سباق</p>
<p>&#8220;Berusahalah mendapatkan hal-hal yang besar, jangan kurang dari itu<br />
Karena hal yang terpuji dan tinggi itu lebih nikmat<br />
Menjadi orang yang bercita-cita rendah, bencilah dirimu terhadapnya<br />
Dalam sebuah tujuan, orang-orang yang berusaha mencapainya lebih dahulu mendapatkannya&#8221; (<em>Faidhul Qadhir</em>, 1/194)</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangaswad.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangaswad.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangaswad.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangaswad.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kangaswad.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kangaswad.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kangaswad.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kangaswad.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangaswad.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangaswad.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangaswad.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangaswad.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangaswad.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangaswad.wordpress.com/857/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangaswad.wordpress.com&amp;blog=8489070&amp;post=857&amp;subd=kangaswad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangaswad.wordpress.com/2011/12/30/mendekati-imam-mendekati-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ed664ead9a91184cb40808b8b28e52f?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Aswad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mencari Kalung &#8216;Aisyah</title>
		<link>http://kangaswad.wordpress.com/2011/12/27/mencari-kalung-aisyah/</link>
		<comments>http://kangaswad.wordpress.com/2011/12/27/mencari-kalung-aisyah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 23:00:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kang Aswad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[dukun]]></category>
		<category><![CDATA[gaib]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangaswad.wordpress.com/?p=853</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah Shalallahu‘alaihi Wasallam yang mulia saja tidak bisa menerawang barang hilang yang ada di dekatnya, apatah lagi si 'ustadz' ?<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangaswad.wordpress.com&amp;blog=8489070&amp;post=853&amp;subd=kangaswad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Belum lama ini masjid di dekat rumah saya mendapat musibah. Kotak infaq yang terdapat di dalam masjid dibobol pencuri. Ini sudah kejadian yang kedua kalinya, setahu saya. Namun musibah yang lebih besar, salah seorang pengurus masjid melontarkan ide untuk meminta bantuan &#8216;ustadz&#8217; kenalannya yang bisa menerawang siapa dan ada dimana pelakunya. Saya sendiri tidak tahu ide itu akhirnya dilaksanakan atau tidak. Semoga tidak.</p>
<p>Miris sekali seorang yang notabene pengurus masjid melontarkan ide yang demikian. Yaitu meminta bantuan &#8216;ustadz&#8217; yang lebih tepat kita katakan sebagai dukun, yang mengaku mengetahui hal-hal gaib dengan ilmu sihir ataupun bantuan jin. Padahal jelas meminta bantuan kepada dukun adalah perbuatan musyrik dalam Islam.</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">من أتى كاهنا فصدقه بما قال ؛ فقد كفر بما أنزل على محمد صلى الله عليه وسلم</p>
<p>&#8220;<em>Barangsiapa mendatangi dukun dan membenarkan perkataannya, ia telah kufur terhadap ajaran yang dibawa oleh Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></em>&#8221; (HR. Abu Nu&#8217;aim dalam <em>Al Hilyah</em> 8/270. Dishahihkan Al Albani dalam <em>Silsilah Ahadits Shahihah</em> 3387)</p>
<p>Mungkin ada yang bertanya, apa tidak mungkin si &#8216;ustadz&#8217; itu memang dikarunia &#8216;ilmu&#8217; oleh Allah untuk mengetahui hal gaib, mungkin ia orang shalih yang diberi keutamaan? Kita tanyakan kembali kepada penanya, lebih mulia mana antara &#8216;ustadz&#8217; tersebut dengan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam?</em> Sedangkan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> saja tidak mengetahui barang hilang yang sebenarnya ada di dekat beliau. Sebagaimana diceritakan oleh &#8216;Aisyah <em>Radhiallahu&#8217;anha</em>:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في بعض أسفاره ، حتى إذا كنا بالبيداء أو ذات الجيش انقطع عقد لي ، فأقام رسول الله صلى الله عليه وسلم على التماسه ، وأقام الناس معه ، وليسوا على ماء ، وليس معهم ماء ، فأتى الناس أبا بكر رضي الله عنه ، فقالوا : ألا ترى ماصنعت عائشة ؟ ! أقامت برسول الله صلى الله عليه وسلم وبالناس ، وليسوا على ماء ، وليس معهم ماء ، فجاء أبو بكر رضي الله عنه ، ورسول الله صلى الله عليه وسلم ، واضع رأسه على فخذي قد نام ، فقال حبست رسول الله صلى الله عليه وسلم والناس ، وليسوا على ماء ، وليس معهم ماء ؟ ! قالت عائشة : فعاتبني أبو بكر وقال : ما شاء الله أن يقول ، وجعل يطعن بيده في خاصرتي ، فما منعني من التحرك إلا مكان رسول الله صلى الله عليه وسلم على فخذي ! فنام رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى أصبح على غير ماء ، فأنزل الله عز وجل آية التيمم . فقال أسيد بن حضير : ما هي بأول بركتكم يا آل أبي بكر ! قالت : فبعثنا البعير الذي كنت عليه ، فوجدنا العقد تحته</p>
<p>“<em>Kami keluar bersama Rasulullah Shalallahu‘alaihi Wasallam pada beberapa perjalanan beliau. Tatkala kami sampai di Al-Baidaa atau di daerah Dzatul Jaisy, kalungku terputus. Rasulullah Shalallahu‘alaihi Wasallam pun berhenti untuk mencari kalung tersebut. Orang-orang yang ikut bersama beliau pun ikut berhenti mencari kalung tersebut. Padahal mereka tatkala itu tidak dalam keadaan bersuci (dalam keadaan berwudu) dan tidak membawa air. Sehingga orang-orang pun berdatangan menemui Abu bakar Ash-Shiddiq dan berkata, ‘Tidakkah engkau lihat apa yang telah dilakukan oleh Aisyah? Ia membuat Rasulullah Shalallahu‘alaihi Wasallam dan orang-orang berhenti padahal mereka tidak dalam keadaan bersuci dan tidak membawa air. Maka Abu Bakar pun menemuiku, lalu ia mengatakan apa yang dikatakannya. Lalu ia memukul pinggangku dengan tangannya. Tidak ada yang mencegahku untuk menghindar kecuali karena Rasulullah Shalallahu‘alaihi Wasallam yang sedang tidur di atas pahaku. Rasulullah Shalallahu‘alaihi Wasallam terus tertidur hingga subuh dalam keadaan tidak bersuci. Lalu Allah menurunkan ayat tentang tayammum. Usaid bin Al-Hudhair mengatakan, “Ini bukanlah awal keberkahan kalian wahai keluarga Abu Bakar”. Lalu kami pun menyiapkan unta yang sedang aku tumpangi, ternyata kalung itu berada di bawahnya</em>”. (HR. An Nasa-i no.309, dishahihkan Al Albani dalam <em>Shahih Sunan An Nasa-i</em>)</p>
<p>Rasulullah <em>Shalallahu‘alaihi Wasallam</em> yang mulia saja tidak bisa menerawang barang hilang yang ada di dekatnya, apatah lagi si &#8216;ustadz&#8217; ? Dan beliau tidak terpikir untuk melakukannya (menerawang). Beliau mengambil sebab yang benar untuk mendapatkannya, yaitu dengan mencari. Dan, andai meminta bantuan jin itu halal, sudah barang tentu tidak sulit bagi beliau melakukannya.</p>
<p>Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada kita dan seluruh kaum muslimin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangaswad.wordpress.com/853/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangaswad.wordpress.com/853/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangaswad.wordpress.com/853/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangaswad.wordpress.com/853/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kangaswad.wordpress.com/853/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kangaswad.wordpress.com/853/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kangaswad.wordpress.com/853/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kangaswad.wordpress.com/853/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangaswad.wordpress.com/853/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangaswad.wordpress.com/853/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangaswad.wordpress.com/853/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangaswad.wordpress.com/853/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangaswad.wordpress.com/853/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangaswad.wordpress.com/853/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangaswad.wordpress.com&amp;blog=8489070&amp;post=853&amp;subd=kangaswad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangaswad.wordpress.com/2011/12/27/mencari-kalung-aisyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ed664ead9a91184cb40808b8b28e52f?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Aswad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bukan Orang Yang Gemar Bersenang-Senang</title>
		<link>http://kangaswad.wordpress.com/2011/12/07/bukan-orang-yang-gemar-bersenang/</link>
		<comments>http://kangaswad.wordpress.com/2011/12/07/bukan-orang-yang-gemar-bersenang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 02:21:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kang Aswad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[senang-senang]]></category>
		<category><![CDATA[zuhud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangaswad.wordpress.com/?p=848</guid>
		<description><![CDATA["Tinggalkanlah sifat gemar bersenang-senang (at tana'um). Karena hamba Allah yang sejati bukanlah orang yang gemar bersenang-senang"<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangaswad.wordpress.com&amp;blog=8489070&amp;post=848&amp;subd=kangaswad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="font-size:18px;text-align:right;">عن معاذ ابن جبل أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما بعث به إلى اليمن قال له إياك والتنعم فإن عباد الله ليسوا بالمتنعمين</p>
<p>Dari Mu&#8217;adz bin Jabal, ketika ia diutus ke Yaman, Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> berpesan kepadanya: &#8220;<em>Tinggalkanlah sifat gemar bersenang-senang (at tana&#8217;um). Karena hamba Allah yang sejati bukanlah orang yang gemar bersenang-senang</em>&#8221; (HR. Ahmad 5/243, 244, Ath Thabrani dalam <em>Musnad Asy Syamiyyin</em> 279, Abu Nu&#8217;aim dalam <em>Hilyatul Auliya</em> 5/155)</p>
<p><strong>Derajat Hadits</strong></p>
<p>Al Mundziri berkata: &#8220;Semuanya perawi yang dipakai Imam Ahmad dan semuanya tsiqah&#8221; (<em>At Targhib Wat Tarhib</em>, 3/170). Al Haitsami berkata: &#8220;Semua perawinya tsiqah&#8221; (<em>Majma&#8217; Az Zawaid</em>, 10/253). Penilaian beliau berdua diamini oleh Al Albani dalam <em>Silsilah Ahadits Shahihah</em> (1/688).</p>
<p><strong>Faidah Hadits</strong></p>
<ol>
<li>Tercelanya sifat <em>at tana&#8217;um, </em>yaitu gemar bersenang-senang dan gemar bernikmat-nikmat dengan hal-hal yang sifatnya duniawi.</li>
<li>Ali Al Qari <em>rahimahullah </em> berkata: &#8220;<em>at tana&#8217;um </em>adalah berlebihan dalam memuaskan nafsu dalam bentuk selalu berkeinginan merasakan nikmat secara berlebihan, serta selalu merasa tidak pernah puas&#8221; (<em>Mirqatul Mafatih</em>, 8/3295).</li>
<li><em>At tana&#8217;um </em> adalah lawan dari zuhud.</li>
<li>Bukan berarti bersenang-senang itu terlarang, namun yang demikian bukan lah hal yang selalu dicari dan dikerjakan seorang hamba Allah sejati.</li>
<li>Ali Al Qari <em>rahimahullah </em> menjelaskan hadits ini berkata: &#8220;Sesungguhnya hamba Allah yang ikhlas bukanlah orang yang gemar bersenang-senang. Bahkan sifat demikian adalah ciri khas orang kafir, para penggemar maksiat, orang yang lalai dan orang yang jahil. Sebagaimana firman Allah :
<p style="font-size:18px;text-align:right;">ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ</p>
<p>&#8216;<em>Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)</em>&#8216; (QS. Al Hijr: 3)<br />
dan juga firman-Nya:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ</p>
<p>&#8216;<em>Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka</em>&#8216; (QS. Muhammad: 12),<br />
juga firman-Nya:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُتْرَفِينَ</p>
<p>&#8216;<em>Sesungguhnya mereka (penghuni neraka) sebelum itu hidup bermewahan</em>&#8216; (QS. Al Waqi&#8217;ah: 45)&#8221; (<em>Mirqatul Mafatih</em>, 8/3295).</li>
<li>Senada dengan beliau, Al Munawi <em>rahimahullah</em> juga berkata: &#8220;Sesungguhnya hamba Allah yaitu orang-orang tertentu yang berhiaskan dengan kemuliaan <em>ubudiyah</em>, bukanlah orang yang suka bersenang-senang. Karena bersenang-senang dengan hal yang mubah, walaupun itu boleh, akan membuat seseorang lalai mengingat Allah dan engga bertemu dengan-Nya&#8221; (<em>At Taisir Syarh Jami&#8217; Ash Shaghir</em>, 1/402).</li>
<li>Lihatlah Umar bin Khattab <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, begitu zuhudnya sampai-sampai beliau memandang bahwa makan daging itu <em>at tana&#8217;um. </em>Suatu kala ketika membeli daging, beliau berkata: &#8220;<em>Duhai kemana perginya kebaikan</em>&#8220;. Lalu membaca ayat:
<p style="font-size:18px;text-align:right;">أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِى حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُم بِهَا</p>
<p>&#8220;<em>Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya</em>&#8221; (QS. Al Ahqaf: 20)<br />
Ibnu Bathal berkata: &#8220;Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> berdalil dengan ayat tersebut bahwa bersenang-senang di dunia dan  bernikmat-nikmat dengan segala kebaikan duniawi akan banyak mengurangi kebaikan akhirat&#8221; (<em>Syarh Shahih Bukhari Libni Bathal</em>, 10/157).</li>
<li>Ibnul Jauzi <em>rahimahullah </em>berkata: &#8220;Ketahuilah ada 3 bahaya dari sikap gemar bersenang-senang&#8221;. Secara ringkas, 3 hal itu adalah:
<ol>
<li>Dunia itu <em>darut taklif</em> (tempat manusia menjalankan tugas-tugas dari Allah) bukan <em>darur raahah</em> (tempat bersantai dan bersenang-senang). Jika seseorang disibukkan dengan bersenang-senang di dunia pasti ia kurang bisa memenuhi tugas-tugasnya.</li>
<li>Bersenang-senang dalam hal makan yaitu terlalu banyak makan, membuat perut kekenyangan akibatnya malas dan akhirnya lalai.</li>
<li>Barangsiapa yang sudah terkait hatinya dengan kesenangan dunia, akan sulit sekali melepasnya. (<em>Kasyful Musykil</em>, 1/92)</li>
</ol>
</li>
<li>Seorang hamba sejati itu sibuk dalam kebaikan dan hal-hal yang bermanfaat. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:
<p style="font-size:18px;text-align:right;">مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ</p>
<p>&#8220;<em>Salah satu tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya</em>&#8221; (HR. Tirmidzi no. 2317, di hasan kan Al Nawawi dalam <em>Al Arba&#8217;un</em>).<br />
Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> juga bersabda:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">احرص على ما ينفعك واستعن بالله . ولا تعجز</p>
<p>&#8220;<em>Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah, serta janganlah malas</em>&#8221; (HR. Muslim no.2664)</li>
<li>Seorang hamba sejati senantiasa sibuk dalam kebaikan sampai ajal menjemputnya. Mi&#8217;sar bin Kiddam <em>rahimahullah </em>berkata
<p style="font-size:18px;text-align:right;"> لاَ تَقْعُدُوا فُراغًا فَإِنَّ اْلمَوْتَ يَطْلُبُكُمْ</p>
<p>“<em>Janganlah kalian duduk untuk bersantai-santai karena kematian sedang mencarimu</em>&#8221; (<em>Thabaqat Kubra Lis Sya&#8217;rani</em>, 1/49).<br />
Seorang lelaki dari Khurasan datang untuk bertanya-tanya kepada Imam Ahmad <em>rahimahullah </em>:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">قِيْلَ لِلإمَام أَحْمَدَ: مَتىَ يَجِدُ اْلعَبْدُ طَعْمَ الرَّاحَةِ ؟ فَقَالَ: عِنْدَ أّوَّلِ قَدَمٍ يَضَعُهاَ فِيْ اْلجَنَّةِ.</p>
<p>Imam Ahmad ditanya: “Kapan seorang hamba itu beristirahat (dari sibuk berbuat kebaikan)?&#8221;. Imam Ahmad menjawab: &#8220;<em>Ketika pertama kali telapak kakinya menginjak surga</em>”. (<em>Thabaqat Hanabilah</em>, 1/293)</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangaswad.wordpress.com/848/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangaswad.wordpress.com/848/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangaswad.wordpress.com/848/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangaswad.wordpress.com/848/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kangaswad.wordpress.com/848/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kangaswad.wordpress.com/848/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kangaswad.wordpress.com/848/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kangaswad.wordpress.com/848/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangaswad.wordpress.com/848/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangaswad.wordpress.com/848/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangaswad.wordpress.com/848/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangaswad.wordpress.com/848/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangaswad.wordpress.com/848/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangaswad.wordpress.com/848/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangaswad.wordpress.com&amp;blog=8489070&amp;post=848&amp;subd=kangaswad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangaswad.wordpress.com/2011/12/07/bukan-orang-yang-gemar-bersenang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ed664ead9a91184cb40808b8b28e52f?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Aswad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Batasan Baju Ketat</title>
		<link>http://kangaswad.wordpress.com/2011/12/05/batasan-baju-ketat/</link>
		<comments>http://kangaswad.wordpress.com/2011/12/05/batasan-baju-ketat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 00:25:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kang Aswad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangaswad.wordpress.com/?p=844</guid>
		<description><![CDATA[Pakaian muslimah itu hendaknya longgar dan tidak ketat sehingga menggambarkan bagian tubuhnya. Karena tujuan memakai pakaian adalah mencegah terjadinya fitnah (baca:hal-hal yang buruk). Tujuan tersebut tidak akan tercapai kecuali jika pakaiannya longgar dan lebar<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangaswad.wordpress.com&amp;blog=8489070&amp;post=844&amp;subd=kangaswad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam <em>Jilbab Mar&#8217;ah Muslimah</em> (1/131), Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">الشرط الرابع: &#8220;أن يكون فضفاضًا غير ضيق فيصف شيئًا من جسمها&#8221;<br />
لأن الغرض من الثوب إنما هو رفع الفتنة ولا يحصل ذلك إلا بالفضفاض الواسع وأما الضيق فإنه وإن ستر لون البشرة فإنه يصف حجم جسمها أو بعضه ويصوره في أعين الرجال وفي ذلك من الفساد والدعوة إليه ما لا يخفى فوجب أن يكون واسعًا وقد قال أسامة بن زيد:<br />
&#8220;كساني رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قبطية كثيفة مما أهداها له دحية الكلبي فكسوتها امرأتي فقال: ما لك لم تلبس القبطية؟ قلت: كسوتها امرأتي فقال: &#8220;مرها فلتجعل تحتها غلالة، فإني أخاف أن تصف حجم عظامها&#8221;</p>
<p>Syarat keempat: pakaian muslimah itu hendaknya longgar dan tidak ketat <span style="text-decoration:underline;">sehingga menggambarkan bagian tubuhnya</span>. Karena tujuan memakai pakaian adalah mencegah terjadinya fitnah (baca:hal-hal yang buruk). Tujuan tersebut tidak akan tercapai kecuali jika pakaiannya longgar dan lebar. Sedangkan jika ketat, walaupun menutup warna kulit, itu dapat menggambarkan bentuk seluruh atau sebagian tubuhnya, sehingga bentuk tubuhnya tersebut tergambar di mata para lelaki. Ini adalah salah satu bentuk kerusakan dan seolah mengundang orang-orang untuk melihat bentuk tubuhnya yang tidak ia tutupi dengan benar itu. Oleh karena itu, pakaian wanita itu wajib longgar. Usamah bin Zaid pernah berkata:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">كساني رسول الله &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; قبطية كثيفة كانت مما أهدى له دِحْيَةُ الكلبي فكسوتها امرأتي، فقال رسول الله &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; : مالك لا تلبس القبطية؟ فقلت: يا رسول الله! كسوتها امرأتي، فقال: مرها أن تجعل تحتها غلالة فإني أخاف أن تصف حجم عظامها</p>
<p>&#8220;<em>Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam pernah memakaikanku baju Quthbiyyah yang tebal. Baju tersebut dulu dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau. Lalu aku memakaikan baju itu kepada istriku. Suatu kala Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam menanyakanku: &#8216;Kenapa baju Quthbiyyah-nya tidak engkau pakai?&#8217;. Kujawab: &#8216;Baju tersebut kupakaikan pada istriku wahai Rasulullah&#8217;. Beliau berkata: &#8216;Suruh ia memakai baju rangkap di dalamnya karena aku khawatir Quthbiyyah itu menggambarkan bentuk tulangnya&#8217;</em>&#8221; (HR. Dhiya Al Maqdisi dalam <em>Al Mukhtar</em> 1/441, dihasankan oleh Al Albani). [selesai kutipan]</p>
<p>Syaikh Abdullah Al Faqih <em>hafizhahullah</em> ketika di tanya &#8216;bagaimana saya mengetahui sebuah pakaian itu tidak ketat atau tidak longgar? bagaimana ciri dan batasannya?&#8217;. Beliau menjawab:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">فإن العبرة بما يخرج الثوب عن دائرة الضيق المنهي عنه إلى الواسع المشروع هو أن لا يكون محدداً يصف الجسم ولذا عبر الفقهاء بالنهي عن الثوب المحدد، وقد عرف ابن الحاجب المحدد بما يصف الجسم لرقته، أو لتحديده، كذا في شرح المواق لمختصر خليل، وذكر الدردير في شرحه للمختصر: إنه يدخل في هذا ما كان محدداً للعورة بذاته لرقته، أو بغيره كحزام، أو لضيقه وإحاطته. انتهى.</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">وشددوا على الأنثى فيما يصف حجم الجسم ولو كان ساتراً، كما قال السفاريني في شرح منظومة الآداب: وكره لهما ـ يعني الذكر والأنثى ـ لبس ما يصف البشرة، وكره للمرأة لبس ما يصف الحجم. انتهى. والله أعلم.</p>
<p>Yang menjadi patokan apakah sebuah pakaian itu sudah tidak termasuk pakaian ketat dan tergolong pakaian longgar yang dibenarkan syariat adalah hendaknya ia <span style="text-decoration:underline;">tidak menggambarkan bentuk bagian tubuh</span>. Oleh karena itu para ulama sering menggunakan istilah النهي عن الثوب المحدد (Larangan memakai pakaian yang menggambarkan bentuk tubuh). Ibnul Hajib (Al Maliki, wafat tahun 646H) mendefinisikan baju ketat: yang menggambarkan bagian tubuh baik karena terlalu tipis atau karena ketatnya, demikian kata beliau dalam kitab <em>Syarh Al Mawaq Lil Mukhtashar Khalil</em>. Ad Dardir (wafat tahun 1201H) juga berkata dalam <em>syarh</em>-nya terhadap <em>Al Muhktashar</em>: &#8220;Yang termasuk pakaian ketat adalah yang menggambarkan bentuk aurat karena kainnya terlalu tipis, atau karena sebab lain misalnya karena memakai sabuk, atau karena terlalu sempit atau karena terlalu menyelubungi tubuh&#8221;.</p>
<p>Lebih ditekankan lagi bagi wanita, bahwa pakaian ketat  bagi wanita adalah yang menggambarkan bentuk tulang, walaupun sudah menutup aurat. Sebagaimana perkataan As Safarini dalam Syarh Manzhumatul Adab: &#8220;Dibenci bagi wanita dan laki-laki, pakaian yang menampakkan warna kulit. Dan dibenci bagi wanita, pakaian yang menggambarkan bentuk tulang &#8220;. <em>Wallahu&#8217;alam</em>.</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=153347">http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=153347</a></p>
<p>Dari beberapa keterangan di atas, dapat kita ringkas bahwa ciri-ciri pakaian ketat yang terlarang adalah: menggambarkan bentuk bagian tubuh yang termasuk aurat, baik karena pakaiannya kurang longgar, atau karena memakai sabuk, jaket, tas, karena lehernya &#8216;diikat&#8217;, atau karena jilbabnya &#8216;disobek&#8217;, atau sebab-sebab lain. Lalu, bagaimana solusinya? Hendaknya busana muslimah itu sangatlah lebar sampai tidak nampak satu pun bentuk bagian tubuhnya. Baca juga: <a href="http://kangaswad.wordpress.com/2011/08/08/jilbab-itu-semestinya-lebar/">Jilbab Itu Semestinya Lebar</a>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangaswad.wordpress.com/844/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangaswad.wordpress.com/844/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangaswad.wordpress.com/844/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangaswad.wordpress.com/844/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kangaswad.wordpress.com/844/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kangaswad.wordpress.com/844/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kangaswad.wordpress.com/844/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kangaswad.wordpress.com/844/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangaswad.wordpress.com/844/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangaswad.wordpress.com/844/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangaswad.wordpress.com/844/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangaswad.wordpress.com/844/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangaswad.wordpress.com/844/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangaswad.wordpress.com/844/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangaswad.wordpress.com&amp;blog=8489070&amp;post=844&amp;subd=kangaswad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangaswad.wordpress.com/2011/12/05/batasan-baju-ketat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ed664ead9a91184cb40808b8b28e52f?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Aswad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Wanita Tua Dari Bani Israil</title>
		<link>http://kangaswad.wordpress.com/2011/12/03/kisah-wanita-tua-bani-israil/</link>
		<comments>http://kangaswad.wordpress.com/2011/12/03/kisah-wanita-tua-bani-israil/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 01:02:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kang Aswad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangaswad.wordpress.com/?p=838</guid>
		<description><![CDATA[Apakah kalian tidak menginginkan seperti yang diinginkan oleh wanita tua dari Bani Israil?". Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah siapa yang dimaksud wanita tua dari Bani Israil itu?"<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangaswad.wordpress.com&amp;blog=8489070&amp;post=838&amp;subd=kangaswad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="font-size:18px;text-align:right;">عن أبي موسى قال:&#8221; أتى النبي صلى الله عليه وسلم أعرابيا فأكرمه فقال له: ائتنا، فأتاه، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم (وفي واية: نزل رسول الله صلى الله عليه وسلم بأعرابي فأكرمه، فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: تعهدنا ائتنا، فأتاه الأعرابي فقال له سول الله صلى الله عليه وسلم:) سل حاجتك، فقال: ناقة برحلها وأعنزا يحلبها أهلي، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم أعجزتم أن تكونوا مثل عجوز بني إسرائيل؟ فقال أصحابه: يا رسول الله وما عجوز بني إسرائيل؟ قال: إن موسى لما سار ببني إسرائيل من مصر، ضلوا لطريق فقال: ما هذا؟ فقال علماؤهم: نحن نحدثك، إن يوسف لما حضره الموت أخذ علينا موثقا من الله أن لا يخرج من مصر حتى ننقل ظامه معنا، قال: فمن يعلم موضع قبره؟ قالوا: ما ندري أين قبر يوسف إلا عجوز من بني إسرائيل، فبعث إليها فأتته فقال: دلوني لى قبر يوسف، قالت: لا والله لا أفعل حتى تعطيني حكمي، قال: وما حكمك؟ قالت: أكون معك في الجنة، فكره أن يعطيها ذلك فأوحى الله إليه أن أعطها حكمها، فانطلقت بهم إلى بحيرة موضع مستنقع ماء، فقالت: انضبوا هذا الماء فأنضبوا، قالت: احفروا واستخرجوا عظام يوسف فلما أقلوها إلى الأرض إذا الطريق مثل ضوء النهار &#8220;</p>
<p>Dari Abu Musa ia berkata, seorang badwi datang kepada Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, kemudian beliau memuliakannya dan berkata: &#8216;<em>kemarilah</em>&#8216;. Orang badwi itu lalu mendatangi beliau. Kemudian Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p>( Dalam riwayat lain, Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> turun dari tunggangan beliau lalu memuliakannya. Beliau berkata kepada orang itu: &#8216;<em>kemarilah bersama kami</em>&#8216;. Orang badwi itu lalu mendatangi beliau. Kemudian Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda: )</p>
<p>&#8220;<em>Sebutlah apa yang engkau inginkan</em>&#8220;. Orang badwi menjawab: &#8216;Saya ingin unta dan pelananya serta kambing yang dapat diperah untuk memberi minum keluarga saya&#8217;. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> lalu bersabda:</p>
<p><em>&#8220;Apakah kalian tidak menginginkan seperti yang diinginkan oleh wanita tua dari Bani Israil?&#8221;. Para sahabat bertanya: &#8220;Wahai Rasulullah siapa yang dimaksud wanita tua dari Bani Israil itu?&#8221;. Beliau berkata: &#8220;Musa ketika pergi dari Mesir bersama Bani Israil, mereka tersesat di jalan&#8221;. Musa bertanya: &#8220;Apa sebabnya menjadi begini?&#8221;. Orang-orang berilmu dari Bani Israil menjawab: &#8220;Kami beritahukan kepadamu, Nabi Yusuf ketika menjelang wafatnya membuat perjanjian dengan kami yang dipersaksikan oleh Allah, yaitu agar tidak keluar dari Mesir kecuali membawa jasad beliau bersama kami&#8221;. Musa berkata: &#8220;Kalau begitu siapa yang mengetahui dimana letak kuburnya?&#8221;. Mereka berkata: &#8220;Diantara kami tidak ada yang tahu letak makam beliau kecuali seorang wanita tua dari Bani Israil&#8221;. Lalu Musa mengutus orang untuk memanggilnya hingga wanita tersebut datang kepada Musa. Musa berkata kepada wanita itu: &#8220;Tunjukan kami letak makam Nabi Yusuf&#8221;. Wanita tersebut berkata: &#8220;Demi Allah tidak akan aku lakukan, sampai engkau mentaati ketentuanku&#8221;. Musa bertanya: &#8216;&#8221;Apa ketentuanmu itu?&#8221;. Wanita tersebut berkata: &#8220;Jadikan aku penghuni surga bersamamu&#8221;. Nabi Musa pun enggan memenuhinya, hingga Allah mewahyukan kepada Musa agar mentaati ketentuan tersebut. Lalu mereka pergi ke mata air dari sebuah danau. Wanita tersebut berkata: &#8220;Keringkan airnya lalu gali dan keluarkanlah jasad Nabi Yusuf&#8221;. Ketika jasadnya diangkat, jalan pun seketika menjadi jelas bagaikan terangnya siang.</em></p>
<p>(HR. Abu Ya&#8217;la dalam <em>Musnad</em>-nya 1/344, Al Hakim 2/404-405)</p>
<p><strong>Derajat Hadits</strong><br />
Al Hakim berkata: &#8220;Hadits ini shahih sesuai dengan syarat Shahih Bukhari dan Muslim&#8221;. Penilaian Al Hakim ini disetujui oleh Adz Dzahabi. Al Albani berkata: &#8220;Yang benar, hadits ini shahih sesuai dengan syarat Shahih Muslim saja. Karena Al Bukhari tidak mengeluarkan riwayat Yunus di dalam <em>Shahih</em>-nya, melainkan di kitabnya yang lain yaitu <em>Juz Al Aqira&#8217;ah</em>&#8220;. (<em>Silsilah Ahadits Shahihah</em>, 1/623)</p>
<p><strong>Faidah Hadits</strong></p>
<ol>
<li>Betapa mulianya akhlak Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>terhadap orang awam.</li>
<li>Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>adalah pemimpin negara yang senantiasa peduli terhadap kebutuhan rakyatnya, terutama orang-orang lemah yang kurang mampu. Tidaklah tersisa harta beliau melainkan sebatas harta untuk memenuhi kewajiban sebagai suami kepada keluarganya dan harta untuk diberikan kepada orang lain. Sebagaimana sabda beliau:
<p style="font-size:18px;text-align:right;">لا يحل للخليفة من مال الله إلا قصعتان قصعة يأكلها هو وأهله وقصعة يضعها بين يدي الناس</p>
<p>&#8220;<em>Bagi seorang khalifah, tidak halal memiliki harta dari Allah, kecuali dua piring saja. Satu piring untuk kebutuhan makannya bersama keluarganya. Dan satu piring untuk ia berikan kepada rakyatnya</em>&#8221; (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani dalam <em>Silsilah Ahadits Shahihah </em>no.362)</li>
<li>Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>membimbing ummat-nya agar senantiasa lebih mendambakan kebaikan akhirat dibanding kebaikan dunia semata. Umar bin Khattab <em>Radhiallahu&#8217;anhu </em>berkata:
<p style="font-size:18px;text-align:right;">فَرَأَيْتُ أَثَرَ الْـحَصِيرِ فِي جَنْبِهِ فَبَكَيْتُ. فَقَالَ: مَا يُبْكِيكَ؟ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ كِسْرَى وَقَيْصَرَ فِيمَا هُمَا فِيهِ وَأَنْتَ رَسُولُ اللهِ. فَقَالَ: أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَـهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الْآخِرَةُ؟</p>
<p>&#8220;<em>Ketika aku melihat bekas tikar di sisi badan beliau, aku pun menangis. Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Aku jawab, “Wahai Rasulullah, sungguh Kisra dan Kaisar berada dalam kemegahannya, padahal engkau adalah utusan Allah” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau ridha mereka mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?</em>” (<em>Muttafaq &#8216;alaihi</em>)<br />
Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;"> وَاللهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ &#8211; وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ &#8211; فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ</p>
<p>“<em>Tiadalah dunia dibanding akhirat melainkan hanyalah seperti air yang menempel di jari ketika salah seorang dari kalian mencelupkannya di laut.</em>” (HR. Muslim no.2858).</li>
<li>Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>mengharapkan para sahabatnya meminta sebagaimana yang diminta oleh wanita tua dari Bani Israil, yaitu: surga. Ini menunjukkan bahwa mengharap surga itu tidaklah tercela, bukan tanda sedikitnya keikhlasan, bukan tanda rendahnya cinta kepada Allah, sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang.</li>
<li>Kaum Bani Isra&#8217;il ketika itu berada di atas ilmu dan tauhid yang lurus, mereka tidak menyembah atau mengagungkan kuburan para Nabi. Mereka tidak <em>ngalap</em> <em>berkah</em> atau bertawassul dengan mayat para Nabi. Silakan simak  <a href="http://kangaswad.wordpress.com/2011/08/21/hukum-ber-tabarruk-kepada-orang-shalih/">Hukum Ber-tabarruk Kepada Orang Shalih</a>.</li>
<li>Jangankan menyembah kuburan atau <em>ngalap</em> <em>berkah</em>, bahkan tidak terbesit dalam benak mereka untuk mencari tahu letak kuburan para Nabi. Yang tahu pun, ternyata tidak gembar-gembor atau dengan mudah memberi tahu letaknya. Mereka juga tidak membangun dan membuat megah kuburan tersebut. Nabi Musa dan Nabi Muhammad Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam tidak mencela mereka karena demikianlah yang seharusnya. Berbeda dengan orang-orang di zaman ini yang <em>malah</em> mencela orang-orang yang enggan mengagungkan kuburan orang shalih agar tidak dijadikan sarana kesyirikan.</li>
<li>Para Nabi tidak dapat memberi syafa&#8217;at kecuali atas izin Allah. Sebagaimana Nabi Musa tidak dapat menjamin wanita tersebut masuk surga kecuali setelah diizinkan oleh Allah. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:
<p style="font-size:18px;text-align:right;">قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ</p>
<p>&#8220;<em>Katakanlah, hanya milik Allah lah semua syafa&#8217;at itu. Ia yang menguasai langit dan bumi dan kepada-Nya lah engkau akan kembali</em>&#8221; (QS. Az Zumar: 44)</li>
<li>Jasad para Nabi tidak hancur dimakan tanah.</li>
<li>Bukti adanya mu&#8217;jizat bagi para Nabi.</li>
<li>Wajibnya menunaikan janji, terlebih lagi perjanjian dengan para Nabi Allah.</li>
<li>Kata عظام yang artinya &#8216;tulang-belulang&#8217; kadang bermakna &#8216;badan seutuhnya&#8217;. Jika  عظام dalam hadits di atas kita artikan  &#8217;tulang-belulang&#8217;, maka bertentangan dengan hadits:
<p style="font-size:18px;text-align:right;">إن الله تعالى حرم على الأرض أن تأكل أجساد الأنبياء</p>
<p>&#8220;<em>Sungguh Allah Ta&#8217;ala mengharamkan kepada bumi untuk memakan jasad para Nabi</em>&#8221; (HR. Abu Daud 662, dishahihkan Al Albani dalam <em>Silsilah Ahadits Shahihah</em> no.1527). Namun yang benar, kita maknai  عظام dengan makna  &#8217;badan seutuhnya&#8217; sebgaimana terdapat hadits :</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">أن النبي صلى الله عليه وسلم لما بدن، قال له تميم الداري: ألا أتخذ لك منبرا يا رسول الله يجمع أو يحمل عظامك؟ قال: بلى فاتخذ له منبرا مرقاتين</p>
<p>&#8220;<em>Ketika Nabi Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam sudah berusia senja, Tamim Ad Daari berkata kepada beliau:&#8217;Wahai Rasulullah, maukah aku ambilkan mimbar yang dapat membawa badanmu?&#8217;. Beliau berkata: &#8216;Boleh&#8217;. Lalu ia mengambil mimbar yang memiliki 2 anak tangga</em>&#8221; (HR. Abu Daud 1081, Al Albani berkata: &#8220;Sanadnya <em>jayyid</em> sesuai dengan syarat Muslim&#8221;). Demikian penjelasan Syaikh Al Albani dalam <em>Silsilah Ahadits Shahihah</em> (1/624).</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangaswad.wordpress.com/838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangaswad.wordpress.com/838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangaswad.wordpress.com/838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangaswad.wordpress.com/838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kangaswad.wordpress.com/838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kangaswad.wordpress.com/838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kangaswad.wordpress.com/838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kangaswad.wordpress.com/838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangaswad.wordpress.com/838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangaswad.wordpress.com/838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangaswad.wordpress.com/838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangaswad.wordpress.com/838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangaswad.wordpress.com/838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangaswad.wordpress.com/838/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangaswad.wordpress.com&amp;blog=8489070&amp;post=838&amp;subd=kangaswad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangaswad.wordpress.com/2011/12/03/kisah-wanita-tua-bani-israil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ed664ead9a91184cb40808b8b28e52f?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Aswad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mampu Menggauli 100 Bidadari</title>
		<link>http://kangaswad.wordpress.com/2011/12/01/mampu-menggauli-100-bidadari/</link>
		<comments>http://kangaswad.wordpress.com/2011/12/01/mampu-menggauli-100-bidadari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Dec 2011 04:08:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kang Aswad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangaswad.wordpress.com/?p=832</guid>
		<description><![CDATA["Wahai Rasulullah, apakah kami akan berjima' dengan istri-istri kami di surga kelak? Sungguh seorang lelaki dalam sehari akan berjima' dengan 100 bidadari"<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangaswad.wordpress.com&amp;blog=8489070&amp;post=832&amp;subd=kangaswad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="font-size:18px;text-align:right;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ , هَلْ نَصِلُ إِلَى نِسَائِنَا فِي الْجَنَّةِ؟ فَقَالَ: «إِنَّ الرَّجُلَ لَيَصِلُ فِي الْيَوْمِ إِلَى مِائَةِ عَذْرَاءَ»</p>
<p>Dari Abu Hurairah Radhiallahu&#8217;anhu, ia berkata: diantara para sahabat ada yang bertanya: &#8216;Wahai Rasulullah, apakah kami akan bertemu dengan istri kami kelak di surga?&#8217;. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> menjawab: &#8220;<em>Seorang lelaki dalam sehari akan bertemu (baca:berjima&#8217;) dengan 100 bidadari</em>&#8221; (HR. Al Bazzar dalam <em>Musnad</em>-nya 3525, Abu Nu&#8217;aim dalam <em>Shifatul Jannah</em> 169, Ath Thabrani dalam <em>As Shaghir</em>, 2/12)</p>
<p>Dalam riwayat lain:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">قيل : يا رسول الله هل نفضي إلى نسائنا في الجنة ؟ قال : إن الرجل ليفضي في اليوم إلى مائة عذراء</p>
<p>&#8220;<em>Wahai Rasulullah, apakah kami akan berjima&#8217; dengan istri-istri kami di surga kelak? Sungguh seorang lelaki dalam sehari akan berjima&#8217; dengan 100 bidadari</em>&#8220;</p>
<p><strong>Derajat Hadits</strong></p>
<p>Al Hafidz Ibnu Katsir men-shahih-kan hadits ini (<em>Tafsir Ibni Katsir</em>, 3/292). Al Maqdisi berkata: &#8220;Menurutku, semua perawinya tsiqah sesuai dengan syarat hadits shahih&#8221;. Al Albani berkata: &#8220;Aku sependapat dengan Al Hafidz Ibnu Katsir, dan itulah yang benar. Sanad hadits ini shahih dan kami tidak mengetahui adanya catat di dalamnya. Namun memang Abu Hatim dan Abu Zur&#8217;ah memiliki pandangan berbeda&#8221; (<em>Silsilah Ahadits Shahihah</em>, 1/708)</p>
<p><strong>Faidah Hadits</strong></p>
<ol>
<li>Adanya surga dan kenikmatan di dalamnya</li>
<li>Adanya bidadari di surga</li>
<li>Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> mengetahui sebagian perkara gaib, sebatas yang dikabarkan oleh Allah kepada beliau.</li>
<li>Salah satu kenikmatan surga adalah seorang lelaki memiliki kekuatan menggauli 100 wanita dalam sehari. Sebagaimana dalam hadits lain:
<p style="font-size:18px;text-align:right;">إن الرجل من أهل الجنة يعطى قوة مائة رجل في الأكل والشرب والشهوة والجماع</p>
<p>&#8220;<em>Sungguh seorang lelaki penduduk surga diberi kekuatan sebagaimana 100 orang lelaki, dalam hal makan, minum, syahwat dan jima&#8217;</em>&#8220;(HR. Ahmad no.18509. Dishahihkan Al Albani dalam <em>Shahih Al Mawarid</em> 2230)</li>
<li>Andai 100 wanita digauli dalam sehari maka tentu lelaki penghuni surga  tersebut sangat sibuk. Demikianlah salah satu kesibukan penduduk surga. Sebagaimana dalam firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>:
<p style="font-size:18px;text-align:right;">إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ</p>
<p>&#8220;<em>Sungguh para penduduk surga itu dalam kesibukan yang menyenangkan</em>&#8221; (QS. Yasin: 55)<br />
Ibnu Mas&#8217;ud, Ibnu &#8216;Abbas, Sa&#8217;id bin Musayyib, Ikrimah, Al Hasan Al Bashri, Qatadah, Al A&#8217;masy, Sulaiman At Taimi, Al Auza&#8217;i semuanya menafsirkan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah mereka sibuk menggauli para perawan. (<em>Tafsir Ibni Katsir</em>, 6/582)</li>
<li>Istri shalihah di dunia akan menjadi istri di surga kelak bagi lelaki shalih. Jika seorang lelaki pernah menikah beberapa kali atau ia berpoligami, maka semua istrinya di dunia akan menjadi istrinya di surga kelak. Sedangkan bila seorang wanita pernah menikah beberapa kali di dunia, maka lelaki yang menjadi suaminya adalah yang terakhir. Sebagaimana hadits:
<p style="font-size:18px;text-align:right;">أن حذيفة قال لزوجته: إن شئت تكوني زوجتي في الجنة فلا تزوجي بعدي، فإن المرأة في الجنة لآخر أزواجها في الدنيا</p>
<p>&#8220;<em>Hudzaifah berkata kepada istrinya: &#8216;Kalau engkau ingin menjadi istriku di surga kelak, maka jangan menikah lagi sepeninggalku. Karena seorang wanita di surga akan menjadi istri dari suaminya yang terakhir di dunia</em>&#8216;&#8221; (HR. Al Baihaqi, no.13421)</li>
<li>Selain beristrikan wanita yang menjadi istrinya di dunia, lelaki penghuni surga juga akan beristrikan bidadari-bidadari surga. Sebagaimana firman Allah:
<p style="font-size:18px;text-align:right;">كَذَلِكَ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ</p>
<p>&#8220;<em>Demikian juga kami nikahkan mereka dengan para bidadari surga</em>&#8221; (QS. Ad Dukhan: 54)</li>
<li>Para ulama mengatakan, hadits ini bukan menunjukkan bahwa jumlah istri penduduk surga adalah 100. Melainkan hanya menunjukkan kemampuan jima&#8217; para lelaki penduduk surga, yaitu sebagaimana kekuatan 100 orang lelaki. Mengenai jumlah istri, kebanyakan penduduk surga memiliki dua istri:
<p style="font-size:18px;text-align:right;">أول زمرة تلج الجنة صورتهم على صورة القمر ليلة البدر ، لا يبصقون فيها ولا يمتخطون ولا يتغوطون ، آنيتهم فيها الذهب ، أمشاطهم من الذهب والفضة ، ومجامرهم الألوة ، ورشحهم المسك ، ولكل واحد منهم زوجتان</p>
<p>&#8220;<em>Rombongan yang pertama kali masuk surga berbentuk rembulan di malam purnama. Mereka tidak akan meludah, tidak akan berdahak, dan tidak akan buang air di dalamnya. Bejana-bejana dan sisir-sisir mereka terbuat dari emas dan perak. Tempat bara api mereka terbuat dari kayu wangi. Keringat mereka adalah minyak kesturi. Setiap mereka memiliki dua istri..</em>&#8221; (HR. Al-Bukhari no. 3245 dan Muslim no. 5065)<br />
Adapun para syuhada, beristrikan 72 bidadari kelak di surga:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">للشهيد عند الله ست خصال : يغفر له في أول دفعة ويرى مقعده من الجنة ، ويجار من عذاب القبر ، ويأمن من الفزع الأكبر ، ويوضع على رأسه تاج الوقار ، الياقوتة منها خير من الدنيا وما فيها ، ويزوج اثنتين وسبعين زوجة من الحور العين ، ويشفع في سبعين من أقاربه</p>
<p>“<em>Orang yang mati syahid di sisi Allah akan diberi enam keutamaan: Allah mengampuni dosanya ketika pertama kali darahnya keluar, ia dapat melihat tempat duduknya kelak di surga, ia dijauhkan dari adzab kubur, ia mendapat keamanan tatkala hari kebangkitan, di kepalanya ia memakai mahkota kehormatan berhias batu rubi yang lebih baik dari dunia dan seisinya, ia dinikahkan dengan 72 bidadari, ia dapat memberi syafa&#8217;at kepada 70 orang kerabatnya</em>” (HR. At Tirmidzi no 1663, ia berkata: &#8220;Hasan Shahih Gharib&#8221;)</li>
<li>Jika kita renungkan, sungguh betapa malangnya para pezina dan para pengumbar syahwat ke tempat yang tidak halal. Mereka menukar kenikmatan yang luar biasa dengan kenikmatan sesaat yang hina di dunia.</li>
<li>Salah satu benteng pertahanan seorang lelaki muslim dari dosa zina adalah dengan mengingat-ingat kenikmatan syahwat di surga dan berusaha istiqamah untuk mendapatkannya.</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangaswad.wordpress.com/832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangaswad.wordpress.com/832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangaswad.wordpress.com/832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangaswad.wordpress.com/832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kangaswad.wordpress.com/832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kangaswad.wordpress.com/832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kangaswad.wordpress.com/832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kangaswad.wordpress.com/832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangaswad.wordpress.com/832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangaswad.wordpress.com/832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangaswad.wordpress.com/832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangaswad.wordpress.com/832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangaswad.wordpress.com/832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangaswad.wordpress.com/832/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangaswad.wordpress.com&amp;blog=8489070&amp;post=832&amp;subd=kangaswad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangaswad.wordpress.com/2011/12/01/mampu-menggauli-100-bidadari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ed664ead9a91184cb40808b8b28e52f?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Aswad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peringatan Keras Bagi Para Pedagang</title>
		<link>http://kangaswad.wordpress.com/2011/11/30/peringatan-keras-bagi-para-pedagang/</link>
		<comments>http://kangaswad.wordpress.com/2011/11/30/peringatan-keras-bagi-para-pedagang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 23:30:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kang Aswad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Dusta]]></category>
		<category><![CDATA[Perdagangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangaswad.wordpress.com/?p=829</guid>
		<description><![CDATA[“Para pedagang adalah tukang maksiat”. Diantara para sahabat ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah menghalalkan jual-beli?”. Rasulullah menjawab: “Ya, namun mereka sering berdusta dalam berkata, juga sering bersumpah namun sumpahnya palsu”<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangaswad.wordpress.com&amp;blog=8489070&amp;post=829&amp;subd=kangaswad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="font-size:18px;text-align:right;">عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شِبْلٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: &#8221; إِنَّ التُّجَّارَ هُمُ الْفُجَّارُ &#8221; قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَيْسَ قَدْ أَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ؟ قَالَ: &#8221; بَلَى وَلَكِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ فَيَكْذِبُونَ وَيَحْلِفُونَ فَيَأْثَمُونَ &#8220;</p>
<p>Dari &#8216;Abdurrahman bin Syibel, ia berkata: Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda: “<em>Para pedagang adalah tukang maksiat</em>”. Diantara para sahabat ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah menghalalkan jual-beli?”. Rasulullah menjawab: “<em>Ya, namun mereka sering berdusta dalam berkata, juga sering bersumpah namun sumpahnya palsu</em>”. (HR. Ahmad 3/428, Ath Thabari dalam <em>Tahdzibul Atsar</em> 1/43, 99, 100, At Thahawi dalam <em>Musykilul Atsar</em> 3/12, Al Hakim 2/6-7)</p>
<p><strong>Derajat Hadits</strong><br />
Al Hakim berkata: “Sanadnya shahih”. Penilaian beliau disetujui oleh Adz Dzahabi, demikian juga Al Albani. (<em>Silsilah Ahadits Shahihah</em>, 1/707)</p>
<p><strong>Faidah Hadits</strong></p>
<ol>
<li>Larangan keras berdusta dan bersumpah palsu dalam berdagang secara khusus.</li>
<li>Larangan keras berdusta dan bersumpah palsu secara umum karena yang dimaksud <em>fujjar</em> oleh Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>dalam hadits adalah orang yang berbuat demikian.</li>
<li><span style="font-family:Tahoma;">فُجَّارُ </span>(<em>fujjar</em>) adalah bentuk jamak dari <span style="font-family:Tahoma;">فاجر </span>(<em>fajir</em>) yang artinya &#8216;orang yang sering melakukan perbuatan dosa dan menunda-nunda taubat&#8217; (lihat <em>Lisanul &#8216;Arab</em>). Dari sini diketahui sangat kerasnya larangan berdusta dan bersumpah palsu dalam berdagang, sampai-sampai Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> menyebut para pedagang sebagai <em>fujjar </em>atau tukang maksiat secara mutlak.</li>
<li>Dalam <em>Al Mu&#8217;tashar (</em>1/334), Imam Jamaludin Al Malathi Al Hanafi (wafat 803 H) berkata: “Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>menyebut pedagang sebagai tukang maksiat secara mutlak karena demikianlah yang paling banyak terjadi, bukan berarti secara umum mereka demikian. Orang arab biasa memutlakan penyebutan pujian atau celaan kepada sekelompok orang, namun yang dimaksud adalah sebagian saja. Sebagaimana firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>:
<p style="font-size:18px;text-align:right;">وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ</p>
<p>&#8220;<em>Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu</em>&#8221; (QS. Az Zukhruf: 44)</p>
<p>juga firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">وَكَذَّبَ بِهِ قَوْمُكَ”</p>
<p>&#8220;<em>Dan kaummu mendustakannya (azab di akhirat)</em>&#8221; (Qs. Al An&#8217;am: 66)</li>
<li>Tidak salah jika dikatakan bahwa kebanyak para pedagang berbuat demikian karena Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>mengabarkan:
<p style="font-size:18px;text-align:right;">يا معشر التجار إن الشيطان والإثم يحضران البيع فشوبوا بيعكم بالصدقة</p>
<p>“<em>Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa hadir dalam jual-beli. Maka campurkanlah jual-belimu dengan <del>kejujuran</del> banyak sedekah</em>” (HR. Tirmidzi 1208, ia berkata: “Hadits ini hasan shahih”)</li>
<li>Bukti ke-faqih-an para sahabat Nabi dalam ilmu agama. Mereka segera mengetahui dua dalil yang nampak bertentangan. Hal ini tidak mungkin disadari oleh orang yang tidak faqih dalam ilmu agama.</li>
<li>Jika dua dalil nampak bertentangan, selama ada jalan untuk mengkompromikan keduanya, maka wajib dikompromikan.</li>
<li>Hadits ini bukan demotivator untuk berdagang, melainkan hanya peringatan agar berbuat jujur dan tidak mudah bersumpah ketika berdagang. Buktinya Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>sendiri adalah pedagang. Abu Bakar <em>radhiallahu&#8217;anhu </em>adalah pedagang pakaian. Umar <em>radhiallahu&#8217;anhu</em> pernah berdagang gandum dan bahan makanan pokok. &#8216;Abbas bin Abdil Muthallib <em>radhiallahu&#8217;anhu </em>adalah pedagang. Abu Sufyan <em>radhiallahu&#8217;anhu </em>berjualan <em>udm </em>(camilan yang dimakan bersama roti). (Dikutip dari <em>Al Bayan Fi Madzhab Asy Syafi&#8217;i</em>, 5/10)</li>
<li>Hadits ini bukan demotivator untuk berdagang, karena banyak dalil lain yang memotivasi untuk berdagang. Diantaranya:
<p style="font-size:18px;text-align:right;">التاجر الصدوق الأمين مع النبيين والصديقين والشهداء</p>
<p>“<em>Pedagang yang jujur dan terpercaya akan dibangkitkan bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan para syuhada</em>” (HR. Tirmidzi no.1209, ia berkata: “Hadits hasan, aku tidak mengetahui selain lafadz ini”)</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ؟ قَالَ: «عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ»</p>
<p>Dari Rafi&#8217; bin Khadij ia berkata, ada yang bertanya kepada Nabi: &#8216;Wahai Rasulullah, pekerjaan apa yang paling baik?&#8217;. Rasulullah menjawab: “<em>Pekerjaan yang dilakukan seseorang dengan tangannya dan juga setiap perdagangan yang mabrur (baik)</em>”</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangaswad.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangaswad.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangaswad.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangaswad.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kangaswad.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kangaswad.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kangaswad.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kangaswad.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangaswad.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangaswad.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangaswad.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangaswad.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangaswad.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangaswad.wordpress.com/829/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangaswad.wordpress.com&amp;blog=8489070&amp;post=829&amp;subd=kangaswad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangaswad.wordpress.com/2011/11/30/peringatan-keras-bagi-para-pedagang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ed664ead9a91184cb40808b8b28e52f?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Aswad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anti Bid&#8217;ah Karena Takut Kepada Allah</title>
		<link>http://kangaswad.wordpress.com/2011/11/29/anti-bidah-karena-takut-kepada-allah/</link>
		<comments>http://kangaswad.wordpress.com/2011/11/29/anti-bidah-karena-takut-kepada-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 23:30:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kang Aswad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangaswad.wordpress.com/?p=800</guid>
		<description><![CDATA[Apakah anda mengira, memperingatkan ummat dari bid'ah itu demi kepentingan sebuah organisasi?
Apakah anda mengira, memperingatkan ummat tentang bahaya bid'ah itu demi kepentingan sebuah partai politik?
Apakah anda mengira, memperingatkan ummat tentang amalan-amalan bid'ah itu demi mendapatkan secuil harta dunia?<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangaswad.wordpress.com&amp;blog=8489070&amp;post=800&amp;subd=kangaswad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah anda mengira, memperingatkan ummat dari bid&#8217;ah itu demi kepentingan sebuah organisasi?<br />
Apakah anda mengira, memperingatkan ummat tentang bahaya bid&#8217;ah itu demi kepentingan sebuah partai politik?<br />
Apakah anda mengira, memperingatkan ummat tentang amalan-amalan bid&#8217;ah itu demi mendapatkan secuil harta dunia?<br />
Apakah anda mengira, memperingatkan ummat tentang jeleknya bid&#8217;ah itu demi mempertahankan tradisi nenek moyang?<br />
Apakah anda mengira, memperingatkan ummat tentang kerugian pelaku bid&#8217;ah itu agar dikenal sebagai orang alim yang paling pandai?<br />
Apakah anda mengira, memperingatkan ummat agar meninggalkan bid&#8217;ah itu demi membela tokoh Fulan dan Allan?</p>
<p align="LEFT">Demi Allah, sama sekali tidak. Bahkan nyatanya para pelaris kebid&#8217;ahan lah yang memiliki tendensi-tendensi demikian. Dan sungguh, kita hendaknya enggan dan takut berbuat bid&#8217;ah karena takut kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em>.</p>
<p align="LEFT">Apakah anda tidak takut berbuat bid&#8217;ah? Padahal Allah <em>Ta&#8217;ala</em> menyatakan bahwa ajaran Islam sudah sempurna, tidak butuh penambahan. Membuat amalan-amalan ibadah baru sama saja dengan memberikan &#8216;catatan kaki&#8217; pada firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا</p>
<p align="LEFT">“<em>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni&#8217;mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu</em>” (QS. Al Maidah: 3)</p>
<p align="LEFT">Apakah anda tidak takut berbuat bid&#8217;ah? Padahal Allah <em>Ta&#8217;ala</em> melarang kita berselisih ketika Qur&#8217;an dan sunnah sudah sangat jelas dalam menjelaskan ajaran agama ini secara sempurna, dari masalah tauhid hingga adab buang air besar, sama sekali tidak perlu penambahan lagi. Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ</p>
<p align="LEFT">“<em>Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat</em>” (QS. Al Imran: 105)</p>
<p align="LEFT">Ash Shabuni berkata: “Maksud ayat ini adalah, janganlah berlaku seperti orang Yahudi dan Nasrani yang mereka berpecah-belah dalam masalah agama karena mengikuti hawa nafsu mereka padahal ayat-ayat yang datang kepada mereka sudah sangat jelas” (<em>Shafwatut Tafasir</em>, 202).</p>
<p align="LEFT">Apakah anda tidak takut berbuat bid&#8217;ah? Padahal Allah <em>Ta&#8217;ala</em> mengancam orang-orang yang menyelisihi perintah-Nya dan sunnah Nabi-Nya. Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ</p>
<p align="LEFT">“<em>Hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Allah itu takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa azab yang pedih</em>” (QS. An Nuur: 63)</p>
<p align="LEFT">Ketika Imam Malik ditanya tentang orang yang merasa bahwa ber-ihram sebelum miqat itu lebih bagus, padahal Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>telah mensyari&#8217;atkan bahwa ihram dimulai dari miqat, maka Imam Malik pun berkata: “Ini menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya, dan aku khawatir orang itu akan tertimpa fitnah di dunia dan adzab yang pedih sebagaimana dalam ayat.. (beliau menyebutkan ayat di atas)” (<em>Al I&#8217;tisham</em>, 174). Menjelaskan perkataan Imam Malik ini, Asy Syathibi berkata: “Fitnah yang dimaksud Imam Malik dalam menafsirkan ayat ini berhubungan dengan kebiasaan dan kaidah ahlul bid&#8217;ah, yaitu karena mengedepankan akal, mereka tidak menjadikan firman Allah dan sunnah Rasulullah sebagai petunjuk bagi mereka” (<em>Al I&#8217;tisham</em>, 174).</p>
<p align="LEFT">Apakah anda tidak takut berbuat bid&#8217;ah? Padahal Allah memerintahkan hamba-Nya untuk mengikuti tuntunan Rasul-Nya. Allah <em>Ta&#8217;ala</em>pun mengancam orang yang menyelisihi tuntunan Rasul-Nya dengan siksaan yang keras. Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ</p>
<p align="LEFT">“<em>Apa yang datang dari Rasulullah, maka ambilah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya</em>” (QS. Al Hasyr: 7)</p>
<p align="LEFT">Dan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>melarang berbuat bid&#8217;ah<em>. </em>Tidak anda takut terhadap siksaan Allah yang keras karena melakukan yang dilarang Rasulullah?</p>
<p align="LEFT">Apakah anda tidak takut berbuat bid&#8217;ah? Padahal Allah mengancam neraka bagi hamba-Nya yang mengambil cara beragama bukan dari Rasul-Nya. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا</p>
<p align="LEFT">“<em>Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu&#8217;min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali</em>” (QS. An Nisa: 115)</p>
<p align="LEFT">Ibnu Katsir menjelaskan: “Maksud ayat ini, barang siapa yang menjalani cara beragama yang bukan berasal dari Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alahi Wasallam</em> maka ia telah menempatkan dirinya di suatu irisan (<em>syiqq</em>), sedangkan syariat Islam di irisan yang lain. Itu ia lakukan setelah kebenaran telah jelas baginya” (<em>Tafsir Al Qur&#8217;an Al Azhim</em>, 2/412)</p>
<p align="LEFT">Apakah anda tidak takut berbuat bid&#8217;ah? Padahal Allah mencela orang yang membuat-buat syari&#8217;at baru yang dalam agama dan menyebut orang-orang yang mengajarkan syari&#8217;at baru, lalu ditaati, sebagai sesembahan selain Allah. Sebagaimana perbuatan orang-orang musyrik. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ</p>
<p align="LEFT">“<em>Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan ajaran agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih</em>” (QS. Asy Syura: 21)</p>
<p align="LEFT">Ibnu Katsir berkata: “Mereka (orang-orang musyrik) tidak mengikuti apa yang telah disyariatkan Allah melalui agama Allah yang lurus ini. Bahkan mereka mengikuti syariat dari setan-setan yang berupa jin dan manusia. Mereka mengharamkan apa yang diharamkan oleh setan tersebut, yaitu <em>bahiirah</em>, <em>saaibah</em>, <em>washilah</em> dan <em>haam</em>. Mereka menghalalkan bangkai, darah dan judi, dan kesesatan serta kebatilan yang lain. Semua itu dibuat-buat secara bodoh oleh mereka, yaitu berupa penghalalan (yg haram), pengharaman (yang halal), ibadah-ibadah yang batil dan perkatan-perkataan yang rusak” (<em>Tafsir Al Qur&#8217;an Al Azhim</em>, 7/198)</p>
<p align="LEFT">Apakah anda tidak takut berbuat bid&#8217;ah? Padahal Allah telah mencap sesat orang-orang yang ketika tuntunan Islam sudah ada, mereka malah mempunyai pilihan lain. Bisa jadi pilihan lain ini datang dari ustadz-nya, <em>kiai</em>-nya, <em>syaikh</em>-nya, dari akalnya, atau dari yang lain. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا</p>
<p align="LEFT">“<em>Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu&#8217;min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu&#8217;min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, mereka memiliki pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata</em>” (QS. Al Ahzab: 36)</p>
<p align="LEFT">Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa&#8217;di berkata: “Tidak layak bagi seorang mu&#8217;min dan mu&#8217;minah, jika Allah sudah menetapkan sesuatu dengan tegas, lalu ia memiliki pilihan yang lain. Yaitu pilihan untuk melakukannya atau tidak, padahal ia sadar secara pasti bahwa Rasulullah itu lebih pantas diikuti dari pada dirinya. Maka hendaknya janganlah menjadikan hawa nafsu sebagai penghalang antara dirinya dengan Allah dan Rasul-Nya” (<em>Taisiir Kariimirrahman</em>, 665)</p>
<p align="LEFT">Apakah anda tidak takut berbuat bid&#8217;ah? Padahal Allah mengabarkan ada sebagian hamba-Nya yang berbuat kesesatan namun mereka merasa itu amalan kebaikan. Dan demikianlah bid&#8217;ah, tidak ada satupun pelaku bid&#8217;ah kecuali ia merasa amalan bid&#8217;ahnya itu adalah kebaikan. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا</p>
<p align="LEFT">“<em>Katakanlah: &#8220;Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?&#8221;. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya</em>” (QS. Al Kahfi: 103-104)</p>
<p align="LEFT">Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p align="LEFT">“<em>Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang bukan berasal dari urusan (agama) kami, maka amalan itu tertolak</em>” (<em>Muttafaq &#8216;alaihi</em>)</p>
<p align="LEFT">Sahabat Nabi, Abdullah bin Umar <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> berkata:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">كُلَّ بٍدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَة</p>
<p align="LEFT">“<em>Setiap bid&#8217;ah itu sesat walaupun orang-orang menganggapnya baik</em>” (Shahih, sebagaimana penilaian Al Albani dalam takhrij kitab<em>Ishlaahul Masajid</em> hal 13 milik Syaikh Jamaluddin Al Qashimi)</p>
<p align="LEFT">Tidakkah anda takut amalan-amalan yang anda anggap baik, padahal tidak ada tuntunannya dalam agama, kemudian anda mengamalkannya sampai berpeluh-peluh, ternyata hanya sia-sia belaka di hadapan Allah ? <em>Oleh karena itu saudaraku, takutlah kepada Allah dan jauhi perbuatan bid&#8217;ah.</em></p>
<p align="LEFT">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangaswad.wordpress.com/800/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangaswad.wordpress.com/800/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangaswad.wordpress.com/800/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangaswad.wordpress.com/800/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kangaswad.wordpress.com/800/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kangaswad.wordpress.com/800/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kangaswad.wordpress.com/800/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kangaswad.wordpress.com/800/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangaswad.wordpress.com/800/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangaswad.wordpress.com/800/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangaswad.wordpress.com/800/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangaswad.wordpress.com/800/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangaswad.wordpress.com/800/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangaswad.wordpress.com/800/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangaswad.wordpress.com&amp;blog=8489070&amp;post=800&amp;subd=kangaswad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangaswad.wordpress.com/2011/11/29/anti-bidah-karena-takut-kepada-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ed664ead9a91184cb40808b8b28e52f?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Aswad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jauhkan Diri Dari Hal Yang Mendatangkan Tuduhan</title>
		<link>http://kangaswad.wordpress.com/2011/11/28/jauhkan-diri-dari-hal-yang-mendatangkan-tuduhan/</link>
		<comments>http://kangaswad.wordpress.com/2011/11/28/jauhkan-diri-dari-hal-yang-mendatangkan-tuduhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Nov 2011 23:30:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kang Aswad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangaswad.wordpress.com/?p=823</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: "Tinggalkanlah hal-hal yang membuatmu perlu meminta udzur setelahnya" (HR. Dhiya Al Maqdisi dalam Ahadits Al Mukhtarah, 1/131)<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangaswad.wordpress.com&amp;blog=8489070&amp;post=823&amp;subd=kangaswad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align:right;font-size:18px;">وَإِيَّاكَ وَمَا يُعْتَذَرُ مِنْهُ</p>
<p>&#8220;<em>Tinggalkanlah hal-hal yang membuatmu perlu meminta udzur setelahnya&#8221;</em><br />
(HR. Dhiya Al Maqdisi dalam <em>Ahadits Al Mukhtarah</em>, 1/131; Ar Ruyani dalam <em>Al Musnad</em>, 2/504; Ad Dulabi dalam<em> Al Kuna Wal Asma&#8217;</em>; Dihasankan oleh Al Albani dalam <em>Silsilah Ahadits Shahihah</em>, 1/689)</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Faidah hadits</span></strong></p>
<ol>
<li>Al Munawi menjelaskan maksud dari كل أَمر يعْتَذر مِنْهُ adalah: &#8220;Setiap perkataan yang membuat anda akan perlu untuk meminta udzur karenanya&#8221; (<em>Faidhul Qadhir</em>, 3/117)</li>
<li>Dalam kaidah ushul fiqih, huruf ما adalah <em>isim maushul</em> yang menunjukkan makna umum. Sehingga hadits ini mencakup segala sesuatu baik perbuatan maupun perkataan. <em>Wallahu&#8217;alam</em>.</li>
<li>Sebagian ulama membatasi maknanya pada perkataan karena lafadz lain dari hadits ini berbunyi:
<p style="text-align:right;font-size:18px;">وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا</p>
<p>&#8220;<em>Jangan anda mengatakan sesuatu yang membuat anda akan perlu untuk meminta udzur (meralatnya) besok hari</em>&#8220;</li>
<li>&#8216;<em>Hal-hal yang membuatmu perlu meminta udzur setelahnya</em>&#8216; adalah setiap perbuatan yang jika dilakukan, atau perkataan yang jika dikatakan, kemungkinan besar di masa depan anda akan memohon diberi udzur karena telah melakukannya atau memohon diberi udzur karena telah mengatakannya. Misalnya seorang penjahit berkata kepada konsumennya, &#8220;<em>Insya Allah besok bajunya sudah jadi</em>&#8221; padahal dengan desain baju yang agak rumit dan antrian pekerjaan yang menumpuk ia masih ragu bisa menyelesaikannya besok atau tidak. Sehingga kemungkinan besar, si penjahit besoknya akan meminta udzur dengan berkata, &#8220;<em>Aduh maaf, ternyata kerjaan saya sedang menumpuk dan desain bajunya agak rumit, jadi belum selesai</em>&#8220;.</li>
<li>Termasuk juga dalam hadits ini, setiap perkataan dan perbuatan yang jika dilakukan akan mengundang buruk sangka dari orang-orang sehingga anda merasa perlu untuk memberikan penjelasan kepada orang-orang dan meminta udzur dari mereka. Misalnya anda, muslim yang <em>multazim</em>, membuat janji bertemu dengan seseorang di tempat konser musik. Meskipun anda datang ke sana bukan untuk menonton konser, namun bisa jadi ada teman anda yang melihat lalu berburuk sangka bahwa anda telah bermaksiat dengan menonton konser musik. Sehingga anda merasa perlu memberi penjelasan dan memohon udzur dari teman anda bahwa anda di sana bukan untuk menonton konser.</li>
<li>Seorang muslim hendaknya mempertimbangkan dengan bijak sebelum melakukan perbuatan atau mengatakan perkataan. Terkadang yang dilakukan atau dikatakan memang mubah namun dapat menimbulkan tuduhan, menjatuhkan wibawa dan menjerumuskan pada kemudharatan.</li>
<li>Al Munawi menukil perkataan bijak dari Dzun Nun Al Misri:
<p style="text-align:right;font-size:18px;">ثلاثة من أعلام الكمال: وزن الكلام قبل التفوه به ومجانبة ما يحوج إلى الاعتذار وترك إجابة السفيه حلما عنه</p>
<p>&#8220;Tiga hal yang merupakan tanda kesempurnaan (akhlak) : menimbang perkataan sebelum menjawab sesuatu, menjauhkan diri dari hal yang membutuhkan udzur nantinya, dan tidak menjawab omongan orang bodoh sebagai bentuk sikap lembut terhadapnya&#8221; (<em>Faidhul Qadhir</em>, 3/117)</li>
<li>Seorang muslim hendaknya berusaha tidak berada dekat-dekat atau melakukan hal yang mendekati sesuatu yang diharamkan agama, sebagaimana agama ini telah melarang umatnya dari perkara syubhat. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:
<p style="text-align:right;font-size:18px;">فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ، وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى، يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ، أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، أَلَا وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ</p>
<p>&#8220;<em>Siapa yang menjauhkan diri dari syubhat, sungguh ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Siapa yang terjerumus dalam syubhat, ia akan terjerumus dalam keharaman. Sebagaimana pengembala yang mengembalakan hewannya di dekat perbatasan sampai ia hampir saja melewati batasnya. Ketahuilah batas-batas Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya</em>&#8221; (<em>Muttafaqun &#8216;alaih</em>)</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangaswad.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangaswad.wordpress.com/823/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangaswad.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangaswad.wordpress.com/823/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kangaswad.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kangaswad.wordpress.com/823/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kangaswad.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kangaswad.wordpress.com/823/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangaswad.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangaswad.wordpress.com/823/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangaswad.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangaswad.wordpress.com/823/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangaswad.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangaswad.wordpress.com/823/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangaswad.wordpress.com&amp;blog=8489070&amp;post=823&amp;subd=kangaswad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangaswad.wordpress.com/2011/11/28/jauhkan-diri-dari-hal-yang-mendatangkan-tuduhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ed664ead9a91184cb40808b8b28e52f?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Aswad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dzikir Setelah Shalat Dengan Suara Keras</title>
		<link>http://kangaswad.wordpress.com/2011/11/17/dzikir-setelah-shalat-dengan-suara-keras/</link>
		<comments>http://kangaswad.wordpress.com/2011/11/17/dzikir-setelah-shalat-dengan-suara-keras/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 01:40:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kang Aswad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangaswad.wordpress.com/?p=805</guid>
		<description><![CDATA[Saya menginginkan penjelasan lengkap tentang masalah bertasbih dan berdzikir dengan bacaan "Laa-ilaaha-illallah" serta bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam setelah selesai shalat (fardhu) di masjid. Apakah dilakukan secara berjama'ah dengan suara keras ataukan sendiri-sendiri dengan suara lirih? Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangaswad.wordpress.com&amp;blog=8489070&amp;post=805&amp;subd=kangaswad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="font-size:18px;text-align:right;">سائل يقول : أرجو الإيضاح التام عن مسألة التسابيح والذكر بـ : لا إله إلا الله ، والصلاة على الرسول صلى الله عليه وسلم بعد الانتهاء من الصلاة في المسجد ، هل تكون جماعية وبصوت مرتفع أم على انفراد وبصوت منخفض ؟ جزاكم الله خيرا</p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Saya menginginkan penjelasan lengkap tentang masalah bertasbih dan berdzikir dengan bacaan &#8220;<em>Laa-ilaaha-illallah</em>&#8221; serta bershalawat kepada Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> setelah selesai shalat (<em>fardhu</em>) di masjid. Apakah dilakukan secara berjama&#8217;ah dengan suara keras ataukan sendiri-sendiri dengan suara lirih? Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan.</p>
<p><strong>Syaikh Abdul &#8217;Aziz bin Baaz <em>rahimahullah</em> menjawab:</strong></p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">التسبيح والتهليل بعد الصلاة مشروع للجميع ، كلهم يرفعون أصواتهم جميعا ، من دون مراعاة لأن يكون جماعيا ، كل يرفع صوته من غير مراعاة لصوت الآخر</p>
<p>Membaca tasbih dan tahlil setelah shalat itu disyari&#8217;atkan untuk semua orang. Setiap orang mengeraskan suara mereka dalam membacanya, tanpa diselaraskan sehingga suaranya bersamaan. Masing-masing orang mengeraskan suaranya tanpa perlu menyelaraskan dengan suara orang lain.</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">قال ابن عباس رضي الله تعالى عنهما : كان رفع الصوت بالذكر حين ينصرف الناس من المكتوبة على عهد النبي صلى الله عليه وسلم ، قال ابن عباس : كنت أعلم إذا انصرفوا بذلك إذا سمعته فابن عباس رضي الله عنهما بين أنهم كانوا يرفعون أصواتهم بعد السلام حتى يعلم من حول المسجد أنهم سلموا ، هذا هو السنة</p>
<p>Ibnu Abbas <em>Radhiallahu&#8217;ahu</em> berkata:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:center;">لكن ليس معناه أنه بصوت جماعي منظم ، لا ، بل هذا يذكر الله وهذا يذكر الله ، والحمد لله ، ومن دون أن يراعى صوت جماعي</p>
<p>&#8220;<em>Di zaman Nabi Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam, orang-orang biasa mengeraskan suara dalam berdzikir setelah selesai shalat wajib</em>&#8220;</p>
<p>Beliau juga berkata:</p>
<p style="font-size:18px;text-align:center;">كنت أعلم إذا انصرفوا بذلك إذا سمعته</p>
<p>&#8220;<em>Aku tahu bahwa mereka telah selesai shalat ketika aku mendengar suara (dzikir) mereka</em>&#8220;</p>
<p>Dalam riwayat ini Ibnu Abbas menjelaskan bahwa mereka (para sahabat) mengangkat suara mereka dalam berdzikir setelah shalat sampai-sampai orang yang berada di sekitar masjid mengetahui bahwa mereka sudah selesai salam. Inilah yang merupakan sunnah.</p>
<p style="font-size:18px;text-align:right;">لكن ليس معناه أنه بصوت جماعي منظم ، لا ، بل هذا يذكر الله وهذا يذكر الله ، والحمد لله ، ومن دون أن يراعى صوت جماعي</p>
<p>Namun bukan berarti dilakukan secara bersamaan dengan dipimpin. Bukan demikian. Bahkan yang benar itu, satu orang berdzikir sendiri dan yang satu lagi demikian. Cukup demikian, <em>Walhamdulillah</em>. Tanpa perlu menyelaraskan dengan suara orang banyak.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.alifta.net/fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=5&amp;View=Page&amp;PageNo=1&amp;PageID=1784">http://www.alifta.net/fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=5&amp;View=Page&amp;PageNo=1&amp;PageID=1784</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangaswad.wordpress.com/805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangaswad.wordpress.com/805/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangaswad.wordpress.com/805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangaswad.wordpress.com/805/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kangaswad.wordpress.com/805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kangaswad.wordpress.com/805/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kangaswad.wordpress.com/805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kangaswad.wordpress.com/805/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangaswad.wordpress.com/805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangaswad.wordpress.com/805/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangaswad.wordpress.com/805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangaswad.wordpress.com/805/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangaswad.wordpress.com/805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangaswad.wordpress.com/805/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangaswad.wordpress.com&amp;blog=8489070&amp;post=805&amp;subd=kangaswad&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangaswad.wordpress.com/2011/11/17/dzikir-setelah-shalat-dengan-suara-keras/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ed664ead9a91184cb40808b8b28e52f?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Aswad</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
